Tentang Persahabatan

Saya barusan pulang dari Jakarta. Jet lag. Ini sudah jam 4 subuh, tadi tidur jam 10 tapi jam 1 terbangun. Lalu tidak bisa tidur lagi. Mending tulis-tulis, banyak yang ingin saya tulis. iTunes di komputer sudah saya nyalakan, barusan habis putar CD Samsons (titipan dari keponakan di Jakarta untuk anak saya sebetulnya, tapi karena malam ini dia menginap di rumah temannya, saya putar saja CD-nya. Soalnya penasaran, karena keponakan saya di Jakarta itu ribut ngomongin Samsons – “ Ntar aku titip CD Samsons ya buat Salman, keren, pasti Salman suka”, gitu katanya). Level 42 Classic Collection (yang saya beli murah di Aquarius Jalan Mahakam di Jakarta) dan A Little Night Music: Mozart for Lovers juga sudah habis terputar, Sekarang, giliran the Best of Cranberries (yang juga saya beli di Aquarius Mahakam). Lumayan, menulis ini sambil mendengar suara khas vokalis Cranberries itu.

Well, saya pulang ke Jakarta selama hampir tiga minggu karena dapat undangan konferensi di National University of Singapore (NUS). Karena visa kebetulan habis, mau tidak mau saya memang harus ke Jakarta untuk proses visa baru seusai tiga hari konferensi di Singapura.

NUS mengadakan the First ASEAN Graduate Student Conference, yang disiapkan oleh ARI (Asia Research Institute)-nya NUS. ARI mengumpulkan mahasiswa pascasarjana dari macam-macam negara yang sedang studi Asia Tenggara. Ada ‘dewa-dewa’ studi Asia Tenggara di ARI saat ini. Misalnya Profesor Anthony Reid, dan juga Profesor Wang Gungwu. I think the best part of the conference was a keynote speech made by Profesor Shamsul AB dari Malaysia. Ceramahnya tentang the production of knowledge on Southeast Asia. Ceramah Profesor Shamsul sangat menggugah untuk peneliti muda seperti saya. Setelah mendengar ceramah Profesor Shamsul, saya makin yakin akan jalan akademik yang sedang saya jalani sekarang.

Profesor Shamsul orang yang sangat antusias, semangat, penuh humor dan yang jelas mencintai bidang kajiannya, antropologi. Beruntung saya ke Singapura. Bertemu young scholars dari macam-macam tempat, yang sedang studi Asia Tenggara.

Di Jakarta, a lot of surprising things happened. I learned a lot. Baru terasa betapa ‘jauhnya’ jarak geografis dan psikologis saya yang ‘nyantri’ di Dekalb. Baru setahun, sudah terasa agak berjaraknya saya dari realitas di Jakarta. Menyedihkan juga.

Membaca koran-koran online sama sekali tidak sama dengan mengalami sendiri. Begitu sampai di Jakarta, taruh koper di rumah, langsung meluncur ke CSIS. Isi bensin dekat rumah, setahun lalu 50.000 rupiah cukup untuk bensin dari rumah ke kantor pulang pergi selama dua hari. Maka saya isi sejumlah itu, tapi saya bingung karena meteran penunjuk tangki bensin di mobil tidak naik. Saya pikir, pompa bensin tidak jujur. Lalu saya sadar bahwa harga bensin sudah naik dua kali lipat dari tahun lalu, makanya meteran tidak naik, karena yang masuk memang sedikit..ha..ha..ha.

Lalu saya bertemu teman-teman di kantor dan juga teman-teman di tempat lain. Baru terasa hangatnya pertemanan. Mungkin karena saya jauh, bertemu kembali dengan teman-teman pasti menyenangkan. Kebetulan, di pesawat menuju Jakarta saya menonton banyak film. Salah satunya film kartun lama Toy Story 1. Persahabatan antar mainan milik Andy: Woody si koboi dan Buzz Lightyear si space ranger..he..he. Saya sudah nonton film itu beberapa kali, tapi selalu tersentuh. Apalagi theme songnya: “You’ve got a friend in me“. Memang hanya dari anak-anak (dan film anak-anak?) kita bisa bercermin banyak hal mengenai genuine friendship.

Di kantor, tentu saja saya bertemu senior-senior, selain teman-teman sesama peneliti muda. Hari pertama, saya makan siang di lantai lima tempat kami selalu makan bersama. Ada pak Hadi Soesastro dan Harry Tjan Silalahi. Pak Harry, sudah 70 tahun lebih usianya, agak surprise melihat saya. Dia menarik kursi dan menyuruh saya duduk bersama dia dan pak Hadi. Saya tanya dengan sopan apa kabar kesehatannya, dan saya bilang pak Harry kelihatan segar sekali. Pak Harry, banyak orang tahu, is a great motivator. Dengan suara kerasnya, sambil terkekeh dia bilang: ‘pokoknya saya nggak mau jatuh sakit sebelum you selesai sekolah, makanya you cepat-cepat selesaikan sekolah, jangan lama-lama!” Tentunya dia sedang menggoda saya, tapi saya merasa kalau pak Harry sedang memotivasi saya juga. Pak Hadi hanya senyum-senyum.

Saya juga sempat ngobrol panjang dengan senior lain, pak Luhulima, di ruangannya. Pak Luhulima juga sudah 70 tahun lebih usianya, sudah pensiun dari CSIS tapi masih sering ke kantor. In his own way, dia juga selalu memotivasi saya. Kalau ada tulisan saya dimuat di satu media, pak Luhu (begitu dia sering dipanggil, walaupun saya lebih sering panggil dia Opa) akan menyempatkan kirim email berisi tulisan dia mengenai topik yang hampir mirip dengan tulisan saya. Saya tahu maksudnya adalah dia mau bilang bahwa dia tidak setuju dengan isi tulisan saya, makanya dia kirim tulisan dia yang berbeda opininya 180 derajat…he..he. What a way to express his disagreement! Saya cukup akrab dengan pak Luhu, dulu dia sering mampir ke kamar kerja saya di CSIS, atau saya yang mampir ke kamar kerjanya, untuk sekedar ngobrol-ngobrol.

So, kita bisa belajar dari anak-anak dan juga dari orang-orang yang lebih tua, about friendship. Ketika masih di Jakarta kemarin, saya mendapat sms panjang dari istri saya yang tidak ikut ke Jakarta, tinggal di Dekalb bersama anak-anak. Katanya, Salman anak saya yang baru kelas tiga SD itu sedang bersedih hati. Seorang teman karibnya, namanya Doohan, pulang ke Korea Selatan for good . Ayah Doohan telah selesai studi PhD-nya, maka tiba waktunya untuk mereka sekeluarga pulang ke Seoul. Doohan sekeluarga tinggal di apartemen sebelah tempat kami tinggal.

asalman.jpg Tadi ketika sampai rumah setelah penerbangan panjang dari Jakarta, saya mendapat cerita lengkap soal Salman dan Doohan itu. Rupanya, beberapa hari sebelum hari kepulangannya, Doohan selalu menginap di rumah kami. Di hari keberangkatan Doohan, Salman subuh-subuh sudah bangun, sibuk siap-siap ingin ikut mengantar Doohan ke bandara. Dia mandi, lalu sarapan. Sesudahnya, dia buru-buru menuju rumah Doohan.

Tapi tidak berapa kemudian Salman kembali lagi ke rumah, sambil matanya berkaca-kaca. Salman bilang Doohan sudah berangkat, dan dia sangat sedih karena Doohan tidak berpamitan dengan dia. Rupanya, dari jauh dia lihat Doohan sedang angkat-angkat koper menuju mobil. Salman kira Doohan sudah mau berangkat, lupa sama dia. a2salman.jpg

Tiba-tiba Doohan muncul di rumah kami mencari Salman, membawa foto-foto bersama mereka berdua sebagai kenang-kenangan untuk Salman. Lalu mereka sempat main sebentar berdua. How sweet! Salman ikut mengantar ke bandara O’Hare di Chicago, dan dia menangis saat berpisah dengan Doohan di sana. Salman is learning his lesson about friendship.

Di pesawat yang membawa saya pulang dari Jakarta ke Chicago, saya lagi-lagi menonton film banyak-banyak. Lumayan, mengurangi rasa sedih pisah lagi dengan orang tua, kakak, adik, keponakan, dan teman-teman baik (ada teman pernah bilang ‘I hate goodbye’, dan waktu itu saya tidak terlalu paham rasa dari kalimat itu, but now I understand).

Ada sebuah film anak-anak yang saya tonton di pesawat yang membawa saya pulang ke Chicago, judulnya Akeelah and the Spelling Bee. Tentang kejuaraan spelling, dimana anak-anak harus mengeja kata-kata sulit dalam khazanah bahasa Inggris. Ada quote menarik dari film itu: “Love is a feeling you have when you are not worried about tomorrow and yesterday. You just feel safe.” Ingat-ingat pengalaman Salman dan juga pengalaman saya di Jakarta kemarin, sepertinya saya bisa bilang that having a true friend makes us feel safe.

8 Tanggapan to “Tentang Persahabatan”

  1. abgaduh Says:

    So, you’re back! ;-) Gw lupa bahwa elu berangkat tanggal 12 — mustinya kita ketemu sebelumnya. Maklum dah… ;-D

  2. philips vermonte Says:

    Ya, gue berangkat tanggal 15 berangkat….sibuk sekali dikau…dasar agen Bretton Woods…he..he. Kali lain kita jumpa bos….btw, lu makan gaji buta ya, itu blog nya aktif bener…:-)

  3. Dicky Says:

    After a long long time.. akhirnya muncul juga cerita-cerita khas ente bung.. reflektif, emansipatif, sekaligus kontemplatif.. sayang gue enggak sempet ketemu ente ya. Benar kata Pak Harry Tjan, cepatlah lulus dan pulang.. Kerajaan Singasari sedang merencanakan Eskpedisi Pamalayu.. kehadiran ente sangat dibutuhkan, bung.. hehe..

  4. coen husan pontoh Says:

    Lips,

    Gua suka ama cerita lo ini, jadi rindu banget ama Jkt yang cet macet itu. Tapi, setelah belajar sama anak-anak dan opa-opa, yang tengah-tengah ini kayak apa persahabatanya?\

    Harga bensin makin mahal, tandanya makin efisien, hehehehe.

  5. Goio Says:

    Never say ‘goodbye’ … say ‘take care’ and see you, instead… have a great friendship :) …

    +permisi pak Philips, numpang komen hehehe+

  6. philips vermonte Says:

    Coen, thanks. Belajar dari anak-anak dan opa-opa untuk persahabatan dengan kita yang ditengah-tengah…:-)

    Ya, Jakarta semakin macet, tapi anehnya tetap membuat pingin pulang…ha..ha. Lalu soal bensin, pernyataan lo itu apakah berimplikasi: subsidi berarti inefisiensi?..kalau iya, menarik nih for the fact that pernyataan ini datang dari Coen Pontoh…..:-)

    Bung Goio, salam kenal. Thanks sudah mampir.

  7. Coen Husain Pontoh Says:

    Lips,

    Gua itu kok selalu merasa senang ya ngobrol ama lo, padahal cuma sebatas blog. Soal tengah-tengah, gak ada yang ngalahin deh. Khan, “sebaik-baik umat adalah umat pertengahan?” Masih inget nggak?

    Makin efisien makin mahal itu artinya, makin subsidi dicabut makin ….. Jgn dipelintir lho,…:)

  8. tiiiiittt Says:

    Film Akeelah and the speeling bee emang siiip….tegang campur gimana gitu….

    *Sorry yah numpang kasi comment…..*

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s


%d blogger menyukai ini: