Antara Majalah EPPO dan Novel Michael Crichton

Beberapa hari lalu di blog saya ini ada sedikit diskusi mengenai sejarah, yang berkembang dari comments atas sebuah posting. Entry saya kali ini sedikit banyak soal sejarah, tapi beda konteks dengan diskusi itu. Namun, entry ini ringan-ringan saja, sedang tidak ada ide dan mood untuk nulis sesuatu yang lebih serius. Peringatan lain: ini cuma khayal-khayalan. Jadi kalau kebetulan anda baca, jangan ditanggapi terlalu serius…he..he.

Tadi siang saya sekeluarga jalan-jalan ke Wakefield Mall, 30 menitan bermobil dari kota tempat saya belajar. Semua toko di mall itu sedang menggelar diskon besar-besaran. Biasalah, tradisi diskon tahunan menyambut Independence Day, 4th of July. Kami beli sebuah mainan mobil-mobilan dengan radio kontrol sederhana, untuk anak saya yang paling kecil, yang baru dua tahun umurnya. Karena diskon, harganya murah meriah.

Saya perhatikan anak itu takjub bukan main melihat mobil-mobilan dengan radio kontrolnya bisa putar-putar kesana kemari sendiri, tanpa dia sentuh. Saya ingat kakaknya, waktu masih seumuran dia dulu, juga takjub sibuk blingsatan ke sana kemari waktu dibelikan mainan kereta api yang bisa jalan sendiri di lintasan dengan baterai. Coba perhatikan reaksi genuine anak-anak seumuran mereka saat berinteraksi dengan ‘teknologi’ yang baru pertama kali mereka temui, pasti seru.

Kebetulan, saya sedang membaca sebuah novel karya Michael Crichton yang lain, judulnya Time Line. Saya suka penulis yang satu ini, karena dia berhasil membuat novel fiksi ilmiah dengan penuturan yang enak. Saya menyenangi karya-karya Michael Crichton setelah dulu membaca karyanya yang berjudul Congo tentang eksperimen kecerdasan simpanse, lalu State of Fear mengenai pemanasan global, dan sekarang Time Line.

Time Line mengambil tema yang ‘hampir tidak masuk akal’, tetapi selalu menjadi impian banyak orang: traveling ke masa lalu. Basis kisah novel ini adalah teori fisika kuantum. Ada pembahasan, referensi dan kata pengantar mengenai asumsi sains mengenai kemungkinan perjalanan ke masa lalu, dan juga bibliography. Novel-novel Michael Crichton selalu diawali dengan kata pengantar mengenai ‘sains’ yang hendak dia bahas, dan diakhiri oleh bibliography tulisan-tulisan akademik mengenai topik yang dia bahas. Kali ini termasuk sejarah perkembangan teori kuantum, sejak zaman rintisan Niels Bohr hingga kontemporer.

Setelah dibaca, beberapa bagian novelnya tidak terlalu saya pahami…he..he. Mungkin karena saya belajar fisika terakhir kali waktu SMA kelas 1 hingga kelas 3, dan itu berarti lebih dari sepuluh tahun lalu. Kuliah pindah haluan ke jurusan sospol. Selepas SMA, baca-baca hal-hal yang berhubungan dengan fisika jarang-jarang, hampir tidak pernah. Yang membuat saya tenggelam dalam novel ini adalah plot dan approach yang dibangun Crichton.

Dia bilang, ilmu alam (sains), telah ber-revolusi sedemikian rupa sehingga metodologi ataupun teknik observasinya sudah jauh berkembang. Astronom sudah bisa kirim satelit ke luar angkasa, bisa mengirim image foto obyek luar angkasa ke bumi. Ahli-ahli biologi sudah memiliki mikroskop super canggih, yang jauh lebih detil dari mikroskop jaman baheula.

Sementara, ilmu humaniora relatif jalan di tempat, baik metodologi maupun teknik observasinya. Misalnya, sejarawan umumnya, dari dulu sampai sekarang, ya mencari dan menganalisa dokumen-dokumen atau tuturan dari masa lalu saja. Dengan memanfaatkan fisika kuantum, kata novel ini, ilmu yang berhubungan dengan sejarah bisa juga melakukan lompatan seperti sains dalam teknik observasinya. Para arkeolog atau sejarawan yang selalu bermimpi untuk bisa ‘datang’ ke masa lalu, dimungkinkan untuk melakukannya. Mereka bisa menceburkan diri ke tempat atau masa obyek penelitiannya, saat sedang berlangsung dalam present tense. Mereka akan bisa melihat dan merasakan sendiri bagaimana sejarah terbentuk. Dengan teknologi ini, mungkin saja pemahaman kita saat ini mengenai sebuah episode sejarah tertentu di masa lalu terbukti salah semua…he..he.

Novel ini menceritakan sekelompok arkeolog yang sedang menekuni sebuah situs yang berasal dari abad ke 13 di Perancis. Dengan ‘teknologi fisika kuantum’ yang dikembangkan sebuah perusahaan riset, mereka terlempar ke real time abad ke 13 di tempat itu. Abad ke 13, dalam literatur sejarah, dikenal sebagai Abad Kegelapan Eropa. Tapi Crichton, seperti biasa dengan penelitiannya sebelum menulis novel, menemukan bahwa Abad ke 13 itu juga merupakan Abad dimana sejarah teknologi modern Barat mulai berkembang.

Ketika melihat wajah anak saya yang takjub dengan radio kontrolnya tadi itu, saya seketika terbayang sebuah setting dalam novel Time Line, ketika para prajurit dan ksatria abad 13 berhadapan dengan tim arkeolog yang datang dari masa depan dengan mesin kuantum ini. Mungkin mereka juga takjub, tidak percaya, melihat manusia di masa depan punya kemampuan yang beyond their imagination. Bisa jadi dianggap tukang tenung, kalau tidak beruntung bisa dihukum gantung…he..he.

Well, mungkin Wright bersaudara akan takjub juga bila mengetahui bagaimana perkembangan teknologi pesawat terbang yang mereka rintis dulu itu, sekarang sudah bisa melintas benua berjarak puluhan ribu kilometer non-stop, mengangkut ratusan, bukan cuma satu atau dua, penumpang sekaligus.

Saya teringat sebuah majalah anak-anak yang saya gemari di masa-masa SD dan SMP dulu. Tahun 1980-an, ada majalah berisi komik serial bergambar yang sangat populer. Namanya EPPO. Majalah EPPO berisi macam-macam komik serial bergambar. Ada serial taktik si jago bola Roel Dijkstra, cerita agen polisi 212, kisah petualangan Arad dan Maya, dan lain-lain.

Serial Arad dan Maya ini serupa dengan novel Time Line. Bedanya, Arad dan Maya tidak pindah ke masa lalu. Akan tetapi, mereka berdua bisa berpindah-pindah dari satu tempat ke tempat lain dalam sekejap dengan ‘transponder’.

Pindah waktu dan pindah tempat dalam sekejap mata, setelah baca novel Michael Crichton dan mengingat komik masa kecil semacam Arad dan Maya itu, sepertinya mungkin-mungkin saja. Kalau itu bisa terjadi semasa saya masih hidup, mungkin saya akan seperti anak-anak tadi: takjub, antusias dan blingsatan kesana kemari. Saya tidak tahu persis bagaimana reaksi para fisikawan dengan novel ini. Mungkin mereka cuma bilang: ‘yaah, namanya juga novel, jangan dianggap serius Maaas’….

9 Tanggapan to “Antara Majalah EPPO dan Novel Michael Crichton”

  1. Ujang Says:

    Ah, so you’re an Eppo fan too. I know somewhere there must be someone who shares my fondness for the magazine. Trigan, Storm and Roel Dikjstra were my favorites.
    *Arad and Maya’s device is called a teleport, I believe.

  2. philips vermonte Says:

    Bung Ujang, ya, you are right. Now I remember, it is called teleport…It’s been such a long time…

  3. Rinto Priambodo Says:

    Hallo, bung Philips dan bung Ujang. Wah, saya juga suka banget tuh dulu sama Arad dan Maya dan teleportnya. Sayang sekarang nggak ada lagi ya komik seperti itu. Kalau 212 saya punya beberapa komiknya, sama beberapa komik lain seangkatan yang sekarang juga udah nggak ngetop lagi seperti Smurf, Steven Sterk dan Spirou (kecuali Marsupilami yang versi kartunnya ditayangkan di televisi). Bahkan saya punya yang dulu nggak terlalu ngetop tapi sangat inspiring buat saya seperti komik tentang komikus nggak laku, Lampil, atau komik tentang jurnalis foto, Sarah Spits.
    Saya kebetulan juga penggemar Michael Crichton dan beberapa film yang anda sebutkan di ‘about me’. Kalau favorit saya adalah Airframe, karena saya juga suka pesawat. Makanya saya juga kehilangan Tanguy & Laverdue :)
    Bicara tentang Timeline-nya Crichton, seperti karyanya yang lain memang buku yang satu ini juga luar biasa penceritaannya. Tapi sebenarnya ada satu logika yang mengganjal buat saya dalam alur ceritanya. Saya tidak berbicara tentang logika di dunia nyata yang karena ini cerita fiksi tentu punya logika sendiri. Ya, meskipun fiksi, tapi dalam sebuah cerita fiksi tentu penulisnya akan membangun logika sendiri yang hanya logis di dalam cerita tersebut. Misalnya, Superman, yang dalam ceritanya adalah manusia super kuat, ketika suatu saat dia tertabrak mobil kemudian patah tulang, maka itu tidak sesuai dengan logika cerita dalam kisah Superman.
    Nah, kembali ke Timeline, dalam buku ini diceritakan bahwa manusia bisa melompat kapan saja ke waktu yang lalu di waktu mana saja. Artinya tidak ada keterkaitan antara waktu yang lalu dan yang sekarang atau dengan kata lain suatu waktu di masa lalu tidak dipengaruhi pergerakan waktu di masa lalu.
    Namun di cerita Timeline, kenapa orang-orang yang kembali ke masa lalu harus terpengaruh oleh hitungan waktu di masa sekarang. Di cerita itu kan disebutkan kalau dalam sekian jam mesin waktu akan rusak sampai harus dibuatkan perisai air segala. Apakah tidak mungkin orang-orang itu kembali ke masa sekarang persis sebelum mesin waktunya rusak, atau kembali beberapa saat setelah mereka pergi. Jadi mereka juga tidak harus kehilangan banyak waktu di masa sekarang. Bukankah itu tidak sesuai dengan logika yang dibangun Crichton di buku itu?
    Hmmm… agak bingung, ya? :) Saya juga masih suka bingung. Logika mesin waktu memang selalu membingungkan. Anyway, meskipun logikanya bikin bingung, tetap harus saya akui kalau kejar-kejaran waktu di buku itulah yang bikin ceritanya jadi seru.

  4. philips vermonte Says:

    Bung Rinto, thanks sudah mampir. Mungkin kelebihan Crichton adalah dia ‘mengunci’ imajinasinya agar tidak berkembang terlalu spekulatif dengan menggambarkan bahwa teknologi yang dikembangkan Donigger dan perusahaannya itu masih dalam tahap pengembangan…he..he.

  5. the writer Says:

    saya juga udah baca novel time line, dan juga udah nonton filmnya yang asli filmnya jelek banget. novelnya sih asik, walaupun saya tergagap memahami logika fisikanya. Asik banget kalau bisa kembali ke masa lalu ya? zaman apa yang bakal dipilih? kalau saya boleh milih, saya pengen balik ke zaman revolusi perancis, 1789. I want to experience some wildnesss and total anarchy..ha ha, when common people took over absolute monarchy. Tapi saya kan orang indonesia ya? kalo indonesia..humm..balik kemana ya? mungkin zaman majapahit, waktu gajah mada ngucap sumpah palapa, asik tuh kayanya..tapi saat itu perempuan cuma sekelas selir ya? boring isnt it? , hum..mungkin zaman syailendra kali..yang bangun candi borobudur…waktu itu indonesia lagi sakti betul kan? ok deh..tolong berangkatkan ke zaman syailendra dong..siapa bisa? ..he he..

  6. philips vermonte Says:

    to the writer

    mau juga sih kembali ke masa gadjah mada. Jangan-jangan sebetulnya sumpah dia berbunyi: “tidak akan makan kelapa sebelum dikupas”..he..he..he…Semua orang juga kalo makan kelapa dikupas dulu…he..he

    thanks udah berkunjung…

  7. yus ariyanto Says:

    bung,

    kalo harus terlempar ke masa silam, aku pilih gak jauh-jauh: masa-masa kuliah di bandung dan sekitarnya…ada diskusi, datang…ada demo, nonton…ada buku bagus, lari ke palasari…ada anak fisip (kayak ente), main cela-celaan…he..he…

  8. MARTIN GRAHITA Says:

    Halo,
    Saya ada beberapa komik lama seperti Nina, Storm, Trigan , Eppo dll
    Kalau tertarik boleh hubungi saya di martingrahita@gmail.com
    Salam kenal………..

  9. lee Says:

    ah, finally ada yang tau eppo
    i got these mags from my dad. loved them!
    apa masih ada lanjutannya?

    arad & maya yang saya paling suka adalah yang ada istilah manusia berotot kampungan, hahahaha…

    salam kenal ya

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s


%d blogger menyukai ini: