Voluntarisme di Amerika

Walaupun sudah setahun di Amerika, ada banyak hal sederhana yang tetap membuat saya kaget. Kali ini soal voluntarisme. Sejak sebulan lalu, kami telah dikirimi surat dari dewan kota Dekalb mengabarkan program-program musim panas untuk anak-anak. Ya, musim panas sudah dimulai. Program-program untuk anak-anak yang tersedia banyak sekali: ada klub baseball, soccer, gulat, catur, melukis, dan banyak lagi. Hampir semuanya gratis (subsidi silang maksudnya: yang kaya harus bayar, yang nggak punya uang boleh gratis…he.he).

Salman anak saya yang duduk di 2nd grade itu ikut klub baseball. Klub baseball ini sudah mulai berlatih sejak sebulan lalu, seminggu dua kali. Mereka dilatih oleh dua orang coach yang sangat suportif. Mereka juga mengadakan kompetisi baseball antar klub anak-anak ini, yang ternyata cukup banyak jumlahnya. Tadi sore, klub si Salman bertanding di kandangnya, di Hopkins Park Dekalb. Minggu depan mereka akan bertanding away, di taman tempat berlatih klub lain. Pertandingannya serius, seperti liga profesional orang dewasa…he..he. Mereka pakai seragam lengkap, dan orang tua datang menonton ramai sekali, sibuk berteriak-teriak menyemangati anak-anaknya.

Satu hal yang luar biasa buat saya adalah bahwa ini semua dikelola secara sukarela oleh para orang tua. Coach-nya adalah orang tua dari anak-anak yang ikutan klub. Orang tua juga yang mencari sponsor untuk kompetisi baseball anak-anak yang rutin diselenggarakan setiap tahun ini. Semua klub baseball anak-anak ini dapat sponsor, karena perusahaan-perusahaan lokal selalu antusias membantu kegiatan-kegiatan volunteer.

Sebulan lagi, klub soccer juga akan dimulai. Salman akan ikut juga. Klub ini malah dikelola oleh sebuah LSM pecinta soccer, yang getol sekali menyebarkan semangat gila sepakbola. Ini juga organisasi volunteer yang besar sekali. Skala organisasinya federal, tetapi kegiatan mengadakan klub sepakbola selama summer dilakukan sampai di tingkat county. Orang tua yang mendaftarkan anaknya untuk ikut klub soccer selama musim panas ini disodori list untuk menjadi volunteer: apakah mau jadi wasit, cleaning service setelah pertandingan anak-anak, P3K dan lain-lain. Akibatnya, kegiatan fun semacam ini melibatkan banyak sekali orang, dan semakin fun.

Ketika sampai di Amerika bulan Agustus 2005 lalu, saya diikutkan dalam kegiatan yang bernama Summer Orientation Program oleh Fulbright sebagai pemberi beasiswa, sebelum mulai kuliah di Northern Illinois Uni. Saya kebagian mengikuti summer program di University of Nebraska di Lincoln. University of Nebraska dikenal sebagai universitas pemakai Mac, karena hampir semua komputer di kampus itu adalah Macintosh. Bagus lah, tercerahkan dari penjajahan Windows dan Bill Gates…he…he.

Dalam program di Nebraska, para peserta dititipkan untuk tinggal di rumah-rumah keluarga Amerika selama beberapa hari. Kami dikirim ke luar kota Lincoln, ke kota-kota kecil, untuk home stay. Melalui program itu, saya mengalami sendiri kehidupan sehari-hari orang “biasa” Amerika. Nyatanya, pengalaman saya berbeda dari bayangan yang saya tangkap di layar kaca. Bukan bayangan tentang Amerika di New York, Washington D.C., Las Vegas, Hollywood, Los Angeles, California atau Chicago yang serba gemerlap, seperti yang sering kita lihat lewat acara Sex in the City, Friends atau film-film Hollywood lain misalnya.

Selama homestay, kami mengunjungi bermacam-macam tempat. Pengalaman luar biasa buat saya adalah saat kami mengunjungi sekolah- sekolah dasar dan menengah di kota tempat saya homestay itu. Sekolah-sekolah itu memiliki fasilitas pendidikan yang sangat luar biasa. Di sini, lembaga school board adalah bagian inheren dari manajemen sekolah. Sehingga orang tua ikut menentukan kebijakan sekolah: beli ini itu, bangun ini itu dan lain- lain. Semua fasilitas itu adalah hasil kerja keras para orang tua menggalang dana. Di Indonesia kebijakan untuk memiliki dewan sekolah di tiap sekolah baru mulai tiga tahun terakhir, seiring dengan dimulainya program desentralisasi. Mungkin belum semua sekolah punya dewan sekolah saat ini.

Akar dari semua hal yang saya gambarkan diatas adalah voluntarisme dan tingginya inisiatif dan partisipasi masyarakat dari bawah. Masyarakat Amerika tidak bergantung pada negara atau pemerintahnya. Dewan sekolah dipilih lewat pemilihan yang kompetitif di tingkat komunitas. Anggota Dewan Sekolah yang terpilih sama sekali tidak menerima bayaran apapun selama masa baktinya. Tetapi, kalau mereka tidak menjalankan tugasnya dengan baik, masyarakat akan memecatnya. No hurt feeling. Tidak bakal ada lontaran “masih untung gue mau kerja nggak dibayar!” dari orang-orang yang merasa berjasa dan telah bekerja keras tetapi merasa tidak dihargai atau tidak dipilih lagi.

Anehnya, walaupun tanpa dibayar, mereka tetap bertanggung jawab dan bekerja sungguh-sungguh. Tidak berlebihan untuk mengatakan bahwa voluntarisme adalah denyut nadi demokrasi di Amerika. Di Lincoln misalnya (saya sebetulnya dititipkan di sebuah keluarga di kota sangat kecil bernama Crete, yang jauhnya kurang lebih satu jam bermobil dari Lincoln), pemadam kebakaran juga merupakan kegiatan volunteer. Warga kota Crete beramai-ramai mendaftar menjadi petugas pemadam kebakaran part time. Mereka ikut training, dan siap dipanggil kapan saja. Kantor dan mobil pemadam kebakaran kota Crete adalah hasil gotong royong warga kota.Lagi-lagi mereka tidak bergantung pada pemerintah atau negara.

Saya mengunjungi kantor pemadam kebakaran di Crete dan melihat fasilitas lengkap di sana. Di kantor itu ada sebuah rak besar yang memajang memorabilia, sisa-sisa berbagai kebakaran yang pernah terjadi di Crete sejak ratusan tahun lalu. Juga kliping-kliping koran tua yang memberitakan peristiwa-peristiwa kebakaran itu. Ada juga foto-foto dari seratus tahun lebih yang lalu yang memperlihatkan kantor pemadam kebakaran yang dikelola masyarakat saat mereka masih memakai ember dan tali tambang untuk menyiram air. Saya simpulkan waktu itu, voluntarisme bukanlah hasil dari kemakmuran Amerika saat ini. Akan tetapi ia merupakan bagian inheren dari kultur Amerika.

Jabatan Mayor (mungkin setara dengan Camat) dari kota Crete tempat saya homestay itu juga merupakan jabatan tanpa bayaran. Tetapi, untuk menjadi Mayor, seseorang harus bersusah-susah berkampanye lewat pemilihan lokal, tanpa ada harapan akan balik modal setelah terpilih kelak lewat jual beli tanah bengkok…he..he..he.
Voluntarisme adalah bagian integral budaya Amerika, yang berakar di tingkat lokal. Sementara di Indonesia, gagasan pemilu dan partai lokal ditolak mentah-mentah oleh partai-partai besar yang berbasis di Jakarta. Mereka tahu persis bahwa kekuasan mereka akan tereduksi sangat banyak kalau sampai partai lokal diijinkan berdiri.

Seratus tahun lalu, filsuf besar Perancis Alexis de Tocqueville penasaran dengan demokrasi Amerika. Tocqueville memutuskan untuk pergi ke Amerika, untuk mencari tahu dan melihat sendiri mengapa demokrasi Amerika sangat kuat, dan berbeda dengan Eropa. Dia tinggal selama beberapa tahun di Amerika. Setelah pulang ke Perancis, Tocqueville menuliskan hasil pengamatannya itu menjadi sebuah buku, Democracy in America, yang kemudian menjadi bacaan wajib mahasiswa ilmu politik hingga saat ini.

Dulu sekali, saya sudah pernah membaca terjemahan buku ini. Sudah tahu juga dari buku itu mengenai pentingnya voluntarisme sebagai faktor esensial bagi pembentukan masyarakat madani. Akan tetapi, saya tidak menyadari betapa sangat luas dan berakarnya budaya voluntarisme di Amerika, hingga saya datang dan melihat sendiri lewat program homestay itu. Dan tadi sore, sepulang pertandingan klub baseball anak-anak, saya kembali tercenung.

3 Tanggapan to “Voluntarisme di Amerika”

  1. Puspa Says:

    Too bad I’m not and cannot be able to capture this other side of the US…..I don’t have the impression that voluntarims works to solve the problems of DC (extremely high crime rates, poverty, homeless)

    Btw, what dya think about the 21st Tocqueville, Bernard-Henri Levy, the french guy who also came to the US on a mission similar to Tocqueville? His book American Vertigo certainly didn’t carry the same lines of optimism as Tocqueville….or perhaps maybe you would say to send him to Nebraska? ;-)

  2. Philips Vermonte Says:

    puspa, yea you’re right. send that guy to Nebraska or orther cities in Midwest…:-)

    I guess Levy’s mission was not similar to that of Tocqueville. Levy since the very beginning intended to refute Tocqueville’s conclusion, which is ok for him to do that. I have to admit that I have not read Levy’s book though. But i suspect that he, like many other contemporary criticisms directed to the U.S, spoke about how a small number of conservative elites, you-know-who, hijack U.S foreign policy agenda (kalo’ ngga, ya maap kan belum baca bukunya..he.he. but i will certainly look for the book).

    In other words, I am not talking about “high politics”. I am interseted in sharing the “low politics”, which is the daily democratic life at the very grassroot level of the American society (not in the big cities perhaps). It’s like the situation when you can find more wisdom from the people living in a village somewhere in Sumatra or Java while it is difficult to comprehend the elite in Jakarta…:-)–>

  3. Ujang Says:

    Gue baru baca lagi post ini, thanks to Facebook. Gue ingat waktu itu ngikutin Bernard-Henri Levy series di Atlantic Monthly yg kemudian jadi buku American Vertigo, tapi sampai sekaraang belum baca bukunya. Dan kayaknya gue waktu itu enjoy bacanya. Tapi coba baca reviewnya Garrison Keillor tentang buku itu: http://www.nytimes.com/2006/01/29/books/review/29keillor.html?_r=1
    dan komentar orang soal Keillor’s review: “.. BHL deserved to be skewered. Keillor writes about a fictional place that we all wistfully know. BHL tried to describe a real place but ended up talking fiction…”

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s


%d blogger menyukai ini: