Arsip untuk Mei, 2007

Urusan Bengkel dan Biola

Mei 19, 2007

Hampir setahun lalu saya menulis dua buah posting di blog ini. Satu berjudul “Jadi Montir” (klik di sini jika ingin membaca lagi). Itu adalah cerita soal pelajaran mendadak saya jadi montir mobil yang rusak, karena mahalnya ongkos ke bengkel dan suku cadang mobil di sini.

Satu tulisan lain berjudul “Banjo Dr. Leong, Biola dan Berenang” (klik di sini jika berminat baca lagi). Isinya tentang dua hal yang ingin saya pelajari sejak lama: berenang dan main biola. Selama musim panas tahun lalu, saya berusaha keras belajar berenang. Hasilnya, saya sekarang sudah bisa berenang. Kuat berenang bolak-balik beberapa kali di kolam renang yang besar. Tinggal satu yang belum bisa, yaitu main biola.

Nah, dua hal ini, montir dan biola, datang lagi menjelang musim panas tahun ini. Saya punya teman baik, namanya Jerry. Dia pintar soal urusan memperbaiki mobil. Dia orang Kanada, keturunan Hongaria. Ayahnya adalah imigran generasi pertama di keluarganya, meninggalkan Hongaria dan memutuskan menetap di Kanada. Ayahnya punya bisnis bengkel yang maju di Kanada. Sejak masih SMA, Jerry sudah membantu bisnis keluarga itu sebagai mekanik. Sepertinya keluarga imigran ini cukup berhasil. Jerry baru selesai program S-2 di kampus saya. Sementara, kakaknya adalah profesor antropologi yang spesialisasinya adalah Indonesia bagian Timur.

Beberapa minggu lalu Jerry bilang bahwa mungkin shockbreaker mobil saya perlu diganti. Kalau dibawa ke bengkel, bisa berbiaya lebih dari 1000 dolar. Alamak, mahasiswa miskin begini, bisa tambah miskin.

Jerry bilang tidak usah ke bengkel, bisa dicari di recking yard saja. Dia akan bantu pasang. Tapi karena waktu itu masih musim dingin, kami menundanya. Baru dua hari lalu kami ke recking yard. It was fun. Tempat itu namanya Pick ‘n Pull. Jadi lokasinya adalah lapangan luas, di dalamnya berjajar ratusan mobil (bekas tentu saja) beragam merek. Kita bayar entrance fee dua dolar per orang, setelah itu bisa mencari sendiri suku cadang yang kita butuhkan dari mobil bekas yang beratus-ratus banyaknya itu. Kita harus membawa alat perbengkelan sendiri. Lalu, jadi ‘kanibal’. Mengambil suku cadang dari mobil bekas dengan segala cara. Mobilnya mau dibikin penyok juga nggak ada yang marah. Waktu mencopot schockbreaker dari mobil yang kami incar, kami harus mencopot sebuah ban yang entah mengapa susah sekali. Jadi, saya, Jerry dan Cyril seorang teman lain yang ikut, menendang-nendang ban itu sambil teriak-teriak sepuasnya…ha..ha. Besok-besok kalau sedang stress mau ujian, pergi ke recking yard mungkin menjadi hiburan yang lumayan.

Waktu masuk, kami menjumpai dua orang Amerika sedang berusaha mencopot kondensor AC dari sebuah mobil. Jerry menawarkan bantuan, karena dia membawa alat lengkap. Sekejap saja kondensor itu bisa dia lepaskan. Dua orang itu ngotot akan membayar Jerry, sementara Jerry menolak. Karena dipaksa terus, akhirnya Jerry bilang: “Ok, just by me a drink”. Dua orang itu senang, mereka kebetulan berkulit hitam, logat bicaranya seperti para penyanyi rap itu. Dengan nada bercanda mereka bilang: “OK, I will give you 20 bucks. And also 20 bucks for your two friends who have been waiting and shutting their mouth up”. Cyril yang kebetulan juga berkulit hitam nyeletuk: “wow, this is the first time somebody pays me for shutting my mouth up”…ha..ha..ha. Lumayan, karena membantu mencopot kondensor yang sebentar saja, Jerry dapat 40 dolar. Kami pesan pizza dan pernak-perniknya sesampai di rumah Jerry.

Kami dapat shockbreaker yang harganya 20 dolar saja. Cyril berencana juga mengganti shockbreakernya. Dia tadinya sudah bawa ke bengkel, tapi bengkelnya men-charge 1800 dolar. Jadi batal. Setelah mobil saya, Jerry akan membantu mengerjakan mobil Cyril. Seru juga pengalaman hari itu, walaupun harus nyetir sejam lebih ke lokasi recking yard itu, yang terletak dekat Chicago. Dua jam lebih menyetir mobil ke sana bolak-balik. Tambah lagi terjebak rush hour orang pulang kerja di Chicago.

Soal biola, ini seru juga. Saya baru tahu, school of music di kampus saya menawarkan pelajaran biola untuk pemula selama musim panas. Saya sedang negosiasi dengan Fulbright, yang mendanai sekolah saya, dan juga dengan International Student Office di kampus saya yang mengurus tuition waiver. Saya bilang ingin belajar biola di school of music selama musim panas ini. Mereka belum kasih jawaban, saya disuruh menunggu hingga hari Senin pekan depan. Mereka bilang sulit juga, karena biola tidak berhubungan dengan ilmu politik yang sedang saya pelajari. Kalau saya ambil summer course dari departemen ekonomi, sosiologi, sejarah, psikologi dan semacamnya, mereka akan langsung menyetujui. Kemarin waktu bicara via telepon dengan mereka, saya bilang: “nanti di akhir musim panas, kalau perlu saya bikin makalah dengan judul The Politics of Violin”…he..he. Yah, semoga diperbolehkan. Kalau negosiasi berhasil, maka cita-cita terakhir, bisa main biola, akan tercapai. Kalau tidak, harus cari cara lain dan menyempatkan waktu belajar biola sendiri.

Belajar Menulis

Mei 14, 2007

Menulis mungkin bukan kebiasaan kita dari kecil. Tapi jaman sekarang mungkin sudah berbeda. Hari Jumat minggu kemarin, anak saya yang 3rd grade alias kelas 3 SD, pulang dari sekolah membawa map kecil. Di depannya ada tulisan My 3rd Grade Year of Writing. Rupanya isinya karangan yang dia tulis di sekolah. Kelihatannya di sekolahnya anak-anak selalu dilatih untuk mengekspresikan diri. Sementara waktu saya SD, dalam pelajaran mengarang paling saya menulis “Berlibur Ke Rumah Nenek”..he..he.

Di tiap kertas-kertas karangannya dalam map itu, ada perintah dari gurunya. Semacam topik yang diminta untuk ditulis. Tulisannya pendek-pendek saja, karena space nya cuma satu atau dua lembar.

Misalnya topik ” I learned it from My Grandparents”. Ini instruksinya: The Sunday following Labor Day is National Grandparents’ Day. Celebrate by writing about something that one of your grandparents has taught you to do.

Ini yang ditulis anak saya: “How to Turn On Computer”

My grandfather taught me how to turn on computer. You have to press the big button and when it turns on and then you have to type in the password, and when it’s on you can do everything and when you want to turn it off, you have to shut down then it’s off.

Lalu ada topik “The First Day of Winter”: December 21 or 22 is the official beginning of winter. What does that mean to you? What are the sounds, the smells, the sights that come to mind when you think of this special season? Suppose that some visitors arrive who have never experienced winter. Write an explanation of what winter is like and introduce to these visitors.

Senang juga baca tulisan dia tentang topik ini: Brrrr! It’s cold. Do you know what that means? Winter is coming! These are the things that’s gonna be in winter: Shiny, white snow, it’s cold very cold. Do you know you can eat snow? But you can only eat the clean ones. In winter, if there is snow you could play snow ball fights. Sometimes you have to make snow forts so when a snow ball coming at you, you can hide behind your fort. If you want to make a snow man, you have to make a snow ball then you roll it on the ground then it’s gonna get bigger. You have to make three big snow balls. Then you can put on some clothings to it. Then you are done. You can also go skiing, and snow boarding. But you can only do it on top of a snow hill and go down the hill.

Lalu ada topik “Planet Earth”: You have just landed on Earth from a distant planet. What do you think are the best things about the planet Earth? What things are the worst? Write a report back to the science exploration team on your planet.

Ini dia tulisan pendeknya:

Log of: Salman

Science Officer: His teacher

Observation: When I got to planet Earth it is really bad because we have to breath in oxygen instead of hydrogen. The good news is that earth has water. We don’t have water because we are from Venus, the hot planet. And the bad thing is when I rampage the Earth a human kicked me all the way back to Venus on the unknown place and that is the worst thing.

Ada banyak karangan pendek-pendek yang dia tulis di sekolah di dalam map itu. Beragam-ragam topik. Gurunya mendorong anak-anak untuk belajar berimajinasi dan melatih mengorganisasikan pikiran ke dalam tulisan.

Minggu lalu ada teman kasih laptop bekas kepada anak saya itu. Laptop lama, sudah patah sedikit bagian screen-nya. Tapi, anak itu gembira bukan main. Mungkin karena sekarang jadi bebas dengan laptop sendiri, sebelum ini dia cuma bisa pakai komputer kalau tidak sedang saya gunakan atau berebut sama adiknya yang juga suka main game di komputer.

Sekarang tiap hari dia sibuk oprek-oprek dan bereksperimen dengan microsoft word, ketik-ketik cerita di komputer dia itu…he..he. Sebelum ini, istri saya membelikan anak itu sebuah buku tulis besar tempat dia bikin-bikin karangan. Tapi kami tidak pernah diizinkan membaca karangan-karangan yang sering dia tulis diam-diam di kamarnya.

Sekarang kelihatannya dia sibuk memindahkan karangannya dari buku tulis itu ke laptopnya. Baguslah, dia bisa belajar dan melatih pikirannya sendiri. Dan yang penting dia senang dengan yang dia lakukan.

Kartun dan Politik

Mei 14, 2007

Semester musim semi baru selesai minggu lalu. Lewat sudah minggu-minggu ujian dan deadline tugas akhir. Sekarang siap-siap libur musim panas, tiga bulan.

Kalau libur, hati senang bisa baca buku ’semau gue’. Bisa baca di luar bahan kuliah yang sering bikin pusing karena nggak ngerti…hua..ha..ha.

Kebetulan hari ini kiriman jurnal Political Science & Politics edisi terbaru sudah datang ke rumah. Topiknya menarik sekali, khusus membahas tentang kartun-kartun politik. Kartun memang medium politik yang cukup siginifikan. Hebat sekali para editor jurnal ini memutuskan menurunkan tulisan-tulisan para political scientist soal kartun politik.

Di negara yang mapan demokrasinya, kartun politik adalah hal biasa. Walaupun bisa menjadi ‘korban’ buah tangan para kartunis, tokoh-tokoh politik yang menjadi obyek kartun pada akhirnya menerima kartun sebagai bagian kebebasan berekspresi. Tidak ada pasal-pasal hatzaai artikelen seperti hukum kita yang peninggalan Belanda itu dimana kita diharamkan mengolok-mengolok tokoh atau presiden atau semacamnya. Pasal-pasal penghinaan terhadap penguasa itu hingga sekarang masih ditakuti di tanah air, bisa bikin masuk penjara.

Dalam jurnal edisi ini ada dua tulisan menarik. Satu berjudul “Web Cartoon in a Closed Society: Animal Farm as an Allegory of Post Communist Belarus” tulisan yang dibuat Olena Nikolayenko. Satu lagi tentang kartun Indonesia di masa Orde Baru. Judulnya “Risky Business: Three Political Cartooning Lessons from Indonesia during Suharto’s Authoritarian Rule” tulisan Richard Ostrom.

Membaca tulisan Ostrom, jadi teringat masa mahasiswa dulu. Di awal tahun 1990-an, beredar sembunyi-sembunyi poster kartun berjudul “Tanah Untuk Rakyat”. Posternya besar, saya tempel satu di kamar kost saya dulu. Entah dimana poster itu sekarang. Gambarnya Suharto dan karikatur aparat militer yang mengusir penduduk dari tanah-tanah mereka. Saya tidak ingat lagi siapa pembuat poster itu, tapi seingat saya dia harus bersembunyi karena gara-gara membuat poster itu dia dicari aparat keamanan rezim yang mengharamkan kritik sekecil apapun.

Poster itu jelas terinspirasi dari kasus-kasus tanah beberapa tahun sebelumnya yang diadvokasi para aktifis mahasiswa angkatan 1980-an. Misalnya kasus tanah di Cimacan dan Badega. Penduduk terusir dari tanahnya, untuk dibangun vila, lapangan golf dan bahkan juga untuk tanah pertanian Suharto di Tapos. Saat Suharto jatuh dari kekuasaannya, para petani membalaskan perlakuannya dulu, mengambil alih dan menanami kembali tanah-tanah yang sebelumnya hilang dari penguasaan mereka.

Begitulah, mungkin penggambar poster itu sekarang sudah bisa bebas menghasilkan karya-karya kartunnya. Tidak semestinya kartun membuat penguasa meradang. Kartun adalah ekspresi artistik. Saya rasa kartun juga menjadi simbol masyarakat yang menghargai kebebasan berpikir.

Tapi, yang lebih membuat saya iri adalah ‘kebebasan’ memilih topik dari para political scientist di negara maju ini. Topik yang bisa mereka tulis bermacam-macam, bahkan soal kartun bisa dijadikan kajian akademik yang diapresiasi jurnal terkemuka. Tulisan-tulisan di edisi terbaru jurnal Political Science and Politics ini membuka mata saya betapa topik penulisan terbentang luas. Saya, dan mungkin juga banyak sarjana Indonesia lain, tidak sebebas para sarjana Barat ini. Saya masih terkungkung pada topik-topik yang sifatnya grand narative, soal demokrasi, pemilu, militer, konflik etnik atau topik lain yang ‘besar’.

Apalagi saat akan bikin thesis atau disertasi, kebanyakan sarjana kita berpikir ingin menghasilkan karya ‘besar’. Wajar juga, karena kadang-kadang masyarakat kita menagih: ‘masak bikin thesis/disertasi topiknya cuma begitu aja?’…he..he.

Di masyarakat Barat, pertanyaan-pertanyaan begini sudah tidak muncul. Soal pertanyaan-pertanyaan, memang ada banyak pertanyaan di tengah masyarakat kita yang kadang-kadang mencerminkan situasi riil kemasyarakatan kita.

Saat pulang ke Jakarta musim panas tahun lalu, saya terlibat obrolan menarik dengan beberapa teman di kedai Utan Kayu. Bersama beberapa teman lama, saya sempat kongkow di Utan Kayu. Setahun tidak bertemu dengan teman-teman itu, saya ditagih cerita macam-macam. Ya saya cuma cerita bahwa saya menikmati masa-masa belajar dari fountain of knowledge dengan belajar di Amerika sini.

Tiba-tiba, seorang teman lalu bilang dengan nada reflektif begini: “Semoga kita bisa segera maju. Walaupun gua pesimis juga. Coba bayangkan, di WC-WC umum kita masih ada peringatan besar-besar: harap tidak lupa menyiram”. Kata kawan ini, tulisan itu, bagi dia, adalah penghinaan. Karena asumsi pembuat peringatan itu adalah banyak orang tidak menyiram selepas menggunakan WC umum (“Emang gua nggak beradab apa?, sampe nyiram WC aja pake dikasih peringatan”, begitu kata dia). Kata kawan ini lagi, soal elementer macam siram menyiram begini, tentunya sudah tidak muncul di negara yang lebih maju. Mungkin teman ini habis ada masalah dengan penjaga WC umum…he..he.

Kembali ke soal karya ilmiah, setiap topik, pasti ada ‘value’ nya. Minggu lalu saya bertemu seorang profesor ahli Indonesia yang kebetulan berkunjung ke kampus. Saat ngobrol dengan graduate students dia bilang: ‘the best dissertation is done dissertation’. Disertasi terbaik adalah disertasi yang sudah selesai ditulis. Alias, semua disertasi baik adanya, kalau ditulis dengan baik dan sudah selesai. Apapun topiknya.