Layar Tancep Kota Jakarta

Sebetulnya saya ingin menulis entry ini minggu lalu, tapi tidak sempat, lalu lupa. Ini soal kota Jakarta. Rumah orang tua saya terletak dekat pemukiman orang Betawi. Main di situ, waktu kecil dulu, seru. Lebih seru lagi kalau ada yang pesta kawinan. Petasan dar-der-dor, juga layar tancep. Kalau ada layar tancep, kita nonton rame-rame, biasanya di lapangan bola. Layarnya besar, tiang penopangnya ditancapkan ke tanah. Karena itu namanya layar tancep. Biasanya dimulai jam 9 malam, sampai hampir subuh. Ada beberapa film yang diputar semalaman itu. Saya masih ingat satu film yang pernah saya tonton, judulnya Mat Peci. Dia kriminal Betawi, tapi baik hatinya…halah…he..he. Film-film Benyamin S. yang super lucu itu juga langganan diputar kalau ada layar tancep.

Nah, minggu lalu di kota tempat saya belajar ini, ada juga acara semacam itu. Di taman, orang ramai datang. Bawa tikar, bantal, kursi, makanan kecil sendiri, lalu bergeletakan di rumput. Layarnya besar, persis layar tancep itu. Bedanya, film yang diputar cuma satu, film kartun anak-anak Ice Age 2. Memang acaranya untuk keluarga, orang tua ramai datang bersama anak-anaknya. Film mulai diputar jam 9 malam, setelah hari agak gelap. Maklum sedang musim panas, siangnya panjang. Jam 8 malam, taman sudah padat. Biasalah, anak-anak berjoget-joget, diiringi lagu-lagu ‘wajib’ joget anak-anak. Misalnya, Makarena, YMCA, juga chicken dance (lagu chicken dance sering dipakai sebagai theme song-nya Warkop Dono Kasino Indro). Bulan depan ada lagi film yang diputar, Hook. Film anak-anak juga.

Sebulan atau dua bulan lalu, saya menulis di blog ini mengenai kota Adelaide dan Festival of Ideas. Kota Adelaide menyelenggarakan bazaar ide, bazaar seminar, dengan topik macam-macam. Sukses menjadi hiburan murah meriah warga kota. Acara putar film kemarin juga hiburan murah meriah untuk warga kota.

Jakarta kabarnya sedang bersiap memilih gubernur baru. Bang Faisal Basri kabarnya mencalonkan diri, semoga menang…he..he..he. Anyway, siapapun gubernurnya, tantangan terbesar adalah bagaimana membuat kota Jakarta menjadi manusiawi. Festival of Ideas, putar film, mungkin bisa ditiru. Penting untuk menciptakan public sphere alias ruang publik sebanyak-banyaknya.

Kalau kita tengok, kota Jakarta kita itu memang kurang hiburan untuk keluarga dan anak-anak. Mall ada dimana-mana, tempat main beton semua. Main di mall, mahal juga. Timezone, Sega, dan semacamnya itu. Sepertinya, kalau warga Jakarta bisa mengorganisasi diri, bisa juga bikin acara-acara murah meriah, outdoor. Seperti posting saya yang lalu-lalu, kita memang harus membudayakan voluntarisme. Skala-nya kecil saja. Mungkin akan efektif di tingkat kecamatan. Kalau ada warga sebuah kecamatan yang memulai dengan ide-ide kreatif dan murah, sebentar saja kecamatan yang lain pasti akan tertular juga.

Mungkin tugas gubernur untuk menjadi sumber inspirasi kreatifitas warganya. Yang sudah-sudah, gubernur jadi tukang gusur. Sumber ketakutan. Ada juga gubernur yang bikin taman besar, tapi lalu di pagar tinggi. Katanya supaya bersih dan tetap indah. Taman bukan untuk dinikmati, tapi dilihat dari jauh sudah cukup. Gagal menjadi ruang publik. Masih ingat seniman mural yang melukis dinding-dinding beton penyangga jalan layang beberapa tahun lalu di Jakarta? Datang aparat kebersihan Pemda DKI, hasil karya itu di cat putih semua, dikira ada yang iseng mencoret-coret dinding properti Pemda…ha..ha..ha. Konyol betul.

Kembali ke layar tancep, hiburan yang satu ini bisa juga diorientasikan untuk keluarga. Kita bisa mulai putar film setelah maghrib. Toh kita sudah mulai punya banyak film anak-anak, misalnya Petualangan Sherina. Biar anak-anak nonton bersama orang tuanya, kakaknya, adiknya, dan teman-temannya, di luar mall, udara segar.

Kalau saya ingat-ingat, jaman dulu layar tancep itu cuma dinikmati kaum laki-laki. Atau anak-anak muda. Begadang sampai subuh. Ada preman mabuk-mabuk sedikit, minum Anggur cap Orang Tua. Bahaya juga, berlaku hukum sadiba – salah dikit bacok…he..he Jarang sekali perempuan bisa menikmati hiburan layar tancep.

Layar tancep sepertinya potensial untuk diadopsi menjadi hiburan keluarga seperti tadi. Kita juga punya tradisi hiburan lain yang serupa, misalnya nonton wayang semalam suntuk. Tapi lagi-lagi, lebih dinikmati kaum laki-laki. Ada juga perempuan nonton wayang, paling satu dua, jarang juga yang tahan sampai pagi. Anak-anak yang nonton wayang malah jauh lebih jarang lagi.

Begitulah, semoga dengan gubernur baru sebentar lagi Jakarta lebih manusiawi. Walaupun, kita yang warga Jakarta (juga kota lain sebetulnya, ini kan era otonomi daerah) sebetulnya nggak perlu menunggu pemerintah memulai itu semua. Pasti kita bisa, buktinya acara 17 Agustusan-an di mana-mana selalu ramai. Nggak ada urusan dengan pemerintah. Untuk 17 Agustusan, warga bisa cari uang sendiri, kerja sendiri, bergembira sendiri, sesuai kemampuan kampung masing-masing. Yang perlu, mencari cara untuk membuat inisiatif dari bawah itu menjadi sesuatu yang lebih kreatif, sustainable, dan membuat kota Jakarta kita itu jadi lebih manusiawi. Agar semua nyaman tinggal di dalamnya, baik laki-laki, perempuan, ataupun anak-anak.

8 Tanggapan to “Layar Tancep Kota Jakarta”

  1. yus ariyanto Says:

    bung,

    ente dulu suka ikut main judi koprok di layar tancep?

  2. philips vermonte Says:

    ah pegimane ente, rugi jadi pemain. Gw jadi bandar dong…

  3. yus ariyanto Says:

    kak philips, boleh nyambung lagi, gak?

    beberapa kelompok sebenarnya sudah berusaha menjadikan jakarta lebih “hidup dan manusiawi.” satu contoh, sabtu ini, di lapangan banteng, akan ada festival jajanan betawi. sebuah perusahaan multinasional menjadi sponsor. acara dimulai sore hingga larut malam. akan ada ketoprak ciragil, nasi uduk kebon kacang, etc. juga tampil tanjidor dan lenong betokaw.

    dalam bayanganku, event semcam ini punya kans untuk menyajikan suasana baru, menyempal dari rutinitas urban yang menjemukan–meski mungkin ada motif bisnis di baliknya.

    (ssst…dulu ente sering ke sekitar lapangan banteng, kan?…he..he..)

  4. philips vermonte Says:

    bang yus, meriah pasti acaranya. Motif bisnis kan bukan dosa?..he..he. Wah, mantap ada nasi uduk kebon kacang. Tanjidor ama lenong betokaw pasti seru, lu ikut main?

    Makin seru kalo nggak usah jauh-jauh ke lapangan banteng, kalo di tempat-tempat lain juga ada. Cinere misalnya…he..he

    yoi, dulu memang kita berdua sering barengan ke sekitaran lapangan banteng bukan?..he..he

  5. Dicky Says:

    Hahaha.. Mat Peci…legend bener tu pelem…”Gua jedor melarat lu..!!”… hhehee.. untung bukan yang “Gua senggol bonges lu…!” :)
    Gue ngumpulin lagunya Bang Ben ampe 700 mega bung, mau?
    Btw, nasi uduk kebon kacang lewat jauh bung sama nasi uduk condet. Tempatnya kecil, gak ada plang-nya, di beranda rumah. Mantep! Dijamin populer ente bung…pokoknya pulang teler… :) Kagak ada kan disono? hehe.. :)

  6. mer Says:

    bung, ternyata anda punya blog juga yaaa….
    ah indahnya nostalgia… layar tancep bioskop misbar itu khas indonesia dan ruang civic yg genuine….
    btw, siapa sih calon kuat gubernur dki? faisal basri ini?

  7. philips vermonte Says:

    wah Mbak Mer, pencalonan masih proses. Belum ketahuan siapa yang kuat…

  8. infamous lurino Says:

    sustainability dan jakarta sepertinya bukan jodoh…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s


%d blogger menyukai ini: