Kalah

Pemilu sela di Amerika Serikat baru usai kemarin. Hasilnya sesuai dengan dugaan (dan harapan?) banyak orang: Partai Demokrat mengungguli Partai Republik, baik di House ataupun Senat. Pukulan telak untuk George Bush junior, bahkan memaksa Donald Rumsfeld mundur dari posisinya di Pentagon. Sebelumnya, seruan untuk mengganti Rumsfeld sudah keras dan lama terdengar, tapi membutuhkan suara masyarakat melalui pemilu sela ini untuk meyakinkan Bush bahwa sebagian besar pemilih Amerika tidak menyetujui kebijakannya di Irak. Satu hal lain, pemilu sela kemarin mencatat untuk pertama kalinya tingginya angka youth voters alias pemilih muda. Jumlahnya yang meningkat drastis sedikit banyak menunjukan bahwa anak-anak muda yang cenderung apatis terhadap politik, kali ini beramai-ramai menggunakan hak pilih-nya, mendepak kekuasaan partai Republik di Kongres, terutama karena kebijakan Bush dan Partai Republik di Irak. Saat perang Vietnam dulu, kaum muda juga yang terutama menyuarakan suara keras anti perang betapapun Presiden Lyndon Johnson berusaha meyakinkan rakyat Amerika bahwa perang di Vietnam adalah hal yang perlu dilakukan.

Tapi tulisan ini tidak hendak membahas pemilu Amerika, terlalu banyak aspeknya. Lagipula, snapshots sudah banyak bertebaran di berbagai media dan juga internet. Yang ingin saya catat adalah penglihatan saya terhadap perilaku calon-calon anggota Kongres, baik dari Partai Republik atau Demokrat, yang menang dan yang kalah, dalam pemilu sela kemarin.

Satu tradisi panjang dalam politik di Amerika adalah penyampaian pidato kemenangan dan juga pidato pengakuan kekalahan pada setiap pemilu. Bukan cuma dalam pemilu legislatif, tradisi ini juga dilakukan dalam pemilu eksekutif saat memilih presiden atau gubernur. Di setiap distrik, pidato kemenangan atau pengakuan kalah biasanya segera dilakukan setelah hasil penghitungan suara diketahui. Jadi, kemarin malam itu saya nongkrongin televisi, karena menunggu-nunggu pidato kemenangan dan juga pengakuan kalah oleh berbagai calon, yang selalu menarik karena penuh dignitas dan jiwa besar.

Pemilu untuk memilih gubernur di beberapa negara bagian, termasuk Illinois, juga berlangsung bersamaan dengan pemilu sela legislatif kemarin. Pemenang gubernur di negara bagian Illinois adalah gubernur saat ini dari Partai Demokrat, Rod Blagojevich. Lawannya adalah kandidat Partai Republik Judy Baar-Topinka. Kampanye berlangsung keras dan tajam. Iklan saling memojokan tampil silih berganti sejak bulan lalu. Tapi saya terkejut mendengar pidato kemenangan Blagojevich di depan para pendukungnya yang disiarkan televisi. Dalam bagian yang saya tangkap Blagojevich bilang: ‘One thing I want to tell you about Judy Baar-Topinka, she loves our State, she loves Illinois. She would do anything to make the State of Illinois a better place to live. Judy Baar Topinka, thank you for being such a great competitor’. Di tempat lain, Judy Baar-Topinka lebih dulu menyampaikan pidato pengakuan kekalahannya. Dia mengucapkan selamat pada Blagojevich atas kemenangannya dan ucapan selamat bekerja.

Dalam pemilu presiden, tradisinya juga sama. Ada kebiasaan turun temurun, calon presiden yang kalah menelpon yang menang untuk mengucapkan selamat, baru setelah itu menyampaikan pidato pengakuan kekalahannya. Kalau ini sudah dilakukan, barulah calon yang menang menyampaikan pidato kemenangannya. Yang kalah dan menang sama-sama sportif, rasanya kultur yang perlu ditiru. Coba tengok negeri kita. Megawati kalah pemilu, lalu tidak mau bicara…he..he. Suharto mundur dari jabatan presiden diganti Habibie, lalu tidak mau bicara pada Habibie hingga sekarang (at least itu kata Habibie dalam memoarnya yang baru terbit dan membuat heboh itu). Lebih memalukan lagi, terkadang dalam kampanye berlaku agresif namun kalah pemilu, tetapi sesudahnya banyak parpol dan politisi kita yang kalah itu kasak kusuk dan merayu-rayu untuk tetap ikut berkuasa….

Ngomong-ngomong soal kekalahan, saya juga baru belajar bahwa kekalahan perlu dihadapi dengan jiwa besar, tanpa mengurangi dignitas. Di perpustakaan kampus tempat saya bekerja dalam proyek digitalisasi buku-buku tua, beberapa hari lalu saya menemukan bagian menarik dari sebuah buku yang sedang saya scan. Judul bukunya adalah “History of the Discovery and Settlement of the Valley of the Mississippi, karangan John W. Monette, M.D, diterbitkan lebih dari seratus tahun lalu (tahun 1846 oleh Harper & Brothers Publisher) di New York.

Bagian itu adalah tentang pengakuan kekalahan seorang kepala suku Indian bernama Weatherford. Dia dari suku Alabamons, bagian dari bangsa Indian Creek yang besar. Creek (dan suku lain termasuk Cherokee, Chickasa, dan Chocta) dikalahkan tentara Amerika di Fort Mims (negara bagian Georgia) di awal tahun 1800-an. Weatherford adalah seorang kepala suku Indian gagah berani, yang diakui kehebatannya dan ditakuti oleh tentara kulit putih. Di bawah ini saya kutipkan bagian menarik itu, yang menggambarkan saat-saat Weatherford akhirnya menyerahkan diri karena kalah perang, dan menyampaikan pidato singkat saat menyerahkan diri dihadapan panglima angkatan darat tentara Amerika saat itu, Jenderal Jackson. Bermartabat, sekaligus getir:

Vanguished, but not subdued, the proud warrior and fearless chief disdaining to be led a captive, boldly advanced through the American camp into the presence of his victorious enemy, surrounded by his staff officers, and bearing in his hands the emblem of peace, thus addressed General Jackson:

“ I am in your power, do with me as you please. I am a soldier. I have done the white people all the harm I could; I have fought them, and fought them bravely. If I had an army, I would yet fight, and contend to the last; but I have none; my people are all gone. I can do no more than weep over the misfortune of my nation. Once I could animate my warriors to battle; but I cannot animate the dead. My warriors can no longer hear my voice; their bones are at Talladega, Tallushatches, Emuckfaw, and Tohopeka. I have not surrendered myself thoughtlessly. While there were chances of success, I never left my post nor supplicated peace; but my people are gone, and I now ask it for my nation and for myself. On the miseries and misfortunes brought on my country, I look back with deepest sorrow, and wish to avert still greater calamities. If I had been left to contend with the Georgia army, I would have raised my corn on one bank of the river and fought them on the other; but your people have destroyed my nation. You are a brave man: I rely on your generosity. You will exact no terms of a conquered people but such as they should accede to; whatever they may be, it would be madness and folly to oppose. If they are opposed, you shall find me among the sternest enforcers of obedience. Those who would still hold out can be influenced only by a mean spirit of revenge; and to this they must not, and shall not, sacrifice the last remnant of their country. You have told us where we might go and be safe. This is a good talk and my nation ought to listen to it; they shall listen to it.

8 Tanggapan to “Kalah”

  1. HARUN Says:

    Wah saya kira beritanya benar-benar tentang pemilu sela, tapi bagus juga sich. Kayaknya negeri kita Indonesia ini memang miskin pemimpin kebanyakan yang ada cuma ketua/kepala gerombolan. jadi kerjanya cuma ngomporin masanya kalau tujuannya gak tercapai.

  2. Ireth Says:

    Permisi Mas Philips… cuma mau kasih tahu.. si Setiawan (spss.wordpress.com) itu sebenernya Mbak kok :D
    Makasih.. oya.. dan ga usah konfirmasi sama orangnya ^^; anggap saja saya sumber terpercaya :D Terima kasih.

  3. anick Says:

    lumayan, ada kemajuan design blognya
    :~)

  4. philips vermonte Says:

    Ireth, terimakasih pemberitahuannya. Bung, Anick, itu komentar pedes bener…:-)

  5. osterdal Says:

    what you’ve written is something interesting. i shared to all my american friends here. mereka suka sekali. mengakui kekalahan memang tidak gampang apalagi meng-ungkapkannya. and i am learning something from your writing. thanks.

  6. philips vermonte Says:

    Osterdal, thanks for visiting my blog. Glad if you find it useful…

  7. lepuspa Says:

    Org Amerika kan udah dari dulu suka begitu, buktinya org Indian yang diceritakan km jg sejak th 1800an udah begitu. Kalo kita kan… orgnya pada ‘pendiam’ mknya pengakuan kekalahan ga pernah terdengar (mungkin mempraktekkan ‘diam itu emas’..he..he..)

  8. philips vermonte Says:

    T’ Leni betul juga..:-) Thanks sudah mampir…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s


%d blogger menyukai ini: