Only the Good Die Young

Tiga Keping Kenangan Saya Tentang Munir

Akhirnya, saya mengalahkan keraguan untuk menulis kenangan pribadi saya tentang Cak Munir. Bukan apa-apa, tentunya ada banyak orang lain yang jauh lebih dekat dan lebih pantas untuk menulis kenangan tentang almarhum. Rasanya tidak pantas kalau saya menulis kenangan pribadi ini. Tapi, karena keinginan dan penghormatan yang begitu kuat atas almarhum, saya memberanikan diri membuat serpihan kecil ini sebagai kenangan untuk Cak Munir.

***

Kepingan kenangan pertama, seingat saya, terbentuk tahun 2002. Saat itu, saya pertama kalinya terlibat dengan diskusi serius dengan Cak Munir. Teman-teman di INCIS (Institute for Civil Society Studies) yang didirikan para mantan aktifis mahasiswa UIN Ciputat mengundang saya hadir sebagai pembicara dalam sebuah seminar, dipasangkan dengan Cak Munir dan seorang petinggi TNI. Acara berlangsung di Jakarta Design Center, di daerah Slipi dengan topik berkisar soal hubungan sipil militer. Saya antusias, sebagai pemula dalam dunia perdiskusian karena belum lama bergabung dengan CSIS di pertengahan tahun 2001, dipasangkan dengan Munir. Hingga hari itu, Cak Munir hanya saya kenal lewat tulisan dan opininya di berbagai media massa. Dalam seminar, saya sungguh terpukau dengan kedalaman dan ketajaman analisisnya atas beragam persoalan. Dia juga seorang yang straight forward, bicara langsung pada tujuannya.

Dihadapannya, hari itu, saya betul-betul merasa tidak tahu apa-apa. Dari Cak Munir, hari itu juga, saya belajar tentang keteguhan dan kesungguhan untuk mendalami persoalan. Usai seminar, iseng-iseng saya bertanya kepadanya: “Mas, sampeyan kok kayak tidak punya rasa takut?”. Munir tertawa kecil, dia bilang: “Bung, tubuh kita ini ternyata punya mekanisme tersendiri dalam mengatasi rasa sakit. Aku, waktu masih di Malang dulu, pernah diintegorasi aparat plus penyiksaannya. Lima menit pertama badan memang terasa sakit, tapi sesudah lima menit sakitnya sudah ndak terasa” kata Munir sambil terkekeh. “Lah, kalau sudah begitu, buat apa lagi rasa takut?”lanjutnya sambil tersenyum.

***

Kepingan kenangan kedua terjadi kurang lebih tiga atau empat minggu lalu. Suatu sore, Andi Widjadjanto (dosen di Universitas Indonesia), dan Smita Notosusanto (CETRO) menelpon saya. Rupanya, Andi yang seharusnya menjadi pembicara pendamping dalam sebuah diskusi live di radio Trijaya hari itu, mendadak ada keperluan lain. Keduanya meminta saya untuk menjadi pengganti. Tema-nya seputar RUU TNI yang kontroversial itu. Saya diminta menggantikannya. Ternyata, lagi-lagi saya berpasangan dengan Cak Munir. Saya mengiyakan permintaan itu dan langsung terbirit-birit berangkat dari CSIS di bilangan Tanah Abang III menuju studio radio Trijaya di komples RCTI di kawasan Joglo. Diskusi cukup hangat, walaupun sebenarnya jadi lucu. Karena kami berdua sama-sama orang “beriman” untuk urusan keyakinan perlunya menempatkan militer dibawah kontrol otoritas sipil. Di tengah break iklan, saya yang sudah mendengar rencana Cak Munir meneruskan studi di Belanda, bilang pada dia: “Cak, gimana ini. Sampeyan mau ke Belanda, tapi pasti masih dibutuhkan di sini. RUU TNI ini kan masalah besar”. Munir hanya tertawa, dia bilang: “Philips, masalah begini akan selalu muncul, bahkan dari dulu”. “Kalau nurutin problem ini, saya ndak akan jadi-jadi berangkat sekolah”. Aal, rekan dari Imparsial yang menemani Cak Munir malam itu juga tersenyum.

Acara berlangsung jam 7 sampai jam 9 malam. Begitu selesai, kami bersama-sama keluar studio. Munir tampak masih segar, dia menggamit lengan saya. “Bung, jangan lama-lama di sini. Satu episode kehidupan barusan sudah selesai, ayo segera pergi untuk menangani episode yang lain”, katanya bersemangat. Saya sungguh tercekat mendengar ini. Ujaran Munir ini membuka pemahaman saya yang baru tentang dirinya. Bahwa Munir adalah seseorang yang committed untuk setiap persoalan, dan selalu siap menghadapi persoalan baru.

Saya sempat lama-lama berpikir, dimana lagi saya pernah mendengar “ajakan”serupa dengan Munir itu. Akhirnya saya ingat, sebagai muslim, Tuhan pernah berfirman dalam surah Alam Nasyrah (Al Ishrak) yang kurang lebih artinya adalah: “dan begitu selesai dengan satu urusan, bersegeralah kamu mengerjakan urusan yang lain”. Cak Munir, saya yakin, adalah orang yang menghayati agamanya tanpa pernah sibuk mengeluarkan teori agama. Setiap muslim juga tahu akan sebuah ajaran yang menyebutkan bahwa setiap langkah yang membawa seseorang lebih dekat kepada ilmu pengetahuan merupakan ibadah luar biasa di mata Tuhan. Dan Munir sedang melakukan itu ketika Tuhan memanggilnya pulang. Ia sedang dalam perjalanan menempuh ribuan kilometer, melintas zona waktu yang berbeda, dari Jakarta ke Amsterdam, untuk mencari ilmu pengetahuan. Ia berniat mereguk ilmu dari fountain of knowledge di kampus-kampus dan perpustakaan-perpustakaan di negeri Belanda dan juga mungkin Eropa.

***

Kepingan kenangan ketiga terjadi seminggu lalu, kali ini tanpa Munir. Kamis pekan lalu saya berada di kampus Sorbornne Paris, menghadiri sebuah konferensi tentang Asia Tenggara. Malamnya, seusai presentasi, saya bersama M. Najib Azca yang mengajar di Fisipol UGM dan Gerry van Klinken, ahli Indonesia yang lama mengajar di Australia dan sekarang bergabung dengan KITLV di Belanda, pergi makan malam di sebuah restoran Asia, dekat gereja Notre Damme di Paris yang indah. Usai makan, Gerry mengajak kami mencari kedai kopi untuk melanjutkan obrol-obrol soal Indonesia. “Saya yang traktir”, katanya. Najib kebetulan pernah membaca dalam sebuah buku panduan, bahwa disekitar Sorbornne tempat kami menginap, ada sebuah café yang dulunya merupakan tempat minum kopi favoritnya Sartre, Picasso dan juga Hemingway.

Setelah mencari-cari dengan berjalan kaki, kami menemukan tempat itu. Terletak diperpotongan rue Bonaparte dan Saint-Michel yang membelah kota Paris. Di seberang café berdiri tegak sebuah gereja tua. Jadilah kami ngobrol berbagai hal disana. Sampai suatu waktu, terpikir oleh saya tentang Munir yang akan segera berangkat ke negeri Belanda. ” Gerry, sudah tahu Munir akan sekolah ke Belanda minggu depan?”, kata saya. Gerry van Klinken tampak antusias mendengar kabar ini. “Ah, jadi juga Munir berangkat sekolah lagi?”tanyanya. Lalu kepadanya saya mengulang pernyataan yang pernah saya sampaikan pada Munir di studio Trijaya dulu, tentang Munir yang perannya di Indonesia sangat dibutuhkan dalam wacana soal RUU TNI dan juga masa-masa penting pemilu saat ini.

Rupanya, respons Gerry van Klinken juga kurang lebih senada dengan jawaban Munir kepada saya dulu. “Masalah militer dalam politik di Indonesia masih akan selalu muncul. Jadi, memang kalau sekolah lagi akan bagus buat Munir dan juga mungkin akan bagus untuk gerakan HAM di Indonesia. Aura Munir sangat kuat, kalau dia pergi sebentar dan tidak berada di Indonesia, akan bagus untuk kaderisasi aktifis HAM di Indonesia”. “Sama seperti ketika Munir menyerahkan organisasi Kontras kepada mereka yang lebih muda”, begitu kata Gerry van Klinken.

Saya pikir betul juga. Untuk beberapa jenak lamanya, saya tidak memperhatikan lagi diskusi kami yang berpindah ke soal Ambon. Saya malah lantas membayangkan suasana dinamis dan diskusi-diskusi intensif antar mahasiswa asal Indonesia di Eropa umumnya, dan Belanda khususnya, yang akan semakin muncul dengan kehadiran Munir disana, untuk berbagi pemikiran, pemahaman dan pengalaman serta belajar bersama. Tapi Tuhan berkehendak lain.

***
Kemarin, ketika kabar berpulangnya Munir dikonfirmasi oleh kawan-kawan di Imparsial, rasa kehilangan yang amat sangat segera mendera. Terbayang oleh saya, rasa yang sama lebih dalam lagi menimpa orang-orang yang lebih dekat lagi dengan Munir daripada saya yang kadar hubungan dengan Munir biasa-biasa saja. Rasa haru yang aneh menyeruak dalam diri, di mobil dalam perjalanan pulang menuju ke rumah dari kantor. Radio M97FM, radio khusus musik rock klasik favorit saya, sedang mengudarakan lagu-lagu rock. Terpikir oleh saya sebuah lagu yang dilengkingkan oleh Bruce Dickinson, vokalis grup band heavy metal Iron Maiden yang terkenal pada era 1980-an itu: “Only the good die young….and the evil seems to live forever….only the good die young…”. Cak Munir, selamat jalan!

Philips J Vermonte
Tanah Abang III, 8 September 2004.

2 Tanggapan to “Only the Good Die Young”

  1. Sudirman Nasir Says:

    Bung Philips, saya singgah di blog anda yang sangat mencerahkan ini. Tulisan anda mengenai alm Munir ini sangat menyentuh. Terima kasih.

  2. edwin Says:

    setiap membaca kenangan pribadi orang atau menonton film tentang Munir, saya slalu merasa kehilangan, seakan2 dia baru pergi kemarin. Tulisan anda mencerahkan dengan memberi perspektif lain tentang Munir. Trims u/ berbaginya.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s


%d blogger menyukai ini: