Muhammad Yunus versus Pierre Omidyar

Hari Minggu kemarin kami ke toko buku Borders. Istri saya membeli sebuah novel, dua bocah juga dapat buku masing-masing satu. Saya sendiri beli majalah The New Yorker edisi terbaru baru. Saya sempat bingung, mau ambil The New Yorker, atau Harper’s (bukan Harper’s Bazaar itu..he..he) edisi terbaru. Di Harper’s itu ada tulisan panjang tentang Barack Obama, senator muda partai Demokrat asal Chicago (Illinois) yang cemerlang. Saat ini Barack Obama amat populer di Amerika. Banyak yang memperkirakan dia adalah salah satu calon kuat Presiden Amerika Serikat di masa yang akan datang.

Majalah The Economist edisi minggu ini memuat sebuah tulisan bertajuk “Obamamania”. Laporan utama Majalah Time edisi minggu lalu juga tentang Barack Obama. Menurut Time, Barack Obama harus maju bertanding dalam pemilihan presiden tahun depan. Saingannya sesama partai Demokrat tentu saja adalah Hillary Clinton yang sudah mengumumkan pencalonan dirinya. Minggu lalu Barack Obama membuat pernyataan pers bahwa dia ‘sedang menimbang untuk maju dalam pemilihan presiden yang akan datang”. Kalau dia maju, akan ramai. Walaupun banyak juga yang berpendapat bahwa waktu untuk Obama masih panjang, sebaiknya dia mematangkan pengalamannya di Kongres atau jabatan eksekutif.

Yang jelas, Barack Obama mungkin akan friendly dengan Indonesia. Barack Obama menghabiskan sebagian masa kecilnya di Indonesia, bersekolah SD di Jakarta. Juga masih bisa berbahasa Indonesia. Ayah kandungnya seorang ekonom asal Kenya, ibunya wanita Amerika. Orang tuanya bercerai, lalu ibunya menikah lagi dengan seorang Indonesia dan mereka tinggal di Jakarta beberapa tahun lamanya. Detik.com pernah memuat tulisan berseri online, hasil investigasi wartawannya tentang masa-masa Obama kecil tinggal di Jakarta. Mereka mewawancarai teman-teman sekolah SD dia di Jakarta, juga guru-gurunya.

Anyway, saya putuskan beli The New Yorker. Saya kena peraturan “each got one” alias satu orang cuma dapat jatah beli satu. Kalau saya beli dua items, dua bocah kecil saya itu masing-masing harus dapat dua items juga. Lagian bulan ini saya sudah cukup banyak juga beli buku. Bocah-bocah itu juga sudah belanja beberapa buku bulan ini. Namanya juga mahasiswa, kebijakan uang ketat…he..he.

The New Yorker adalah salah satu bacaan favorit saya. Dulu ada majalah Pantau yang berusaha menjadi seperti The New Yorker. Sayang Pantau tidak panjang umurnya. Padahal, menurut saya majalah Pantau bagus, saya suka beli dan baca di Jakarta.

Saya beli The New Yorker karena ada tulisan panjang tentang Muhammad Yunus, pemenang Nobel Perdamaian tahun ini. Muhammad Yunus, seorang ekonom Bangladesh yang sukses dengan Grameen Bank-nya, penyalur modal usaha untuk orang-orang miskin. Yunus dan Grameen Bank mematahkan banyak hal yang menjadi ‘pakem’ dalam dunia perbankan, terutama di negara berkembang. Grameen Bank dalam satu dekade terakhir telah menyalurkan 5,3 milyar dolar kredit usaha kepada orang-orang miskin, yang sering disebut sebagai micro finance. Kurang lebih 96 persen kredit usaha Grameen Bank itu disalurkan kepada perempuan. Menurut Muhammad Yunus, pemberian kredit usaha kepada perempuan adalah hal yang sengaja dilakukan karena kata dia ‘not only because they were more responsible about repaying the loans, but [also] because families benefited more when woman controlled the money’.

Yang lebih menarik sebetulnya adalah angle yang dipilih penulis tulisan ini. Penulisnya bukan membahas Muhammad Yunus an sich, tetapi dia memaparkan debat tentang micro financing yang melibatkan dua kutub pemikiran: pure do-gooders dan profit-minded do-gooders.

Muhammad Yunus masuk dalam kategori pertama, sangat dipengaruhi filantropisme alias semangat kedermawanan yang tinggi. Di masa-masa awalnya, Grameen Bank menerima donasi sebesar kurang lebih 150 juta dolar dalam bentuk soft loan dan grant. Uang itulah yang dipakai oleh Muhammad Yunus untuk memutar Grameen Bank. Sekarang, Grameen Bank membiayai dirinya sendiri, berkat keberhasilannya menyalurkan kredit produktif bagi nasabahnya, kelompok masyarakat paling miskin. Yunus ‘berteori’ bahwa, berbeda dengan kebanyakan pemikiran orang, orang-orang miskin justru adalah entrepreneur ekonomi sejati. Karena, apabila diberi modal, persoalannya bagi mereka adalah survival, karena itu mereka bersungguh-sungguh berusaha. Dan itu dibuktikan oleh Grameen Bank, tingkat kegagalan pembayaran kembali pinjaman oleh nasabahnya amat kecil.

Kelompok kedua, profit-minded do-gooders, juga menarik. Mereka juga filantropis, Salah satunya adalah Pierre Omidyar, yang pada tahun 1995 menciptakan mekanisme transaksi jual beli di internet, yang kemudian dikenal dengan nama e-Bay itu. Dalam tiga tahun, dia menjadi kaya raya, share-nya di e-Bay bernilai 10 milyar dolar (menurut The New Yorker tahun 1998 itu Omidyar adalah pria berumur 32 tahun terkaya di dunia…he..he).

The New Yorker menceritakan bahwa pada suatu sore di bulan November 2004, beberapa orang kaya filantropis ini berkumpul di sebuah rumah di California. Hanya ada beberapa orang yang hadir, plus satu tamu. Tuan rumahnya adalah John Doerr, seorang filantropis; lalu Pierre Omidyar, Sergey Brin dan Larry Page – duo pendiri Google. Tamunya adalah Muhammad Yunus. Mereka ini ingin minta pendapat Yunus mengenai microfinancing. Mereka ingin membantu dan menyalurkan uangnya.

Setelah Muhammad Yunus memaparkan pemikirannya, terjadi debat panjang antara Pierre Omidyar dan Muhammad Yunus. Omidyar berpendapat, pemikiran Yunus terlalu dilandaskan pada ‘kebaikan budi’. Omidyar ingin penerima kredit yang disalurkan melalui micro-finance betul-betul diperlakukan seperti client bisnis secara tough. Sementara, pemberi kredit juga sah saja mengkomersialisasikan micro-financing ini. Kira-kira intinya: berbisnis dengan orang miskin sah-sah saja. Pasti bisa, kata Omidyar. Semakin komersial, akan semakin sustainable dan justru lebih bermanfaat bagi orang-orang miskin dan ekonomi secara keseluruhan.

Pertemuan di California itu sebetulnya dimaksudkan untuk penggalangan dana bagi Grameen Bank yang dikelola Muhammad Yunus itu. Sembilan orang yang hadir setuju memberi dana untuk Muhammad Yunus. Terkumpul 31 juta dolar sore itu. Tetapi, Pierre Omidyar tidak ikut setuju.

Pierre Omidyar memilih jalannya sendiri. Dia kemudian memutuskan untuk menyumbang uang sebesar 100 juta dolar kepada almamaternya, Tufts University di Boston. Tufts University tentu gembira dengan endowment sangat besar ini, sekaligus pusing. Karena, Pierre Omidyar memberi syarat bahwa Tufts University harus menggunakan sebagian sumbangan ini untuk membentuk sebuah lembaga micro-finance untuk orang miskin dengan visi ala Omidyar, bukan ala Muhammad Yunus.

Menarik juga untuk menantikan kelanjutannya…

30 Oktober 2006.

9 Tanggapan to “Muhammad Yunus versus Pierre Omidyar”

  1. EwinKy Says:

    Muhammad Yunus itu kalo gak salah bukan pemenang nobel ekonomi, melainkan pemenang Nobel Peace Prize tahun ini. Kali ini penghargaan ini ingin menegaskan bahwa perdamaian itu hanya akan bertahan hanya jika kelompok luas masyarakat memiliki akses untuk bebas dari kemiskinan. Bagi Yunus sendiri, hadiah ini menjadi kesempatannya untuk merealisasikan impiannya mendirikan perusahaan low-cost high nutrition buat orang miskin bagi kaum miskin. Mulia banget ya?

    Btw, ada jalur untuk ngontak Barack Obama via e-mail gak?

  2. philips vermonte Says:

    astaga, betul. Thanks, langsung diralat (edit), Nobel Perdamaian…he..he. Lah, Barack Obama bukan temen kite, nggak ada email address nya……he.he.

  3. Ujang Says:

    Btw, Philips, try the Atlantic Monthly, I think you’ll like it too. Check out the back issues as well. I actually prefer it to the New Yorker.

  4. philips vermonte Says:

    Ujang, many thanks. I will check them out…

  5. EwinKy Says:

    Tulisan ini mengingatkan gw tentang usaha yg pernah lo dirikan di Jatinangor kalo gak salah sekitar 10-11 tahun lalu itu deh. Sayang, gak survive.

    Tapi ide-nya menarik banget dan melekat di kepala gw sampai sekarang. Selama ini gw masih coba untuk mengolah terus sambil menemukan apa kontribusi yang bisa gw lakukan dengan kapasitas gw.

    Sekarang sih lagi ada ide kecil yang temanya mungkin searah. Tentu gak mungkin seheboh Muhammad Yunus. Tapi butuh diasah dikit ama ente nih guru!

    Kita obrolin kalo lo ada waktu deh…

    Gw seneng lo nulis posting ini…

  6. HARUN Says:

    adeknya pa harto (probo) bukannya juga pernah bercita-cita kayak Muhammad Yunus dengan banknya yang dilikuidasi karena para petani yang dipinjeminnya pada gak ngelunasin akhirnya jadi kredit macet.
    rupanya ka’ philips juga pernah punya niat kayak Muhammad Yunus ya di jatinangor………..walau belum berhasil setidaknya sudah usaha. salut!

  7. Dino Says:

    Pak mo nanya. apakah microfinance bisa disamakan dengan BPR yang ada di Indonesia itu? Kalo iya, bukannya bunganya gede banget? thanks

  8. philips vermonte Says:

    Dino, saya nggak bisa jawab pertanyaannya, karena saya boleh dibilang tidak tahu apa tentang BPR. Anyway, thanks sudah mampir.

  9. boNIC Says:

    barack obama itu sekarang ini islam apa kristen, apa mungkin nanti kalau dia terpilih sebagai presiden amerika, kita(indonesia) dapat keringanan IMF,karena utang kita kan masih banyak?.tahank’s

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s


%d blogger menyukai ini: