Corn Fest dan Bacaan Kuliah Minggu Pertama

Kuliah sudah berjalan lagi dua minggu. Semester musim gugur, setelah tiga bulan libur panjang musim panas sejak Mei. Kembali pada rutinitas: kelas, paper, readings, diskusi.

Sehari sebelum kuliah mulai lagi, kebetulan di Dekalb ada acara tahunan yang namanya lucu: Corn Fest. Daerah Dekalb memang salah satu penghasil jagung utama di daerah Midwest. Dalam tiap Corn Fest, pasti ada konser musik. Tahun ini yang konser adalah band musik rock, namanya Survivor.

Mereka yang besar tahun 1980-an, pasti kenal band ini. Banyak lagunya menjadi hit klasik. Misalnya Eye of the Tiger, yang dulu dijadikan theme song film Rocky yang dibintangi Silvester Stallone itu. Juga ada Search is Over, lagu balada rock. Survivor menyanyikan lagu-lagu klasik mereka itu. Masih bagus, walaupun sudah pada berumur.

asurvivor.jpg    Suara penyanyinya indah sekali. Sayang, Survivor tidak memainkan satu lagu favorit saya yang judulnya Man Against the World. Padahal itu lagu yang saya tunggu-tunggu. Dulu ketika masih di Jakarta, saya sering request ke radio M97FM, radio rock klasik itu. Minta diputarkan lagu Man Against the World. Si Ifeb yang siaran pagi, atau Bipi yang siaran sore selalu nggak bisa memenuhi permintaan itu. Katanya mereka nggak punya (sekarang M97FM sudah bubar, frekuensinya digunakan sebuah radio dangdut…sayang sekali… radio M97FM kocak betul, penyiarnya dan pendengarnya sama-sama orang gila semua, hiburan di jalan yang macet menuju atau pulang kantor he..he). Yang suka memutar lagu Man Against the World adalah Kiss FM, itu juga waktu si Bipi masih siaran di sana, sebelum dia pindah jadi penyiar di M97FM.

Kelebihan band-band tahun 1980-an (juga 70-an atau sebelumnya) adalah performa mereka yang bagus di panggung. Tidak ada perbedaan antara versi rekaman dan live show: kualitas permainan musik dan vokalis nya sama. Mungkin karena mereka dulu tidak terlalu bergantung pada teknologi mixing sound ala studio rekaman masa kini. Mungkin grup 90-an yang rekaman dan kualitas live show-nya sama cuma Guns N’Roses (GNR) dan Axl Rose yang dahsyat suaranya itu. Sayang GNR juga bubar.

Di samping kemajuan luar biasa yang dimunculkannya, teknologi modern mungkin juga menghadirkan banyak hal instant, diantaranya dalam dunia seni suara. Sekali waktu di tv saya pernah lihat live show Hoobastank, grup musik kontemporer yang terkenal dan banyak digemari anak-anak muda sekarang karena lagunya yang berjudul The Reason itu. Musiknya berantakan, vokalisnya kentara jauh sekali suaranya dari versi rekaman.

Atau masih ingat heboh duo penyanyi Milli Vanili di akhir tahun 1990? Saya masih ingat lagu Blame it On the Rain atau I’m Gonna Miss You. Duo penyanyi itu menipu dunia, karena mereka hanya merekam suara grup lain, dan menjualnya atas nama mereka berdua. Didukung oleh mafia industri rekaman untuk mencari untung. Kepalsuan mereka tercium saat mereka harus tampil live show. Lagi seru-serunya manggung (menipu), rekaman yang dimainkan di belakang panggung mati mendadak, ketahuan aslinya…he..he. Jutaan orang di seluruh dunia yang menggemari Mili Vanilli (termasuk saya ..he..he), langsung membakar atau membuang kaset Mili Vanilli ke tong sampah. Band asli yang menciptakan dan menyanyikan lagu Mili Vanilli kemudian tampil, sempat membuat rekaman, tapi tidak populer.

Menyangkut soal teknologi dan modernisme, dua kuliah wajib saya semester ini adalah Comparative Politics Theory dan International Relations Theory. Karena keduanya mata kuliah teori, kami harus menelan bacaan klasik dari awal tahun 1950/60-an saat kedua disiplin ini (CP dan IR) berkembang pesat, hingga bacaan kontemporer. Bacaan-bacaan kuliah CP mengandaikan sistem politik modern, sementara bacaan IR untuk dua minggu pertama kemarin sebaliknya: membahas kembalinya literatur HI ke sejarah masa lalu.

Dua minggu pertama bacaan IR mendiskusikan the English School, pemikiran IR non-Amerika, yang memang sangat kritikal terhadap bacaan IR saat ini yang mereka nilai sangat American-centric dan didominasi paradigma realisme. Mereka menolak asumsi realisme/neo realisme dan kecenderungan behavioralis dan positivistik yang dominan di Amerika. Serangan utama dari English School adalah bahwa asumsi realisme dan neo-realisme yang mendominasi literatur IR tidaklah valid, dan bukanlah sesuatu yang given. Maka English School banyak menganjurkan para ilmuwan HI untuk kembali mengkaji sejarah sebelum sistem nation-state terbentuk, untuk mendapatkan gambaran bahwa ada sistem/pemahaman lain diluar paradigma dominan realisme/neo-realisme dalam IR lima puluh tahun terakhir.

Salah satu professor di kampus saya, dulu menulis disertasinya tentang IR di Asia Timur di masa kekaisaran China. Dia dibimbing oleh John Mearsheimer, realis sejati, professor IR di University of Chicago. Saya belum baca disertasinya, apakah dia mendukung English School atau membantah argumentasinya. Yang jelas temuan dia adalah, berbeda dengan pola hegemoni ala realisme dalam politik internasional kontemporer, di masa kekaisaran Cina dulu polanya adalah hierarki, bukan hegemonik. Ada banyak hal yang bisa dikembangkan dari temuan ini.

Juga ada ilmuwan Inggris Robert Cox yang pernah menulis paper dengan judul The Relevance of Ibn Khaldun’s Thoughts in Contemporary World Order. Ibnu Khaldun adalah ilmuwan besar Muslim yang hidup di abad ke 13, yang oleh Arnold Toynbee (sosiolog/historian besar Amerika) disebut sebagai bapak ilmu sejarah. Gara-gara membaca Robert Cox saat kuliah S-2 di Australia dulu, saya mencari buku Mukaddimah karya Ibnu Khaldun itu di toko buku (di library sih ada, tapi saya ingin memilikinya). Karena di Australia saat itu sedang out of print, toko buku di kota tempat saya belajar dulu harus memesannya ke Inggris, baru dua bulan kemudian buku itu datang.

Memang banyak pengkritik realisme/neo-realisme yang menganjurkan untuk melakukan penelitian ke zaman Medieval Eropa sekitar abad 13 atau 14, sebelum Renaissance. Salah satu bacaan kami di kuliah minggu lalu adalah tulisan Markus Fischer di jurnal International Organization (IO). Judulnya adalah Feudal Europe, 800-1300: Communal Discourse and Conflictual Practices.

Dari awal hingga hampir akhir, tulisan Fischer sepertinya simpatik pada critical theory (salah satu basis English School). Dia mengkaji Medieval Society, masyarakat abad pertengahan, di Eropa. Ternyata di halaman-halaman akhir dia menyerang English School (atau lebih tepatnya critical theory), dan mengukuhkan realisme/neorealisme. Sebetulnya ketika mulai baca, saya sudah curiga juga, karena di footnote awal yang berisi acknowledgment tertera ucapan terimakasih pada Mearsheimer dan Walt, dua ilmuwan HI pengusung realisme. Lagipula, IO adalah jurnal terkemuka Amerika yang hampir pasti di dominasi oleh pandangan realisme.

Ngomong-ngomong soal medieval society, di kota tempat saya belajar, minat untuk mengetahui seperti apa kehidupan medieval society di Eropa ini cukup tinggi. Ada klub yang mempelajari dan memainkan olahraga abad pertengahan, seperti bertarung dengan tombak panjang untuk menjatuhkan lawan sembari menunggang kuda (di masa aslinya sih itu bukan permainan, tapi pertempuran hidup mati). Mereka berkumpul tiap pekan.

Bahkan di kampus saya, saya baru tahu juga ada kelompok mahasiswa penggemar olahraga medieval ini. Kemarin saya melewati kompleks dormitory yang sebagian besar dihuni freshmen alias anak-anak baru semester satu atau dua. Di halaman depan saya lihat ada ramai-ramai, mereka berkumpul dan bersorak sorai. Rupanya mereka sedang memainkan pertarungan dengan tongkat panjang seperti tombak itu. Ramai sekali. Ketika saya makin dekat, baru kelihatan mereka memang sedang bertarung dengan tongkat panjang. Pemainnya tidak menunggang kuda, tapi menunggang temannya sendiri alias digendong sambil berlari…ha..ha..ha. Ada-ada saja. Kuda tak ada, teman saja ditunggangi.

3 Tanggapan to “Corn Fest dan Bacaan Kuliah Minggu Pertama”

  1. bhatara ibnu reza Says:

    Oalaaaaaah Bung….Kalau tahu sedemekian sibuknya aku gak bakal kirim tulisanku padamu ya hehehehe by the way selamat kuliah lagi…

  2. ridwan Says:

    wah…asyik bener. sambil liat corn fest bonusnya nonton survivor. lagu “burning heart” dinyanyiin ga? lagu “man against the world” dan “the search is over” merupakan salah dua lagu fav saya. apalagi lagu “the search is over” pernah jadi soundtrack film hunter. jadi inget dee dee mc call nih….maklum generasi taon 80an hihihiii.
    sukses selalu.

  3. philips vermonte Says:

    bung bhatara..sabar ya..he.he..

    bos ridwan, burning heart dimainin, pertama malah…he..he. Doyan survivor juga? Saya malah nggak inget tuh lagu Search Is Over dipake serial Hunter…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s


%d blogger menyukai ini: