Otobiografi Ahmad Syafii Maarif

Indra J Piliang (IJP), kolega saya di CSIS, berbaik hati menitipkan sebuah buku lewat seorang teman yang kebetulan pulang ke Jakarta. Buku itu adalah otobiografi Ahmad Syafii Maarif, mantan Ketua Umum Muhammadiyah itu. Judulnya “Otobiografi Ahmad Syafii Maarif: Titik-titik Kisar Perjalananku”. Ketika teman saya itu pulang ke Dekalb, saya justru berangkat ke Jakarta, sehingga baru ketika saya juga pulang ke Dekalb beberapa hari lalu buku itu saya lihat.

Ketika otobiografi itu diluncurkan dua bulan lalu, saya memang minta bantuan IJP untuk mencarikan satu eksemplar. Saya ingin membacanya, apalagi setelah membaca tulisan kawan baik saya Sukidi, kader Muhamadiyah yang sedang studi di Harvard University, yang dimuat di harian Kompas di hari peluncuran buku itu di Jakarta. Terlebih ketika Sukidi memforward sms beberapa orang yang telah membaca otobiografi itu, bagaimana orang-orang itu terharu membaca perjalanan hidup Buya Syafii.

Buya Syafii saya kenal hanya dari jauh, tidak pernah saya kenal secara pribadi. Saya kenal Buya dari tulisan-tulisannya, atau dari berita-berita di koran. Dari amatan jauh itu tampak oleh saya bahwa Buya adalah penjunjung tinggi paham pluralisme dan sadar betul atas keberagaman di Indonesia. Dari tulisan-tulisannya yang pernah saya baca pun tampak kedalaman pengetahuan dan pemahaman Buya akan beragam masalah. Mungkin karena itu Buya mudah diterima beragam golongan. Ia tidak menjadi tokoh agama yang ditakuti, tapi di hormati, tidak hanya oleh kalangan Muhammadiyah, tapi juga bahkan oleh kelompok agama lain.

Di dalam copy buku yang dititipkan IJP, terselip sebuah makalah pendek Buya. Dari footnote nya saya tahu bahwa makalah itu dipresentasikan tanggal 20 Mei 2006 lalu di depan Perhimpunan INTI, sebuah perhimpunan masyarakat Tionghoa di Jakarta.

Semula saya kira makalah itu adalah bagian dari otobiografi Buya. Ketika saya bertemu dengan teman yang membawa buku itu dari Jakarta ke Dekalb (dia seorang keturunan Tionghoa, dari keluarga Kristen yang taat), saya baru tahu bahwa makalah itu sengaja diselipkan oleh ayahnya untuk saya. “Bokap gue pengagum Ahmad Syafii Maarif, dia suka datang ke seminar-seminarnya. My father thought you might be interested in that short paper”, begitu kata teman saya itu. Saya mengucapkan terimakasih, dan bergembira juga karena sebuah silaturahmi terjalin dengan ayah teman saya itu. Penghubungnya adalah buku otobiografi Buya Syafii itu. Ini juga menunjukan bahwa ‘pembaca’ Buya datang dari lintas agama berbeda.

Sesampai di Dekalb, saya harus memilih buku mana yang ingin saya baca duluan. Ketika di Jakarta, saya mewawancarai beberapa orang untuk keperluan sebuah paper yang sedang saya tulis. Salah satu yang saya wawancarai adalah Wiranto, mantan Pangab TNI itu. Wiranto memberi saya beberapa buku yang dia tulis, yang sepertinya semuanya ditulis untuk meng-counter tuduhan pelanggaran HAM berat yang dialamatkan kepadanya…he..he.

Selain itu, ada tiga majalah Economist yang datang selama tiga minggu kepergian saya. Juga ada jurnal Political Science & Politics edisi terbaru. Lalu masih ada kewajiban menyelesaikan paper…pusing juga….

Akhirnya saya putuskan untuk membaca otobiografi itu. Tidak menyesal saya membaca buku itu duluan. Saya belajar tentang keteguhan hati dari Buya Syafii. Betapapun kesulitan ekonomi menghadang dalam perjalanannya menjadi intelektual besar, dia istiqamah. Anak pertamanya, kebetulan bernama Salman (sama dengan nama anak saya he.he) meninggal ketika masih berusia 20 bulan di Jogja ketika Buya masih kuliah di sana. Kata Buya dengan sedih, mungkin karena kurang gizi, karena saat itu keluarga kecil mereka hidup teramat susah.

Buya kemudian mendapat beasiswa Fulbright, lalu belajar di Northern Illinois University, tempat saya sedang belajar sekarang. Studi di NIU tidak berhasil diselesaikannya. Buya mengundurkan diri, karena mendapat kabar anak keduanya sakit keras di tanah air. Buya pulang, sempat menunggui anaknya di rumah sakit. Takdir menentukan lain, anak kedua ini pun setelah beberapa lama akhirnya meninggal dunia. Buya harus membawa pulang jenazah anaknya dengan becak ke rumah.

Tuhan Maha Baik. Buya kembali mendapat beasiswa Fulbright, bisa melanjutkan studi lagi. Master di Ohio University, lalu PhD di University of Chicago dimana Buya berguru pada cendekiawan besar muslim Fazlur Rahman, yang juga merupakan guru dari almarhum Cak Nur. Keluarga kecilnya (Buya dikaruniai seorang anak lagi) pun ikut ke Chicago.

Dari orang-orang yang mengenalnya dari dekat, saya mendapat cerita bahwa Buya selalu hidup sederhana dan bersahaja. Bahkan rumah kecilnya di Jogja baru lunas cicilannya beberapa tahun lalu.

Satu hal yang saya sukai dari otobiografi ini adalah kejujuran Buya menuliskannya. Tidak ada kesan melebih-lebihkan, sebagaimana umum di jumpai dalam otobiografi lain. Saya membaca dan memperlakukan otobiografi ini sebagai confession dari seorang intelektual, yang berjasa besar menyemai bibit-bibit intelektual muda Muhammadiyah yang saat ini tersebar menuntut ilmu di berbagai negara. Mungkin dalam konteks ini, Buya Syafii sama seperti Gus Dur yang melempangkan jalan bagi lahirnya intelektual-intelektual muda dari kalangan NU ketika organisasi itu dipimpinnya.

3 Tanggapan to “Otobiografi Ahmad Syafii Maarif”

  1. ardi Says:

    Yes, I agree. He’s one of a few good men in Indonesia.

  2. Kang Adhi Says:

    commentnya telaat nih: setuju! 07/01/07 saya juga menulis tentang beliau di sini

  3. Widarto Says:

    Saya juga sudah baca dipertengahan tahun 2007, memang sungguh menakjubkan. Saya sempat ingin bertemu langsung ke Nogotirto Jogja (kediaman Buya syafii) tapi belum dipertemukan. Saya masih selalu berharap suatu saat nanti Allah mempertemukan saya dengan beliau.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s


%d blogger menyukai ini: