Banjo Dr. Leong, Biola dan Berenang

Saya punya kenalan, Dr. Stephen Leong namanya. Dr. Leong adalah seorang ekonom senior di Institute of Strategic and International Studies (ISIS) Malaysia. Usianya sekitar awal 60-an.

Saya beberapa kali bertemu Dr. Leong dalam konferensi yang diadakan oleh ASEAN Institute of Strategic and International Studies (ASEAN-ISIS). ASEAN-ISIS adalah jaringan lembaga think-tank se-Asia Tenggara, dimana CSIS tempat saya bekerja sebagai peneliti dan ISIS Malaysia ikut aktif di dalamnya. CSIS juga merupakan salah satu pendiri jaringan ASEAN-ISIS ini.

Anggota ASEAN-ISIS adalah lembaga think-tank serupa CSIS dari setiap negara anggota ASEAN. Misalnya, di Thailand, ASEAN-ISIS diwakili oleh ISIS Thailand yang berbasis di Chulalongkorn University di Bangkok. Di Manila, ASEAN-ISIS diwakili oleh ISDS (Institute of Strategic and Development Studies) yang dimotori oleh pengajar-pengajar di University of Philippines. Mereka yang mempelajari studi politik luar negeri dan diplomasi tentu familiar dengan istilah second-track diplomacy. ASEAN-ISIS adalah sebuah bentuk second-track diplomacy, melengkapi diplomasi formal yang dilakukan oleh aktor negara.

Dr. Leong adalah orang yang ramah dan baik sekali. Bicaranya pelan. Dalam konferensi, dia senang memilih duduk dengan peneliti-peneliti muda. Di manapun konferensi ASEAN-ISIS diadakan, Dr. Leong selalu membawa banjo-nya, dan memainkannya bilamana ada kesempatan. Mungkin saat dinner atau setelah session terakhir usai.

Sekali waktu saya bertemu Dr. Leong dan banjo-nya itu. Saya ngobrol dengan dia. Saya bilang, “Dr. Leong, I wish I could play a music instrument like you do with your banjo”. Dr. Leong bilang: “Let me tell you, I did not know how to play this banjo 15 years ago. I just wanted to learn something new”. Saya manggut-manggut, merasa sedang dinasihati. Lalu dia tanya: “Memang kamu ingin bisa main alat musik apa?”

Tanpa pikir panjang, saya bilang: “biola.” Memang saya suka mendengar biola dimainkan, saya suka mendengarkan karya klasik Vivaldi, terutama Four Seasons – nya yang indah itu.

Dr. Leong lalu dengan serius bilang: “Would you promise, kalau setahun lagi kita bertemu, kamu akan bilang bahwa kamu sudah bisa main biola?”. Dia bilang, “why not try something new? Believe me, it feels good kalau kita belajar sesuatu yang baru hingga bisa, anything, seperti saya memutuskan belajar main banjo 15 tahun lalu. Umur bukan halangan” Saya mengangguk, ragu-ragu.

Setahun kemudian, saya bertemu Dr. Leong lagi. Pertanyaan pertama yang terlontar: “Young man, bagaimana biolanya?” Saya kaget dia masih ingat, sementara saya lupa sama sekali pernah punya niat belajar main biola. Melihat saya kaget, Dr. Leong bilang:”Ok. I’ll give you another year”. Wah….

Hal lain yang ingin saya pelajari selain main biola adalah berenang. Sejak kecil saya tidak bisa berenang, payah memang. Makanya jadi penasaran juga. Tiga minggu terakhir ini saya sibuk belajar berenang, hampir setiap hari. Kulit jadi hitam legam, karena sedang summer di sini. Saya bertekad harus belajar berenang sampai bisa kali ini.

Saya belajar di kolam renang ukuran kecil, tempat anak-anak kecil berenang…he..he. Saya ingat Dr. Leong bilang umur bukan halangan, jadi saya telan rasa malu belajar di kolam renang anak kecil itu. Setelah tertelan air kolam renang beberapa gallon (he.he), akhirnya bisa juga saya berenang. Lumayan, sekarang sudah cukup lancar dan bisa bolak-balik sekitar 5 atau 6 kali di kolam renang yang besar…he..he. Betul juga kata Dr. Leong dulu, it feels good kalau kita mempelajari sesuatu yang baru hingga menguasainya. Sekarang saya masih berhutang belajar satu hal pada diri sendiri (pada Dr. Leong juga mungkin): main biola. Let’s see, whether next year I can post a new entry in this blog titled: “Me and My Violin” or not.

7 Tanggapan to “Banjo Dr. Leong, Biola dan Berenang”

  1. the writer Says:

    ha ha..tulisan ini seharusnya judulnya “my wildest dream”….mimpiku jadi penyanyi jazz ..jelas tidak akan tercapai dalam setahun..

  2. Dina Says:

    gak nyangka loe gak bisa berenang? oh, pantesan gak pernah ikutan kita-kita berenang bareng dulu waktu kuliah?… alasan pergi ke cikapundung; padahal menghindari ketahuan gak bisa berenang… aha!

  3. Babe Says:

    Tulisan ini kudu gue kasih ke bini gue, karena dia ngetawain cita2x gue utk belajar saxophone mulai taon depan:)

  4. hikmat Says:

    ha..ha…ha… philips. pantesan aku denger dari si Nico kamu sekarang rajin berenang. kirain karena kamu menyukai pemandangannya…hahaha….

  5. philips vermonte Says:

    wah…wah…sambutan meriah juga nih…..he..he. Baru pada tau ya gw nggak bisa berenang dulu (jangan lupa pake past tense…)?..he..he

    Babe, pasti gampang belajar saxophone, lo kan udah gape main piano gitu..

    Bos Hikmat…he..he bisa aja ente…Yang suka pemandangan ya si Nico, soalnya tinggal dia sekarang yang belum bisa berenang…jadi kerjanya liat-liat aja…Dia juga lagi belajar keras berenang tuh…kasih semangat tuh..he..he

  6. mer Says:

    this is impossible…. guess what? violin and swimming, two big things i really wanted to learn too. i finally did learn swimming when i was in hawaii 2 years ago (ya sampe hitam) — and now I can swim.. i bought a cheap violin by the end of 2004, took 3 months lesson (but stopped because i moved to other country). i am not yet a good player, but i did play in a band in enschede.

    the message is: idiiiiiih… elu ikutan2 gue banget deh… huahahaha…

  7. philips vermonte Says:

    Mbak Mer, kalo udah bisa, kirim ke gue violin-nya…he..he. Biar gue yang belajar sekarang…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s


%d blogger menyukai ini: