Selamat Jalan Buat Dichiya (alumni HI Paramadina 2001)

Saya pernah mengajar Dicky di beberapa kelas di jurusan HI Universitas Paramadina. Akhir-akhir ini, saya cukup dekat dengan dia. Mendengar kabar berpulangnya Dicky subuh tadi, sungguh mengejutkan. Saya ingin share kenangan saya tentang dia, yang penuh semangat dan cita-cita. Only the good die young.

Dekalb, Illinois 23 Agustus 2006
pjv
————————-

I

Tadi jam 9 malam waktu sini (berarti jam 9 pagi di Jakarta) saya menyalakan komputer, lalu online. Agak aneh juga perasaan saya tadi, karena melihat Dicky tumben tidak online. Biasanya, pagi-pagi di Jakarta dia sudah online. In the past few months, we have been engaging in serious discussions. About his life, his study at UI and his future plans. Saya merasa lemas seketika saat mendapat message dari Peni Hanggarini, dosen HI Paramadina, yang juga akan segera menjadi kolega dan teman Dicky sebagai sesama pengajar. Sesudah Dicky lulus, kami menjadi kawan sangat karib. Lewat email dan Yahoo Messenger. Selain menyapa saya dengan “Mas”, Dicky juga memanggil saya dengan panggilan “Bung”, which is fine). Kami juga menjadi dekat, karena Dicky sering mampir ke blog saya atau saya yang mampir ke blog dia (http://dichiya.wordpress.com).

Kemarin malam kami masih chatting, kalau tidak salah, sejak jam 10 malam sampai jam 2 pagi waktu sini. Ada banyak hal yang kami bincangkan. Yang jelas, perbincangan kami topiknya selalu sama sejak beberapa bulan terakhir: niat Dicky untuk menjadi dosen, sekolah lagi, dan menikah.

[Semalam saya yang duluan menyapa dia (soalnya Dicky selalu bilang: “Mas, sapa-sapa kite kalo online yak!”). Saya bilang: “Bung, sori, kemarin saya menghilang tiba-tiba di tengah chatting.” Dicky bilang: “Kenapa Mas, ada lambang Batman menari-menari di depan apartemen, lalu Mas harus pergi memberantas kejahatan?..he..he”. Saya bilang: “bisa aja ente. Nggak enak sama istri, baru pulang dari Jakarta tiga minggu malah chatting terus”. Dicky lalu tertawa geli, pasti keras sekali…he..he]

Well, Dicky cerita sedang mau coba mendaftar beasiswa Chevening ke Inggris. I encouraged him to apply. Saya bilang kalau dia perlu surat rekomendasi, saya akan menuliskannya (saya sudah pernah minta maaf karena salah komunikasi, saya tidak sempat menulis surat rekomendasi untuk dia waktu dia akan melamar beasiswa Ausaid tempo hari).

Yang membuat saya bahagia bukan kepalang waktu chatting semalam adalah saat Dicky mengirimkan via email rancangan silabus (SAP) mata kuliah Politik Internasional yang akan dia pegang mulai tanggal 7 September mendatang di Paramadina. Dia cerita penuh semangat soal silabus itu, dan cerita betapa senang hatinya akan mulai mengajar di almamater sebagai dosen luar biasa. Dan dia minta saya memberi input untuk SAP itu, saya berjanji akan mengirimkannya hari ini.

[Saya selalu terharu kalau bertemu orang yang berminat dan berusaha keras menjadi guru atau dosen. I don’t know why. Maka waktu dulu Dicky bilang ingin sekali menjadi dosen, saya forward langsung sebuah email dari kawan saya di Universitas Islam Negeri (UIN) Ciputat yang mengabarkan pembukaan lowongan dosen HI, karena UIN akan segera membuka jurusan HI. Dicky melamar dan sudah interview di sana, setahu saya hasilnya positif. Waktu itu saya sempat kontak teman lama di UIN yang mengurus rekrutmen itu, saya bilang: “I highly recommend him to take up the position”. Temen saya di UIN kemudian bilang “He is really good”.]

Semalam Dicky cerita bahwa dia akan mengundurkan diri dari penerbit Erlangga, tempatnya bekerja sebagai editor buku saat ini, tanggal 15 September (dulu dia pernah bilang akan berusaha tidak mengundurkan diri, karena bermaksud menabung karena ada niat untuk menikah). Dia bilang mau konsentrasi menyelesaikan thesis S-2 nya di UI, dan konsentrasi mengajar di Paramadina, walaupun masih berstatus dosen luar biasa. Saya sempat tanya tadi malam: “Loh kenapa mengundurkan diri? Memang tidak diizinkan mengajar oleh kantor?”. Dia menjawab bahwa itu saran dari Erlangga, agar memilih salah satu saja. Agar fokus. Erlangga pun legowo kalau mengajar adalah pilihan Dicky.

Dia memilih mengajar, walaupun kami sering berdiskusi mengenai minimnya economic reward dari pekerjaan-pekerjaan intelektual di Indonesia, entah sebagai dosen, peneliti atau editor buku (sungguh negeri yang aneh!). Tapi, melihat semangatnya, saya berusaha menyemangatinya dengan bilang bahwa rezeki toh ada dimana-mana, we will always be well taken care of. Dan dia setuju [dia pernah bilang pada saya bahwa dia ingin menjadi dosen karena sebuah ucapan yang pernah saya lontarkan ke dia, sewaktu dia masih mahasiswa di Paramadina. Yang saya sampaikan waktu itu adalah sebuah ucapan Imam Ali Bin Abi Thalib k.w. bahwa membaca satu bab dari sebuah kitab penuh ilmu pengetahuan bisa sama nilainya dengan ribuan rakaat shalat sunah].

II

So, ketika sudah offline tadi malam ( semalam seperti biasa dia juga tidak lupa bilang: “Mas, besok kalo online sapa-sapa kita yak” — Tadi saya online, kamu sudah nggak ada Bung…), saya membaca silabusnya. Saya bersenang hati bahwa Dicky serius sekali mempersiapkan silabus itu. It is so well prepared and well-written. Membacanya, saya yakin Dicky akan menjadi pengajar yang baik dan akan menjadi sumber inspirasi bagi mahasiswanya di kampus.

Karena tidak bisa juga tertidur, saya membongkar-bongkar jurnal dan buku yang ada di rak saya, berpikir keras input apa yang bisa saya berikan pada Dicky yang sedang bersemangat mengajar. Saya ingin memberi input yang baik, agar dia semakin bersemangat dan mencintai pekerjaannya sebagai dosen nanti.

Kebetulan saya berlangganan jurnal Foreign Policy, dan edisi terbarunya baru datang kemarin siang. Belum saya buka, masih terbungkus plastik. Segera saya buka, dan seketika itu pula saya tahu input apa yang bisa saya berikan pada Dicky.

III

Dicky, ini beberapa inputnya, saya tulis disini (belum sempat terkirim, kabar duka kepergian ente mendahului saya). Saya berjanji akan memberi input, dan janji adalah hutang. Ini dia:

1. Coba pergi ke perpustakaan kantor saya CSIS, mereka berlangganan jurnal Foreign Policy. Periksa edisi paling baru (Agustus/September 2006). Topik utamanya After Five Years (11 September 2001 – 11 September 2006). Has the world really changed? Maksud saya, yang bisa dipertajam dari silabus yang ente bikin adalah sisi periodisasi. Saya suka approach yang kamu ambil untuk menjelaskan dinamika politik internasional (bung menggunakan ragam instrumen: senjata, diplomasi dan organisasi internasional). Akan lebih baik lagi bila ente bisa mendiskusikannya dengan mahasiswa dalam konteks events dan periode penting dalam politik internasional (Perang Dunia I, II, Cold War, Post Cold War, Post September 11). Tulisan-tulisan di Jurnal FP yang baru itu banyak yang bisa diambil. Mereka berargumen bahwa politik internasional tidak berubah sejak September 11. Argumen-argumenya silahkan dibaca sendiri di jurnal itu..he..he.
2. Saya lihat ada item khusus soal Al Jazeera (media dan propaganda?) di SAP ente. Coba periksa juga jurnal Foreign Policy sebelum edisi ini, dalam rubrik Think Again ada bahasan soal Al Jazeera, mana yang myth dan mana yang real (saya pernah tulis di blog saya juga kan soal Foreign Policy edisi ini?).
3. You did your homework. Daftar bacaan yang kamu survey dan akan kamu wajibkan untuk mahasiswa sangat baik dan sangat relevan. Sedikit masalahnya, coba kita ingat-ingat pengalaman kuliah di Paramadina, mahasiswanya mau membaca buku kah?..he..he. Maksud saya, nanti ente harus melihat dinamika kelas, kalau ternyata beban bacaan terlalu banyak, maka ente harus kreatif mencari cara agar mereka mau membaca atau minimal points yang ingin ente sampaikan lewat bacaan itu bisa sampai dengan cara yang lain. Misalnya, kliping, diskusi pendek di awal perkuliahan 10-20 menit mengenai topik-topik headline di surat kabar atau majalah? Ada banyak cara. Saya suka kelas kamu angkatan 2001 dulu, aktif dikelas (walaupun tetap terasa banyak yang nggak baca buku juga…he..he). Semoga ente bisa membuat kelas yang dinamis nanti.
4. Good luck Bung. Kalau ada apa-apa yang bisa saya bantu, email aja.

IV

Dicky, dipanggil Pulang selagi tidur seusai shalat Subuh tadi pagi seperti ente, indah nian. Selamat jalan, selamat beristirahat. Kami akan baik-baik saja di sini, melanjutkan semangat Bung dalam belajar dan mengajar. Sampai bertemu lagi.

5 Tanggapan to “Selamat Jalan Buat Dichiya (alumni HI Paramadina 2001)”

  1. Desi Says:

    Suatu hari saya datang ke meja Dicky sambil nyeletuk, “Gw suka blog elu. Bagus…gak kaya blog2 laen yang sering gw temuin. Yang cuman mindahin diary ke internet doang…” Setelah itu dia ganti datang ke meja saya sambil membawa sesobek kecil kertas trus berujar, ‘ Des, elu musti baca yang ini Des. Kalo elu suka blog gw, elu pasti lebih suka yang ini. Ini punya dosen gw dulu pas di Paramadina, Des…” Dan mulailah ia cerita soal ente, Bung! Di kertas kecil itu tertera vermonte.blogspot.com -> pjvermonte.wordpress.com. Sejak saat itulah saya menjadi penggemar gelap blog ini heheheh…

    Saya begitu menikmati tulisan kenangan Bung tentang Dicky. Memang demikianlah adanya. Saya pribadi tak mampu menuliskan apa-apa saking ‘speechless’nya. Yang saya ingat hanyalah saat-saat indah kami bertiga bersama si Nduty Rizal, para manusia malam, pulang kantor bareng, nyari2 kebab malem2 ke Ragunan pas Jakarta mati lampu karna ada pemadaman bergilir, ke Ambassador trus makan di A&W sambil ngembat sendoknya (katanya: lumayan neh bisa buat nge-teh di kantor :P), ato sekedar hunting ke BenHil demi seonggok martabak manis! Bener2 jiwa kuliner sejati. Sampai2 Dicky dengan sukarela mencalonkan diri sebagai editor jika Erlangga menerbitkan buku Tata Boga! Sungguh kenangan tak terlupa.

    Dicky…kami kan slalu merindukanmu…

  2. Goio Says:

    Aku tidak sempat kenal dengan Dicky, dengan Pak Philips juga :) .. berkunjung ke sini pun mungkin baru yang kedua kali… tapi, aku merasa sangat berduka cita… walaupun hanya setengahnya saja cerita dari Pak Philips ini benar, maka Indonesia telah kehilangan salah satu putra terbaiknya .. :D… semoga simpati saya ini bisa sedikit menjadi pahala bagi Dicky… terima kasih…

  3. philips vermonte Says:

    Mbak dan Mas, thanks sudah mampir. Salam kenal. Dicky yang saya kenal memang orang baik, pasti banyak yang merasa kehilangan. Walaupun saya sedih, tapi saya yakin almarhum sudah tenang di sana. Saya dengar dia meninggal dalam keadaan berpuasa, setelah makan sahur lalu dia shalat subuh. Kemudian tidur dan tidak bangun lagi. Penjelasan teknisnya adalah almarhum mengalami serangan jantung.

  4. Rizkiananda Says:

    Satu ekspresi saya membaca blog kang Phillips kali ini:

    “Sangatlah mudah membuat seorang manusia menjadi terkenal, dipuja, dan kaya raya. Namun tidak mudah untuk menciptakan manusia yang bermanfaat bagi sesamanya”

    May him rest in peace

    regards,
    rizki

  5. emil Says:

    saya memang tidak kenal terlalu lama dengan dicky, tapi berkay inspirasinya membuat saya untuk terus berjuang walau tidak menjadi yang terbaik dari yang lain tapi yang terbaik untuk saya sendiri. walaupun waktu kami dalam ngobrol hanyalah sebatas sepulang kuliah dari UI dari jam 10.00pm sampai 12.00pm malah pernah ketilang waktu pulang, kenangan tentang beliau sangat mendalam. kedekatan kami semakin bertambah sewaktu pertama kali ia bicara mengenai dosennya sewaktu kuliah di Paramadina yang mana juga dosen saya sewaktu kuliah di Budi Luhur. walau punya visi dan misi yang berbeda teman yang satu ini tetap berpikiran positif, pernah suatu waktu saya kirim dia sms yang berisikan kesalnya saya terhadap pernyataan2 yang dibuat oleh Bush dan CNN mengenai permasalahan israel dan Palestina……………… selamat jalan Dicky………terima kasih pak philip atas rekomendasi blognya………………………………………….

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s


%d blogger menyukai ini: