Identity and Pilgrimage

Akhir pekan kemarin saya pergi ke Ann Arbor, Michigan. Menghadiri Graduate Student Conference yang diadakan Center of Southeast Asian Studies, University of Michigan. Saya dan dua teman lain yang juga akan presentasi makalah, berangkat jam 9 malam dari Dekalb, Illinois, dengan mobil sewaan. Padahal konferensi akan dimulai jam 9 pagi keesokan harinya. Apa boleh buat, kami ada kelas hingga jam 9 malam dan tidak mau kehilangan kelas itu, karena topiknya sangat menarik, religion and politics in Southeast Asia. Jadi kami memutuskan biarlah berangkat seusai kelas, dengan resiko tiba di Ann Arbor subuh jam 3 pagi. Dan memang begitulah kejadiannya.

Ann Arbor kota yang cantik. juga kampus University of Michigan yang dibangun sejak tahun 1817, kampus yang cukup tua juga usianya. Saya lantas teringat bagaimana saya terkagum pada suatu waktu di tahun 2004, ketika menghadiri European Southeast Asian Studies Conference yang diadakan di kampus Sorbornne, Paris. Kampus Sorbornne di bangun sekitar tahun 1100-an, seperti tertoreh pada sebuah plakat di salah satu sudut kampus. Jauh lebih tua dari kampus Uni of Michigan. Waktu di Sorbornne , pikiran liar saya sedang kumat saat itu, terpikir bahwa mungkin pada suatu hari di Sorbornne sekitar tahun 1100-an itu sedang berlangsung wisuda doktor, ketika di hari yang sama di negeri kita Ken Arok sedang sibuk menggoda Ken Dedes, memulai prahara turun temurun berdarahnya peristiwa suksesi politik di bumi Nusantara. Betapa kerja keras kita perlukan untuk mengejar ketertinggalan pengetahuan kita dari negeri-negeri Barat.

Seperti biasa, travelling buat saya selalu menyenangkan. Ia menjadi waktu yang tepat untuk berpikir. Sepanjang jalan menuju Ann Arbor, kami melewati kota-kota bernama Manchester, Chelsea, Parma dan nama-nama lain yang serupa dengan nama-nama kota di Eropa. European settlers generasi awal dulu rupanya membawa kerinduan pada tempat asalnya dan memberi nama tempat baru dengan nama tempat asal mereka. Dekat Dekalb (kampus Northern Illinois University-NIU-tempat saya belajar), ada juga kota-kota bernama Geneva dan Batavia. Tapi para settler dari tempat berbeda di Eropa itu menemukan identitas baru sebagai warga Amerika, yang dikenal dengan tradisi melting pot, tradisi multikulturalisme.

Lamunan perjalanan menuju Ann Arbor itu seperti menjadi benang merah yang terhubung ketika seminar berlangsung. Keynote speaker-nya, kebetulan adalah salah satu profesor dari NIU kampus saya, berbicara tentang sebuah topik menarik mengenai “pilgrimage” yang dilakukan oleh Haji Mohammad Sulong al Pattani di awal tahun 1900-an. Dialah, oleh pemerintah Thailand, yang dianggap patron dari gerakan “separatisme” di Pattani. Mungkin pandangan terhadap Haji Sulong kira-kira sama dengan pandangan terhadap Daud Beureueh di Aceh. Haji Sulong, dan banyak kisah lain yang serupa, pergi meninggalkan kota asalnya, pergi belajar dan bekerja, membelah dunia. Dia pernah menetap di Mekah dan menjadi tokoh terkemuka dan bahkan menjadi hakim disana. Selama periode religious dan intellectual pilgrimage-nya, Haji Sulong menyerap pandangan modernis Muhammad Abduh, yang ingin menghapus tradisi-tradisi irasional dan memberi jalan pada science. Di Mekah, dari ceramah itu saya tahu, komunitas pemukim asal Asia Tenggara termasuk Indonesia cukup kuat pengaruhnya sejak lama dan, yang terpenting, bertradisi moderat. Mereka dikenal sebagai komunitas Jawi (Jawah community). Mereka tergusur ketika kelompok Wahabi merebut Mekah dan Madinah pada tahun 1924 dan mendirikan dinasti Al-Saud, yang menjadi Arab Saudi sekarang. Banyak pemukim Jawi memutuskan pergi ke tempat lain, karena tidak cocok dengan kelompok Wahabi itu. Haji Sulong memilih kembali ke Pattani di Thailand selatan.

Tapi saya bukan hendak membahas gerakan Pattani. Saya lebih ingin bercerita mengenai ‘keajaiban’ yang senantiasa muncul dari pilgrimage. Dulu, Hatta dan Sjahrir pergi jauh belajar ke Negeri Belanda, melihat dan berkontemplasi atas kebebasan dan kemajuan di tanah Belanda, sementara negeri sendiri tertindas dan terhisap. Dalam intellectual pilgrimage ini, mereka berdua bertemu dengan Nehru, juga dari negeri tertindas. Menguatlah identitas diri, membuncah semangat merdeka. Di Bandung, pemuda Soekarno sama sekali tidak pergi menyeberang samudera, kegilaannya membaca buku membawanya juga pada intellectual pilgrimage. Pikirannya juga mengembara dan berkelana, berujung pula pada semangat ingin merdeka.

Pada akhirnya, kita semua adalah pengelana, membaca, melihat, berinteraksi dengan sesama. Akhirnya memahami diri dan negeri sendiri.

Dekalb, 2 April 2006
philips vermonte

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s


%d blogger menyukai ini: