Saya menemukan artikel menarik dibawah ini dari Kompas Online. Setuju dengan isinya. Kita di Indonesia sepertinya terlalu membebani anak-anak. Dan juga mungkin terlalu kaku soal pendidikan anak-anak.
Saya perhatikan di sini, sekolah anak-anak lebih fun. Pelajaran tidak berat-berat, banyak outdoor activities, dan di sekolah pelajaran olahraga ada setiap hari selama satu jam (sementara SD kita dulu pelajaran olahraga paling banyak hanya satu kali dalam seminggu, mungkin sekarang sudah ditambah).
Di samping itu, community activity berbagai macam olahraga dibentuk sendiri oleh warga untuk anak-anak. Ada sepakbola, baseball, senam, martial arts, renang, dan lain-lain. Selain yang bayar, ada banyak aktifitas komunitas ini yang gratis. Sepanjang penglihatan saya, aktifitas olahraga luar sekolah untuk anak-anak ini selalu dibanjiri peserta. Orang Amerika kelihatannya sangat gemar olahraga, dan menggemari community activity.
Anak-anak mereka dibiarkan bebas, pada saatnya nanti (saat di perguruan tinggi) pelajaran baru menjadi jauh lebih demanding.
Susah juga memang. Kita mungkin khawatir kalau anak kita tidak semaju anak lain. Akhirnya, orangtua membebani anak-anak. Dalam perspektif security studies yang dikenal dalam studi hubungan internasional, ini ibarat security dilemma. Ketika satu negara memodernisasi militernya, negara lain merasa terancam, lalu ikut memordenisasi militernya. Negara lain yang melihatnya, akhirnya ikut juga memodernisasi. Seperti efek spiral. Ujungnya adalah perlombaan senjata yang muncul dari persepsi itu.
Begitu juga kita orang tua di Indonesia. Takut anak kita tertinggal dari anak lain, akhirnya menjejali anak-anak. Dulu waktu anak saya masih TK kecil di Jakarta, saya ikutkan dia les Kumon, karena banyak anak lain ikut Kumon. Seminggu dua atau tiga kali kalau tidak salah. Ketika itu, dari perspektif saya sebagai orangtua, Kumon bagus. Tetapi, kalau dipikir-pikir, mungkin terlalu berlebihan juga anak umur 4 atau 5 tahun dijejali matematika dengan intensitas seperti di Kumon itu.
——————————————-
Otak Bekerja Baik Kalau Manusia Senang
Rabu, 28 Mei 2008 | 18:38 WIB
YOGYAKARTA, RABU – Otak akan bekerja dengan baik ketika manusia merasa senang dan tidak tertekan. Proses itu dimulai pada usia dini, dan berlanjut ke masa anak-anak hingga remaja. Hanya saja, pada usia tersebut, suasana senang dengan bermain sangat kurang porsinya.
Hal itu dikatakan Shifu Yonathan Purnomo, pakar kecerdasan otak yang juga pencipta dan pendiri Shuang Guan Qi Xia International (perguruan kecerdasan otak yang berpusat di Surabaya), Rabu (28/5), dalam Seminar Intrapreneurship di Universitas Atma Jaya Yogyakarta.
“Anak yang sejak di SD hingga SMA dianggap pandai, belum tentu nanti dia cerdas. Itu karena kondisi sekitar membuat otaknya tidak bekerja dengan baik dan maksimal. Ada tahap yang ingin dilompati, biasanya oleh orang tua mereka,” ujar Shifu.
Seorang anak, di masa sekarang, sudah dijejalkan materi pelajaran sejak TK. Bahkan di playgroup, pengenalan tentang huruf-huruf sudah diajarkan. Itu sebenarnya tidak perlu dan belum saatnya. Yang terbaik, anak dibiarkan saja bermain dan bergerak.
“Biarkan saja anak lari-lari. Kalau nggak mau belajar karena lagi malas, ya biarkan saja. Kenalkan dengan olah raga dan hal yang membuat dia banyak bergerak, bukan hanya duduk sambil bermain atau lari-lari bermain di dalam ruang kelas. Dengan banyak bergerak, zat milin sebagai nutrisi otak akan dibuat tubuh,” katanya.





