Wacana Jumlah Partai Politik dan Pemilu (1)

Akhir-akhir ini sedang ramai dibicarakan perihal pembatasan jumlah partai-partai politik. Terutama berkaitan dengan proses pembahasan RUU Politik di DPR. Pada dasarnya saya bersetuju jika jumlah partai politik di kurangi. Masalahnya, kapan dan bagaimana caranya?

Sebetulnya saya pernah sedikit membahas soal sistem politik dan sistem pemilu kita di blog ini sebelumnya (klik di sini jika ingin membaca lagi). Karena agak panjang, posting kali ini saya bagi menjadi tiga bagian. Bagian pertama mengurai prinsip umum yang menurut saya penting untuk dikemukakan. Bagian kedua dan ketiga akan mengurai sedikit aspek teknis soal pemilu dalam hubungannya dengan wacana pengurangan jumlah partai politik.

Ada beberapa hal penting yang perlu diperhatikan ketika kita mendiskusikan sistem politik dan pemilu kita di Indonesia.

Pertama, kita mengadopsi sistem presidensialisme dan dalam pemilu kita mengadopsi sistem proporsional (PR). Sistem proporsional diadopsi untuk meningkatkan derajat representativeness (derajat keterwakilan) bagi sebanyak mungkin kelompok dari masyarakat kita yang majemuk. Studi yang paling ekstensif mengenai efektifitas sistem pemilu proporsional bagi masyarakat majemuk, bukan kebetulan, adalah studi mengenai sistem proporsional di negeri Belanda, terutama studi-studi yang dilakukan oleh ilmuwan politik terkemuka Arendt Lijphart. Lijphart telah lama mengadvokasi betapa pentingnya sistem proporsional (PR), terutama karena ia banyak mengkaji (dan memformulasi) konsep mengenai consociational democracy, yang kurang lebih mengekedepankan pentingnya ‘elite-agreement’ dalam masyarakat majemuk agar tercipta sistem politik yang stabil.

Kedua, berdasarkan pengalaman banyak negara lain di dunia, ada banyak studi empirik yang menemukan bahwa sistem presidensial tidak kompatibel dengan sistem multipartai yang banyak. Yang paling utama adalah kajian dari Scott Mainwaring (1997). Sistem presidensial mengandaikan bahwa porsi utama politik diberikan kepada seorang presiden untuk memerintah (govern) dan mengeksekusi kebijakan. Karena itu, seorang presiden harus diberikan derajat governability yang tinggi. Jumlah partai yang banyak, memang boleh jadi mencerminkan representativeness yang tinggi. Sialnya, jumlah partai yang banyak secara natural juga mengurangi derajat governability presiden dalam sistem presidensial. Sebabnya sederhana: too many players. Karena itu, koalisi terlalu cair, kemampuan eksekusi presiden menurun, kemampuan legislasi parlemen juga melemah karena terlalu banyaknya partai. Saya sebetulnya tidak terlalu percaya apabila partai-partai di Indonesia itu bisa membentuk koalisi sungguhan. Koalisi, dalam negara yang sistem politiknya mapan, terbentuk karena ada kesamaan orientasi ideologis antar partai. Kalau partai-partai di Indonesia bisa membentuk koalisi sungguhan, artinya mereka punya kesamaan orientasi ideologis. Bila demikian, sesungguhnya sejak awal mereka bisa merge-saja. Melihat perilaku koalisi di DPR kita yang sangat longgar itu (sebentar ada koalisi kebangsaan, besok ada koalisi kerakyatan, entah lusa apa lagi), sebetulnya bisa diduga bahwa mempertahankan keberadaan partai yang banyak itu sebetulnya adalah lebih banyak kepentingan para politisi dari partai-partai bersangkutan belaka. Walaupun ini adalah hal yang wajar-wajar saja, politisi (dan juga kita pemilih) sebetulnya lebih mengutamakan self-interest (artinya politisi dan partai selalu ingin berkuasa dengan beragam motivasi, baik yang altruistik ataupun yang egoistik).

Masalahnya, partai politik yang terlalu banyak jumlahnya akan menyandera seorang presiden. Partai politik yang banyak potensial membentuk kartel partai (studi Katz and Mair 1995), dan telah terjadi juga di Indonesia (studi Dan Slater 2004). Dalam sistem presidensial, presiden secara sadar didesain untuk memiliki kekuasaan besar. Namun sedemikian rupa bisa dikontrol oleh mekanisme hubungan legislatif-eksekutif, misalnya mengenai aturan veto power terhadap usulan undang-undang. Atau dengan banyak cara lain yang lebih umum semisal pers yang bebas, tentara yang netral, hukum yang independen, civil society yang sehat, Ombudsman yang kuat, dan lain sebagainya.

Yang terjadi di Indonesia, pada hemat saya, partai-partai politik inilah yang mengontrol kekuasaan presiden, dan bukan DPR sebagai institusi yang melakukannya. Partai politik yang banyak itu menyandera presiden (siapapun presidennya, bukan cuma SBY, tapi juga Megawati dan Gus Dur dulu yang bisa digunting oleh Poros Tengah misalnya). Dengan sistem multipartai yang banyak, presiden dipaksa untuk terlalu banyak memberi konsesi kepadai partai, sehingga ya itu tadi, governability menurun.

Mengubah aturan main dalam pemilu adalah hal biasa dalam sebuah sistem politik, dikenal dengan sebutan electoral engineering. Menaikan electoral threshold adalah salah satu cara, yang mensyaratkan bahwa partai politik harus memperoleh presentase suara dalam jumlah tertentu untuk diperbolehkan ikut pemilu. Beberapa cara lain yang secara ‘alamiah’ bisa mengurangi jumlah partai, misalnya mengubah angka district magnitude, mengubah rumus penghitungan suara yang akan ditranslasi menjadi kursi di parlemen., yang akan saya bahas serba sedikit di bagian 2 dan 3.

About these ads

2 Tanggapan to “Wacana Jumlah Partai Politik dan Pemilu (1)”

  1. st. of darkness Says:

    saatnya pengurus partai politik dibuat kecele – bahwa dg pilkadal rakyat tidak mau lagi tertipu………
    terima uangnya – golput deh…………………… asyiiiiiiiiiiiiiiiikkkkkkkkkkkkk
    cK……cK………cK………….!!

  2. tsugaeda Says:

    menaikkan electoral threshold membuat tujuan jangka pendek partai menjadi partai massa, kaderisasi diabaikan, warna partai jadi tak jelas, huhuh..mungkin kita memang ga bakat berpartai

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s


Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d blogger menyukai ini: