Memori Aktifisme Mahasiswa

Barusan saya menerima sebuah kiriman dari Jakarta, dari pak Daoed Joesoef. Pak Daoed, sebagian besar orang tahu, adalah mantan Menteri P dan K (sekarang sebutannya Mendiknas) yang sering dianggap kontroversial itu. Pak Daoed ikut serta mendirikan dan aktif juga di CSIS.

Ketika saya pulang sebentar ke Jakarta bulan Juli lalu, saya bertemu pak Daoed. Kebetulan ada perayaan ulang tahun ke 80 pak Daoed di CSIS. Setelah kembali ke Dekalb, saya diberitahu bahwa pak Daoed akan kirim sesuatu untuk saya. Saya kira yang akan dikirim adalah biografi pak Daoed, yang ketika acara ulang tahun itu masih dalam proses pencetakan.

Ternyata, yang dikirim pak Daoed bukanlah biografi. Tapi copy dari dua buah buku tulisannya yang diterbitkan tahun 1991. Isinya  mengenai bagaimana Islam memberi tempat yang tinggi bagi akal dan ilmu pengetahuan. Buku pertama judulnya “Bacalah”, buku kedua judulnya “Isra’ dan Mi’raj serta pesan-pesan Ilahiah”. Dua buah buku ini adalah kumpulan karangan (pidato, ceramah dan artikel di koran) pak Daoed. Selain itu, Pak Daoed juga menyertakan  dua lembar kertas berisi lukisan kaligrafi hasil coretan tangan Pak Daoed berjudul “Iqra’, Bacalah!” Mungkin tidak banyak orang tahu bahwa Pak Daoed adalah seorang pelukis, malah memulai karirnya  sebagai pelukis di Jogja di masa perjuangan kemerdekaan.

Saya akan segera mengirim surat ucapan terimakasih kepada pak Daoed di Jakarta, sekaligus ingin bertanya juga mengapa pak Daoed terpikir mengirim dua buku dengan topik ini. Mungkin tahu dosa saya makin tak terhitung, sementara amal makin tipis, pak Daoed mau mengingatkan agar saya tidak semakin error…he..he.  Hal semacam ini yang saya sukai di CSIS, kultur kekeluargaan yang tinggi. Saling mengirim buku, cendera mata atau hadiah-hadiah kecil adalah kebiasaan di CSIS.

Ketika menjadi menteri P dan K (1978-1983), kebijakan pak Daoed banyak dinilai kontroversial. Dua hal yang diingat orang banyak adalah pelarangan libur sekolah saat Ramadan, dan kebijakan NKK-BKK di kampus perguruan tinggi.

Kalau dipikir-pikir sekarang, memang Ramadan tidak perlu libur. Di masa Gus Dur, selama bulan Ramadan sekolah diliburkan. Tapi sepertinya lebih banyak anak sekolah yang menghabiskan waktu di mall-mall hingga sore. Mungkin mereka tawaf di mall, kalau belum tujuh putaran mengelilingi mall, anak-anak sekolah itu belum mau pulang….he..he.

Soal NKK-BKK, saya hanya mengalami penghujung  dari masa NKK-BKK, karena baru mulai kuliah awal tahun 1990-an di Bandung.  Selama NKK-BKK diberlakukan, praktis organisasi mahasiswa intra kampus (senat mahasiswa) mati. Memang NKK-BKK dimaksudkan agar mahasiswa jauh dari politik praktis.

Setelah saya masuk CSIS tahun 2001 dan kenal dengan pak Daoed, saya pernah bertanya langsung bagaimana dia bisa sampai pada kesimpulan perlunya NKK-BKK. Ketika saya bertanya itu (sekitar tahun 2002 atau 2003), tepat ketika majalah Tempo mengeluarkan edisi khusus mengenai Bung Hatta.  Kami peneliti CSIS yang muda-muda sedang ngobrol-ngobrol santai membahas edisi khusus itu. Kebetulan pak Daoed ikut dalam obrolan itu. Menjawab pertanyaan tadi, pak Daoed bilang bahwa dia ingin mengarahkan mahasiswa Indonesia menjadi pemikir-pemikir yang tajam, seperti Bung Hatta. Jadi  konsentrasilah belajar, bukan berpolitik di dalam kampus, begitu kira-kira jawabannya. Saya memahami uraian pak Daoed itu. Walaupun mungkin ada satu hal yang pak Daoed lupa, Bung Hatta semasa mahasiswa nya adalah aktifis politik di Belanda, sekolahnya pun bahkan tertunda kelulusannya.

Tahun 1990, Menteri P dan K Fuad Hassan, mengeluarkan SK 0457 yang merupakan semacam “pencabutan’ terhadap aturan NKK-BKK. Senat Mahasiswa  boleh didirikan kembali (artinya lengkap dengan organ eksekutif dan legislatifnya). Tetapi tetap tidak bisa kembali seperti sebelum masa 1978, ketika Dewan Mahasiswa berkedudukan sejajar dengan Rektor. Menyikapi SK ini, kampus-kampus terbelah: ada yang menerima dan segera membentuk Senat Mahasiswa lengkap dengan organnya; ada yang menolak mentah-mentah; ada yang pikir-pikir dan kemudian menerimanya.

Yang menerima dan segera membentuk adalah UGM. Juga UI. ITB menolak mentah-mentah. Universitas Padjadjaran tempat saya kuliah, mendiskusikannya panjang. Karena di Unpad, senat mahasiswa tingkat universitas tetap berjalan, yaitu ketua-ketua senat mahasiswa tingkat fakultas berkumpul di tingkat universitas membentuk entitas yang bernama Presidium, yang menjadi lembaga super (di fakultas menjadi lembaga eksekutif, di tingkat universitas menjadi semacam ‘legislatif’).

Akhirnya (kalau tidak salah ingat tahun 1992), Unpad menyelenggarakan pemilu langsung mahasiswa (artinya menerima SK 0457 itu) untuk memilih ketua Pengurus Harian  (PH alias lembaga eksekutif, sekarang namanya BEM). Seru juga ketika itu. Teman saya dari Fisip  memenangkan pemilu raya pertama  itu. Kami lalu sangat antusias dan bergairah untuk memulai dinamika baru kemahasiswaan: mengelola lembaga eksekutif tingkat universitas dengan dana kegiatan kemahasiswaan yang cukup. Rapat kerja segera diselenggarakan, kepengurusan dan program setahun segera tersusun dan siap dijalankan. Kuseryansyah yang baru terpilih itu, menawari saya ikut dalam kepengurusannya. Tapi saat itu saya lebih tertarik ingin belajar menulis dan  membangun majalah mahasiswa Fisip yang baru kami dirikan .  Lagian, saya anak kemarin sore , baru duduk di semester dua atau tiga waktu itu.

Kuseryansyah  menyarankan saya pergi ke UGM, belajar cara mengelola pers mahasiswa dan sekalian mencari tahu pengelolaan Senat Mahasiswa yang sudah lebih dulu berjalan baik di sana. Saya lantas pergi ke Jogja, berkenalan dengan teman-teman pengelola majalah mahasiswa UGM yang namanya Balairung dan koran mahasiswa Bulaksumur (UGM memang  jauh lebih maju dari kampus lain di Indonesia dalam hal pers mahasiswa saat itu).

Saya juga berkenalan dengan ketua Senat Mahasiswa UGM waktu itu,  Anies Baswedan dan kepengurusannya. Lalu diskusi panjang lebar soal dinamika kemahasiswaan di UGM.

Bertahun-tahun kemudian saya malah berteman lebih dalam dengan Anies Baswedan di Dekalb sini,  sama-sama belajar di NIU. Sekarang mas Anies sudah selesai studi doktoralnya, dan sudah pulang ke Jakarta.

Kembali ke Unpad, sialnya, ketua PH Senat Unpad yang terpilih langsung itu tiba-tiba di demo sekelompok mahasiswa.  Tuduhannya galak juga, PH dianggap merupakan kelompok ‘kiri’ dan mereka menuntut pengunduran diri (atau menuntut pemilu ulang, saya tidak terlalu ingat lagi). Yah, kalau baca-baca buku kiri, kami memang hobi waktu itu. Tapi kan bukan cuma buku-buku kiri yang kita baca…namanya juga mahasiswa sospol.

Presidium (ketua-ketua senat Fakultas – lembaga eksekutif – yang menganggap diri sebagai legislatif di tingkat universitas itu) sepertinya berpikiran sama dengan para pendemo. Presidium memang tidak membatalkan hasil pemilu, tapi mereka mengubah AD/ART. Kewenangan ketua PH yang baru dipilih langsung oleh mahasiswa Unpad itu dipangkas sana-sini, menjadi kerdil.

Berhari-hari kami (saya ikut, karena logika Presidium sama sekali tidak masuk akal saya waktu itu) berdebat dengan Presidium, siang dan malam, menolak hal itu. Akhirnya, yang terjadi adalah deadlock. Macet. Frustasi  melanda pengurus PH, tapi tidak melanda Presidium, karena sepertinya memang deadlock itu yang minimal ingin dicapai oleh Presidium.

Itu exposure pertama saya pada politik riil, miniatur politik nasional kita. Konsisten dengan literatur soal proses transisi demokrasi yang banyak saya baca sekarang. Salah satu sebab kegagalan konsolidasi demokrasi di negara-negara yang sedang melaksanakan transisi menuju demokrasi  adalah bahwa hasil dari pemilu yang demokratis tidak dihormati, dimana kelompok yang tidak puas tidak sabar menunggu pemilu berikutnya. Dalam konteks situasi kami ketika itu, malah Presidium boleh dibilang menegasi pemilu yang mereka persiapkan dan laksanakan sendiri.

Sekarang kalau kumpul-kumpul lagi dengan mantan pengurus PH itu , kami sering tertawa bersama mengingat peristiwa-peristiwa dulu itu. Buat saya betul-betul itu masa pembelajaran yang sangat berarti. Selain itu, setelah perdebatan panjang dan melelahkan itu, saya malah bersahabat baik dengan para pendemo dan juga beberapa anggota Presidium itu, hingga sekarang.  Tapi, pak Daoed betul juga. Kalau kebanyakan intrik, mahasiswa nggak akan sempat belajar.

21 Tanggapan to “Memori Aktifisme Mahasiswa”

  1. Widya Says:

    Dear PJV,

    Wah jadi terkenang juga dengan masa lalu nih. Saya walaupun memilih untuk tidak terjun langsung ke dalam “politik praktis” kampus tetapi tetap mengikuti perkembangannya, maklum saya “terpaksa” harus ngikut pak Daud Joesoef (DJ), karena “mendua hati”, kuliah di Unpad dan ITB jadi nggak cukup realistis bila saya juga menanggung tgg.jawab menegelola organisasi.

    Saya mungkin pada waktu itu dekat dengan kelompok yang berseberangan dengan Kus dan PJV, dalam beberapa hal saya berseteru dengan kubu dan kepentingan politik PJV. Misalnya dalam pemilihan ketua senat FISIP, saya yang anggota HMI tentu mendukung kawan saya yang HMI walaupun itu berarti berseberangan dengan kawan saya dari jurusan yang sama dengan saya HI tapi bukan HMI.

    Meskipun kami akhirnya menang, jagoan saya –saya kebetulan termasuk anggota tim sukses– ada kekecewaan yang saya dapat. karena anggota tim kami melemparkan isu atau bahkan mungkin fitnah yang menyerang pribadi pesaing jagoan kami. Isu itu sangat efektif… isu Kiri Vs Kanan. Tentu saja isu Kiri-Kanan pada saat itu -tahun 90-an maih cukup relevan dalam kehidupan politik.

    Tapi puji Tuhan, saya dengan kawan saya yang jadi lawan politik kami tersebut masih bersahabat sebagai manusia, kami masih bisa bersenda gurau, bertukar pikiran.

    Dalam konteks universitas kami dan kelompok Bung PJV juga pernah melakukan “demonstrasi” dengan manajemen aksi yang sama, satu manajemen. padahal sebelumnya hal itu tidak pernah terpikirkan. Menariknya Kus, yang Bung PJV sebutkan itu, adalah senior saya di HI, dalam aksi tersebut bersedia bergabung dalam aksi yang kami desain. Sungguh indah.

    Kalau Bung PJV memang trademark-nya pemikir-ilmuwan, tapi mau juga turun ke jalan.

    nah zaman telah berubah, isu Kiri-Kanan walaupun sedari dulu pun tidak pernah relevan dalam pandangan saya, kini secara luas tidak menjadi topik baru lagi di kalangan aktifis mahasiswa.

    Entah apa sekarang topik atau lakon yang akan mengemuka, apakah Pluralisme Vs Puritanisme, atau apa ? Entah lah…
    Tapi bagi saya dialektika, apapun topiknya bagus untuk digulirkan sejauh hal itu tidak berujung pada penggunaan kekerasan dan penindasan, penghinaan dan pendzaliman.

    Alangkah indahnya bila seorang ateis bisa bersahabat dengan seorang teis dalam hal mensejahterakan manusia, bukankah keduanya setuju. Berdebat hebat boleh dilakukan tapi tidak boleh mencederai kemanusiaan.

    hati boleh panas….
    tapi Kulkas tetap dingin…

    Hehehehe

  2. nant's Says:

    Iya tuh. Tapi kalo gue sih inget pesen si boim (94) aja pas masuk HI Unpad, “nanti kita bisa milih jadi akademisi, praktisi atau hybrid dari keduanya.” Dasarnya gue yang sedari SD telah membenci orang yang kutu buku abis tanpa melek lingkungan. Kuliah pun gw anggap gak berubah dari zaman TK: belajar dan bermain. Ruang kelas, nanang’s corner dan ruang lembaga kampus serta ruang raya sejagat Bandung adalah sebuah totalitas belajar ala mahasiswa.

    Kalo soal NKK-BKK gue cuma ikutan cawe-cawe waktu diajakin TPPL bikin “KEMA”. Di situ gue sempet nemuin pengalaman yang bikin cekikikan dan membuktikan asumsi gue soal mahasiswa kutu buku gak melek sosial. Da Yopi pas lagi rapat dengar pendapat menjelang lokakarya pembubaran Senat Unpad ditanya sama Ketua Senat Kedokteran,”Apa perlu kita mengubah dan membubarkan Senat?” Pertanyaan mendasar yang sebenernya layak dan patut dikemukakan itu menohok Da Yopi. Gimana enggak? itu pertanyaan muncul ketika TPPL telah berjalan lebih dari 5 bulan, dan acara besok itu adalah the last second dari sekian rangkaian kerja yang udah di programkan. Yang ada jawaban Da Yopi adalah,”kalau pertanyaan itu masih ada, buat apa saya menunda skripsi saya dan berkonsentrasi pada program ini? kemana hasil kerja yang telah dilaksanakan kemarin itu?” hahaha yang ada gue semakin semangat makan gorengan untuk menghindari ancaman bakal sia-sia sudah cawe-cawe dalam program ini hahahah minimal kolesterol dan kepedesan pernah gue rasain gitu loh… Selain itu gue sepenuhnya menyalahkan Si Ketua Senat yang pertanyaannya telat dan mendukung Da Yopi. Terlalu sibuk berkutat dengan diktat nampaknya, sehingga telat melayangkan pertanyaan yang menohok eksistensi kerja TPPL dia itu.

    Di sisi lain, gue juga mengkritik Mahasiswa yang kebanyakan beraktitfitas tapi kurang mengasah analisa berpikirnya. Mahasiswa model begini kecenderunganya jadi bombas dan gak tepat sasaran kalo bikin program. Retorika kemana-mana tapi tindakan jauh api dari panggang. Gue nemuin ini di Polar. Pernah mengalami pertanyaan yang mengaitkan perhitungan berapa jumlah oplah yang akan dicetak dengan moral? Apakah mencetak lebih sedikit dengan pertimbangan menjaga modal dan kelanjutan penerbitan menjadi tidak bermoral seperti retorika pertanyaan yang pernah gue dapat itu. (hehehe ini model berpikir kacamata kuda yang tidak kontekstual). Dia cuma menghitung pada jumlah oplah yang perhitungan distribusinya juga belum matang dibandingkan kelanjutan eksistensi majalah kampus yang senin-kamis. Gue yang berpendapat moralitas yang harus ditempatkan pada penggunaan dana seefektif dan seefisien mungkin demi “perjuangan” kehidupan majalah “pokoknya laris” itu kontan mendelik dengan pendapat yang bernada mengkhotbahi itu.

    Semangat untuk radikal dan berani tanpa hitungan yang jelas semakin gue dapatin di Polar dengan puncaknya waktu Polar di-“bredel” sama PD III. Kebanyakan pendapat menjurus pada konfrontasi tanpa menghitung kalkulasi yang akan didapat dari rangkaian tindakan yang disusun. Kalo gue menimbang tujuan dulu, cara menyesuaikan, tujuannya adalah meningkatkan pamor Polar pada posisi semula tanpa mengorbankan banyak pihak yang gak perlu. Diplomatis ketimbang konfrontatif gak jelas. Win-Win Solution dari pada logika martyr yang hipokrit. Namun yah itu, pendapat semacam gue cuma diusung oleh tiga orang: Gue, Alin, dan Da Yopi. Tiga-tiganya anak HI. (Nyerep juga semangat dari seni berdiplomasi sama tiga orang murid Sinuhun Suwardi Wiriaatmadja yang didapat tanpa sadar itu). Al hasil, demi menghormati demokrasi, yang biasanya diartikan populisme semata, pendapat kami tidak jadi keputusan.

    Al hasil ketika di Polar jaman gue, bukan tulis menulis yang dominan, melainkan politik praktis yang gak jelas kalkulasinya. Bombas dan jauh dari profesionalisme kerja yang mempertahankan ke-cihuy-an dan ke-ceria-an seperti layaknya masyarakat tatar sunda yang beuki heureuy deh.

    Begitu juga waktu BPM jaman gue berselisih dengan Senat semata isu organisasi. Isunya di-blow up gak jelas jadi isu kiri-kanan. Gue sebagai orang yang akrab secara pribadi deket dengan anak-anak KAMU (yang konon dicap kiri), terlebih ketua BPM memang koordinator KAMU, jadi kebawa-bawa. Gue pernah jelas bilang ideologi gue sebagai Sekum BPM adalah “FISIP”. Artinya profesional dan organisasional semata, eh dikira gak jelas malah. hahaha Ujung-ujungnya ada lobi untuk me-recall gue sebagai wakil HI oleh kubu seberang ke Ketua HI langsung kekeke. (masih mahasiswa ketika kebutuhan perut belum mendesak sudah bisa begitu yah? semoga orang-orang itu sekarang lebih dewasa dalam berpolitik hahahaha). Ujung-ujungnya informan gue malah dari kubu anak Mesjid kekeke inilah untungnya jadi orang profesional: berdiri diatas semua pihak tanpa takut terkotak-kotak.

    Yah, akhirnya bila boleh mengomentari diri sendiri. Gue lebih senang jadi mahasiswa yang hore-hore dengan tetap punya kepekaan sosial. Gue bersyukur ketika kuliah di HI Unpad hidup di tengah angkatan yang pola pemikiran dengan keragaman tinggi. Ada yang nyeleneh, birokratis, bisnisman, namun tetep bisa baur dan mengisi kelebihan dan kekurangan teman ketika kerja tim. Lebih senang ketemu dengan manusia dengan beragam isi kepala dan menilainya sebagai karunia. Tetap bersama dalam keragaman.

    Gimana Lip?

    Nant’S – You have to read much but not just many books

    NB: ini sekalian panjang buat bayar utang nulis di blog yang pernah lo tawarin itu yah!

  3. arimgn Says:

    astaga. you guys are getting old. ini udah kayak mau nulis biografi aja sih? ayo, get back to our campus, the students need you badly! Jangan gue ama widya aja yang bergerilya disana dong :)

  4. EwinKy Says:

    Oh iya ya, sekarang anak buahnya
    Daoed Joesoef… huehuehue…

  5. Tatat Says:

    Setau saya, sampe sekarang isu kiri-kanan masih sering dipake di politik kampus. Biasanya ya dipake buat menggalang dukungan, dan masih lumayan ampuh. Terus ada juga isu hedonis-idealis, dll. Tapi terus terang saya kurang suka berpolitik di kampus, soalnya teman jadi lawan, lawan jadi teman. Kenapa ga semuanya jadi teman aja? Mungkin karena saya masih terlibat di dalamnya dan belum bisa mengenangnya sambil tersenyum seperti Kang Phillips dan Pak widya.

  6. philips vermonte Says:

    to Widya: pantesan, waktu itu suara dari HI kurang dua. Rupanya, salah satunya suara ente, satu lagi pasti si Yoyon…he..he..he..

    to Nanto: setuju lah bung sama uraian mu itu…

    Tatat: ya begitulah…kita yang makin tua begini paling cuma bisa bilang: where are those gold old days?..he..he…

  7. working class Says:

    waktu zaman bung hatta banyak intrik juga nggak ya? mustinya bung hatta yang (kelihatannya) center- left itu ada saingan juga dari far left atau far right?

  8. Rella Says:

    ko dr dulu prmasalahan aktivitas beginian klasik ya?? kiri-kanan, rohis-hedonis, bla..bla.. Kpn seleseinya nih, pa widya? (menurut asumsi positivis..hehe)

  9. Anas Says:

    Tapi emang kalo udah nggak mengalaminya kita jadi kangen… tapi bayangin gimana tegangnya waktu itu dan pusing untuk mencari solusi atau biar selesai secepatnya… =) tapi kalo dirasa2, intrik2 organisasi mahasiswa kok makin lama sudah tidak terlalu heboh ya… apa karena udah ga mengalaminya aja ya?
    Pengalaman Berharga… pengen jadi Mahasiswa Baru lagi nih… hehehe

  10. enda Says:

    Nimbrung mas, ikut nostalgia. :D

    Sampai jaman saya (1994-1999) di ITB kami masih bangga sebagai satu2xnya kampus yang menolak produk pengibirian aktifitas mahasiswa *hehehe* Rasanya masih hapal dulu kami membahas dan disuruh mempelajari sejarah kemahasiswaan dari NKK-BKK hingga SK 0457 tersebut oleh senior2x.

    Dunia kemahasiswaan ITB praktis dipimpin oleh Forum Ketua Himpunan Jurusan (FKHJ), dimana saya ikut nimbrung disitu sebagai ketua Himpunan Mahasiswa Sipil.

    Melihat kebelakang skrg, memang ada kekurangan dari skema kepemimpinan kolektif seperti itu, tidak ada tindakan yang bisa dilakukan karena tidak ada organisasi terpusat dan tidak ada posisi yang bisa dikedepankan seperti mas Anies di UGM (kebetulan saya kenalan dengan mas Anies di Asia 21 Summit di Seoul Nov lalu).

    Dan hal tersebut bukan tidak kami pikirkan, saya cukup beruntung jaman itu mengalami banyak dinamika, kita berhasil membangunkan kembali organisasi terpusat ITB dengan nama Keluarga Mahasiswa ITB (KM ITB) untuk yang pertama kalinya, pemilu dan kepemimpinan KM sempat berlaku di masa-masa akhir saya di kampus.

    Cukup beruntung juga mengalami masa kejatuhan Soeharto ketika masih di kampus, termasuk berangkat ke DPR, walau tidak membawa nama institusi.

    Sejak itu, sampai sekarang rasanya, masalah yang dialami teman-teman di kampus rasanya masih berkutat pada independensi organisasi kemahasiswaan, tapi sudah lumayan lama tidak terdengar hal2x baru, mudah-mudahan semua baik2x, rasanya generasi mahasiswa juga sudah berbeda dengan karakter yang baru mencari jalannya sendiri lagi.

  11. philips vermonte Says:

    Bung Enda, salam kenal. Wah kehormatan nih blog saya di kunjungi ‘bapak blogger Indonesia’…:-)

    Memang dunia mahasiswa banyak dinamikanya, dan mungkin tiap generasi ada persoalannya sendiri-sendiri. Yang penting kita butuh orang seperti profesor Koesnadi itu yang bisa menyelami jiwa dan energi mahasiswa..

    salam

  12. DENI Says:

    kenangan sewaktu terlibat di dunia mahasiswa emang indah sekaligus memalukan ….. masa aktivis dulunya sekarang ….

  13. yuli Says:

    saya sendiri mungkin termasuk angkatan muda. Sekarang saya masih terlibat aktif di Dewan Perwakilan Mahasiswa (DPM) tingkat Universitas. Pengalaman aktif di lembaga mahasiswa sebenarnya pengalaman bernilai. hal terpenting, yaitu melatih diri kita untuk belajar bekerja sama dengan orang lain. Bekerja sama dengan orang lain, tidak mudah lho. apalagi bekerja dengan satu tim. semua orang punya mimpi dan bagaimana menjadikan mimpi pribadi itu menjadi
    mimpi bersama atau “mimpi kolektif”.

    Politik kampus juga sekaligus mengajari saya tentang banyak hal. punya kepentingan itu pasti. tapi, belajar mengakomodir kepentingan siapa pun, termasuk pihak birokrasi itu lebih penting lagi.

    wah pokoknya saya benar-benar beruntung bisa diberi kesempatan bisa dekat dengan kehidupan mahasiswa. Semoga bisa menambah semangat untuk tidak pernah berhenti belajar. “Never ending Learning”

  14. indira Says:

    saLam kenaL…
    sebeLumnya menaRik sekaLi membaca posting anda menGenai organisasi kemahasiswaan di era tahun 90an.
    kebeTuLan saya ingin menulis *lebih tepatnya ini merupakan tugas penuLisan IndepTh RePorting, saya mahasiswa komunikasi UPN Jogja semester 6, dengan konsentrasi JuRnaListik* mengenai organisasi kemahasiswaan.
    saaT ini daRi kaca mata saya mahasiswa sekarang cenderung apaTis, dan kurang tertarik dengan yang namanya organisasi kemahasiswaan.
    Hal ini terlihat saaT pemilihan keTua HMJ Komunikasi periode 2006-2007 beberapa buLan yang lalu, tidak lebih dari 50% mahasiswa komunikasi di UPN jogja yang ikut mencobLos pada pemiLihan tersebuT, padahal sosialisasi sudah diLakukan. Nah, perTanyaan saya bagaimana anda meLihat oraganisasi mahasiswa saat ini dengan jaman anda duLu?mohon jawabannya. bisa ke email saya :desy_vouckxie@yahoo.com
    aTas bantuannya saya ucapkan terimakasih

  15. philips vermonte Says:

    Indira, sebetulnya sama saja keadaannya. Kalau orang-orang ‘kiri’ percaya bahwa dalam setiap komunitas itu selalu ada ‘creative community’ yang minoritas. Tidak mungkin seluruh komunitas aktif. Coba cari-cari bacaan yang ditulis Mancur Olson, mengenai problem of collective action. Soal pemilu, banyak orang berpikir bahwa suara dia tidak berarti (karena cuma satu suara, ngapain bela-belain ikut nyoblos, toh nggak berarti)…artinya, orang bertindak karena insentif. Kalau tidak melihat dan merasa dampak langsung untuk dirinya, ya nggak akan bertindak.

    pjv

  16. Bang As Says:

    Wah, rupanya PJV pernah mampir ke “kantor kami” di B21 (Balairung), hehehe… Diran juga alumni Balairung tuh

  17. aditthegrat Says:

    Maksih tulisannya, lagi nyari-nyari ttg NKK/BKK nih. Ada rekan di Malaysia yang minta. Kondisi di sana masih ngeri banget lho normalisasi kampusnya!

    Lagi nyari aturan2 yang diberlakukan waktu itu. Seingatku dosen senior plano ITB nyebutnya “masa pembodohan dimana berkumpul lebih dari 3 orang tak bisa dan kampus disusuki tentara…”

    Aku pemuda yang bakal masih mengingat jasa Soeharto yang satu ini!

  18. pipit Says:

    wah.. kawan-kawan mahasiswa yang aktif di tahun pemberlakuan NKK/BKK mungkin bisa bantu saya menceritakan tentang kondisi berorganisasi di kampus terutama di IKIP Jakarta pada saat itu. kebetulan saya sedang skripsi dan ada salah satu bab yang membahas tentang kehidupan berorganisasi mahasiswa yang dibagi ke dalam tiga masa, diawali dari masa pemberlakuan NKK/BKK.

  19. lily Says:

    kang philip saya lily hi unpad ’05.
    kirain akang tipe2 study oriented yg ga pernah mau ikutan aktif di organisasi mahasiswa atau apapun bentuk kegiatannya. ternyata…
    anyway, kok saya merasa kalau politik seperti tahun 90-an kurang terasa lagi di kampus yah? atau mungkin karena saya lebih aktif di HIMA dan FKMHII daripada di Fakultas atau Universitas. klo di FKMHII sih masih kerasa ada beberapa universitas yg emang wataknya keras dan suka beraktif-aktif ria di kancah politik ky demo dll. tapi di UNPAD sekarang lebih suka ngadain acara seminar & pentas seni (klo yg ini bawaan SMA). saya bersyukur jadi mahasiswa di jaman ini. banyak sekali acara yg menunjang kuliah. tiap organisasi mahasiswa berlomba-lomba bikin seminar dg kelebihan masing2. mulai dari formatnya, temanya, sampai pembicaranya.
    jadi yg dibilang aktifis kampus sekarang bukan lagi cuma yg hobi demo, ikut politik kampus yg serem2 tapi lebih ke arah panitia event yg kebanyakan masih related ama kuliah.
    mungkin angkatan yg sekarang2 kurang melihat insentif dari berpolitik yg jor-joran bgt di kampus. untuk hal itu, kita harusnya senang atau khawatir yah??

  20. arroyani Says:

    sekarang mulai diberlakukan lagi di tempat saya.
    innalillahi

  21. nant's Says:

    Lip, kemaren ada yang kelupaan tuh. Gue pas telpon-telponan sama Anto KS 93 yang mantan Lay Outer Polar dulu, kepikiran buat ngumpulin para kru Polar. Dia juga sempat kontak, pas sebelum gue telpon, sama Billy yang di Medan. Sementara ini soal kumpul aja. Dia kasih usul bulan puasa ntar. Lo ada di Indo gak pas sekitaran bulan puasa?

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s


%d blogger menyukai ini: