Arsip untuk Maret, 2007

Obituari Profesor Koesnadi Hardjasoemantri

Maret 12, 2007

Saya barusan baca majalah Tempo edisi terkini. Ada tulisan bagus, obituari Profesor Koesnadi Hardjasoemantri, mantan rektor UGM yang ikut menjadi korban terbakarnya pesawat Garuda minggu lalu. Peristiwa itu menyedihkan.

Obituari Profesor Koesnadi ini ditulis Anies Baswedan, seorang teman yang juga belajar ilmu politik di kampus NIU sini. Anies mulai lebih dulu, dan juga telah rampung dan pulang ke Indonesia. Tulisan ini sangat menggugah, membuka mata tentang figur profesor Koesnadi yang amat demokratis dan menjadi sumber inspirasi banyak orang.

Sedikit banyak, tulisan Anies ini menjawab pertanyaan saya sejak dulu. Mengapa, ketika saya kuliah S-1 dulu, akftifisme dan intelektualisme mahasiswa UGM di Jogja demikian majunya dibandingkan kampus-kampus lain? Saya pernah disuruh main ke UGM oleh Kuseryansah, ketua senat mahasiswa Universitas Padjadjaran tempat saya studi, sekedar belajar mengenai organisasi senat mahasiswa UGM dan juga belajar bagaimana mahasiswa UGM mengelola pers mahasiswa.

Setelah perjalanan ke Jogja itu, dimana untuk pertama kalinya saya bertemu juga dengan Anies yang saat itu adalah ketua Senat Mahasiswa UGM, dan juga berbagai kelompok mahasiswa lainnya di UGM, saya jadi sering sekali main ke Jogja. Berangkat malam dari Bandung naik kereta murah, pulang besok malamnya. Seharian muter-muter di kampus UGM, ikut diskusi ini itu. Saya waktu itu penasaran betul ingin menyelami dinamika mahasiswa di kampus UGM.

Saya pernah tulis sedikit soal ini beberapa waktu lalu, silahkan klik di sini

Kampus lain, termasuk kampus Unpad tempat saya belajar, sering harus berkaca keluar untuk mencari inspirasi. Baru beberapa hari lalu seorang sobat saya sejak masa kuliah dulu, Yus – yang sekarang menjadi wartawan, menulis di blog-nya. Saya rutin membaca blog Yus yang penuh dengan tulisan-tulisan memikat. Dulu semasa di Jatinangor, saya ‘mencari’ Yus untuk berkenalan, gara-gara terpikat sebuah kolom yang ditulisnya di majalah Faktum yang diterbitkan mahasiswa Fikom Unpad. Begitu kenalan saya minta dia mengajarkan kami para pemula penerbit majalah Fisip untuk menulis kolom dengan baik.

Akhir pekan lalu dia diundang berceramah ke almamaternya, kampus Fikom di Jatinangor. Membaca tulisan berjudul Jatinangor yang dibuat Yus di blog-nya itu (silahkan klik disini )membuat pertanyaan lama kembali muncul. Tulisan Anies ini menjawabnya.

Aktifisme dan intelektualisme mahasiswa UGM tidak bisa dilepaskan dari sosok Profesor Koesnadi. Dia yang melindungi dan mendorong mahasiswa UGM untuk leluasa mengasah rasa dan karsa. Dia menjadi mata air inspirasi yang tidak pernah kering bagi mahasiswanya. Betul kata Anies, di saat hampir semua Rektor di kampus-kampus lain di Indonesia tunduk pada Orde Baru, Profesor Koesnadi dengan kukuh justru melindungi mahasiswanya. Mata hatinya melihat bahwa mahasiswa amat memerlukan kebebasan. Tidak heran, akhirnya kampus UGM melahirkan anak-anak muda penuh semangat.

Saya bersetuju dengan Anies, semoga pahala mengalir tiada henti kepada Profesor Koesnadi yang dengan penuh kasih menanamkan kecintaan pada pengetahuan dan semangat bagi para mahasiswanya, dan menjadi inspirasi bahkan bagi orang-orang yang tidak pernah mengenalnya langsung.

salam
pjv
——-

Majalah Tempo
03/XXXIIIIII/12 – 18 Maret 2007

Selamat Jalan, Pak Koes…

Anies Baswedan
# Murid almarhum Koesnadi Hardjasoemantri dan Mantan Ketua Umum Senat Mahasiswa Universitas Gadjah Mada

Pada Rabu, 7 Maret, sekitar pukul 7.45 pagi, datang pesan pendek yang mengentakkan dada: ”Garuda terbakar di Yogya, Pak Koes ada di pesawat itu. Belum jelas kondisinya.” Pesan singkat berseliweran sepanjang hari, dan 15 jam kemudian konfirmasi itu datang: Profesor Dr. Koesnadi Hardjasoemantri SH telah tiada. Sesak mendengarnya. Hari itu salah satu guru bangsa terbang untuk selamanya.

Pak Koes, panggilan kesehariannya, dikenal dekat dengan anak-anak muda. Tak terhitung jumlah anak muda negeri ini yang tercerahkan dan bangkit karena Pak Koes. Kesungguhan, optimisme, keberpihakan pada rakyat kecil, dan kepedulian pada masa depan, hanya sebagian kecil dari karakternya. Pak Koes bukan orator yang pidatonya menggelegar. Dia lebih banyak berbuat sebagai realisasi atas idealisme dan kata-katanya. Itu sebabnya dia mempesona anak-anak muda. Semangat kerjanya luar biasa. Di usia 80 tahun dia masih secara sungguh-sungguh mengajar di belasan universitas, membimbing puluhan calon doktor dan mahasiswa pascasarjana.

Koesnadi Hardjasoemantri adalah figur utuh yang eksistensinya di berbagai arena bukan sekadar basa-basi. Dia aktivis, pendidik, peneliti, perwira pejuang revolusi, pakar hukum, pencinta lingkungan hidup, penari, dan seniman. Di balik berbagai peran itu, Pak Koes adalah tokoh tersembunyi tapi kunci dalam membentuk dan mengarahkan peran anak muda di republik ini.

Ketika pendidikan tinggi baru bisa dirasakan oleh segelintir pemuda, sebagai Ketua Dewan Mahasiswa Universitas Gadjah Mada (UGM), Pak Koes memimpin Pengerahan Tenaga Mahasiswa (PTM) terjun ke seluruh pelosok negeri menjadi guru. Pada 1951 dia mengajar sekolah lanjutan di Kupang. Dia pulang ke Yogya dengan membawa anak-anak potensial dari Kupang untuk meneruskan pendidikannya ke universitas. Pak Koes mengurusi proyek PTM ini selama enam tahun, hingga berhasil mengirim 1.400 mahasiswa mengajar di 161 sekolah menengah atas di seluruh Indonesia.

Pengerahan Tenaga Mahasiswa menopang kebijakan pemerintah masa itu agar ada sekolah lanjutan atas di setiap kabupaten di Indonesia. Efeknya, pada 1960-an terjadi ledakan jumlah mahasiswa. Jika sebelumnya, mahasiswa selalu berasal dari kalangan sosial-ekonomi menengah-atas, pada dekade 1960-an untuk pertama kalinya anak-anak muda dari segala penjuru dan semua kelas sosial-ekonomi bisa menembus dan memasuki bangku universitas. Pak Koes ada di sana, dia ada di balik kemunculan mahasiswa dari segala kelas dan dari segala penjuru. Dia tersembunyi, tapi jejaknya jelas dan pahalanya permanen.

Pada 1986 Pak Koes terpilih menjadi Rektor UGM. Begitu banyak cerita menarik dan penting mengenai kepemimpinannya, mulai dari kebiasaannya bersepeda keliling UGM untuk melihat langsung kondisi kampusnya, sampai pada keterbukaan yang luar biasa. ”Jam berapa pun, selama lampu teras rumah masih menyala, silakan datang dan akan saya layani,” begitu kata Pak Koes seakan menegaskan bahwa jam kerjanya nonstop. Pada era ketika cermin kewibawaan itu adalah kekuasaan yang garang dan berjarak dengan rakyat, Pak Koes memangkas jarak pemimpin dengan ”rakyat”. Dia menjadi contoh nyata bagaimana menjadi seorang pemimpin, sebuah kemewahan luar biasa untuk para mahasiswanya.

Ketika menjabat rektor sampai tahun 1990, Pak Koes memfasilitasi internalisasi dan re-migrasi gerakan mahasiswa ke dalam kampus. Dia tidak membakar mahasiswa dengan retorika. Pak Koes hanya menunjukkan bagaimana mengemas dan mengartikulasikan idealisme secara akademis. Efeknya dahsyat. Gerakan mahasiswa yang semula selalu berada di luar kampus mendadak terfasilitasi di dalam kampus. Pak Koes mengantar mahasiswanya mendatangi Dewan Perwakilan Rakyat Daerah. Pada saat mayoritas pimpinan universitas di seantero negeri ini jadi kepanjangan tangan Orde Baru dan represor mahasiswa, Rektor UGM ini justru bersahabat dengan mahasiswa dan idealismenya. Kemasan dan artikulasi akademis itu membuat Pak Koes tak bisa begitu saja ditonjok oleh rezim Orde Baru.

Ketika Menteri Pendidikan Fuad Hassan mengeluarkan konsep Senat Mahasiswa Perguruan Tinggi (SMPT) pada 1989, UGM adalah salah satu universitas negeri pertama yang memanfaatkannya. Sebagian mahasiswa memang menentang dan menganggapnya sebagai kepanjangan tangan Orde Baru, tapi sebagian mahasiswa lain mengikuti alur yang dikembangkan Pak Koes dan memanfaatkannya. Efeknya, idealisme, semangat moral, dan sifat keoposisian, yang menjadi karakter utama gerakan mahasiswa, lalu muncul di lembaga kemahasiswaan. Bagi para aktivis lembaga kemahasiswaan UGM, pemanfaatan itu sekadar bingkai atas langkah yang dibangun oleh Pak Koes. Dan di kampus UGM ini pula lahir konsep Badan Eksekutif. Strategi pemanfaatan ini kemudian menular ke berbagai kampus yang lain.

Gerakan mahasiswa kembali menemukan ruang di dalam pagar kampus dan kemudian mahasiswa menjadi garda terdepan yang menuntut reformasi politik. Pak Koes tersembunyi tapi dialah yang menyiapkan landasan pacu bagi take-off-nya gerakan mahasiswa pada 1990-an. Dia tak banyak kata dan tak pernah mengklaim, tapi langkahnya jelas dan efeknya permanen.

Pada saat republik harus bertempur, dia jadi tentara pelajar. Ketika republik perlu anak-anak terdidik, dia jadi guru di pelosok negeri. Tatkala republik perlu pemuda peduli rakyat, dia kirimkan ribuan muridnya ke desa-desa terpencil. Sewaktu republik perlu regenerasi, dia institusikan kampus sebagai wahana penggodokannya. Ini hanya sisi Pak Koes dan generasi muda. Masih panjang deretan jasa besarnya di bidang lingkungan hidup, kebudayaan, seni, ataupun pendidikan.

Pak Koes kini telah berpulang. Keluarga, sahabat, kolega, dan beribu-ribu muridnya terpaku kelu mendengar salah satu putra terbaik bangsa mendadak dipanggil-Nya pulang. Hari itu pesawat Garuda panas terpanggang, tapi Universitas Gadjah Mada serta bangsa ini basah oleh linangan air mata. Selamat jalan, Pak Koes, pahala untukmu akan terus mengalir lewat ilmu dan muridmu yang tersebar di seluruh penjuru negeri tercinta ini.

Celebrate

Maret 10, 2007

We had a small party last night at our apartment. So many things to be celebrated. First, we partied to celebrate the birthday of our good friend, Gilang. He turns 19 (yea, so he is two years older than me…LoL). Gilang is our fellow Indonesian, an undergraduate student here at NIU.

Second, yesterday was the last day of school before the spring break. We have a one-week break, no classes, no readings…yay! Well, at least that’s the impression we have about the spring break…in fact I have a lot of readings to catch up with and other obligations. However, the first half of the semester went rather well, so we deserve a party…:-).

Third, two of our good friends just received very good news. My American friend, Jake, has been admitted to the Ph.D program in Political Science at Emory University in Atlanta. By May he will complete his Master’s program here and move to Atlanta to study. We are so happy for him.

He is also accepted by University of California at Irvine. Both universities flew him to their campuses last week, apparently hoping that he decides to join either one of them. Jake told us that UC Irvine is beautifully located near the beach so he could see dolphins. The idea of studying at such a beautiful campus is really tempting. He told us that if he has to study for five or six more years somewhere, he wants to make sure that the campus has all the reasons that will make him stay. He has a hard decision to make in the next few days, but I am pretty sure that he will decide to go to Emory. There is a well-known Thai expert at Emory. Jake is really into Thai studies, he speaks and writes Thai language like a native. He spent one full year in Thailand when he was in high school.

Another good news came from Ali, my fellow Fulbrighter from Indonesia (Lombok) who is also studying here. Ali has been accepted to the Ph.D program in Department of Education at our campus. Great! He received an informal confirmation from the Department of Education where he is now pursuing his Master’s degree. Like Jake, Ali will obtain his Master’s degree in May.

The thing is he has to wait until the formal acceptance letter comes out. By that time he will find out whether the admission to the Ph.D program also includes an assistantship/scholarship from his Department. The chance is there that he will get the assistantship. If not, he has to try hard to apply a scholarship from other sources within our campus since Fulbright only pays for his Master study. I hope he will get the scholarship to continue his study, he is such a good student. Personally, I feel that Ali is the most humble friend I have ever had. So, for all the good reasons I hope he will stay with us in Dekalb for the years to come. And we hope his wife and daughter will soon join us here too…

Our Indonesian, Malaysian, American and Canadian friends showed up last night. A friend brought the karaoke, so we had a singing contest: Dekalb Corn Idol…:-). It was fun, we shared good laughs. We had good foods, good friends, and a very good time.

Blog Tara

Maret 10, 2007

Persis seminggu lalu saya bikin posting berjudul “Ngelamun”. Saya cerita sedikit soal supervisor saya di tempat kerja di perpustakaan kampus, namanya Tara. Tara di hari Jumat lalu itu mengalami kecelakaan yang menyedihkan, hingga dia mengalami brain injury. Hingga hari ini dia masih koma di rumah sakit.

Kami tidak bisa menengoknya, karena dia dirawat di ruang khusus. Teman Tara banyak sekali, ada dimana-mana. Kabar mengenai kecelakaan yang dialaminya tentu cepat menyebar, semua ingin mendapat update keadaan Tara di rumah sakit.

Untung, adiknya Tara berbaik hati membuat blog. Maksudnya agar semua orang yang mengenal Tara bisa mendapat update setiap hari. Saya tiba-tiba sadar fungsi blog yang lain: menjaga hubungan silaturahmi. Blog yang dibuat adiknya itu memungkinkan teman-teman dan rekan Tara yang tidak bisa menengok semakin dalam rasa simpatinya dan semakin banyak yang mendoakan untuk kesembuhannya.

Kalau mau lihat, bisa klik http://taraupdate.blogspot.com. Dari blog itu saya ter-update banyak hal. Bagaimana peristiwanya terjadi, hingga bentuk tindakan medis yang sedang dilakukan dokter untuk menyelamatkan hidupnya. Saya juga jadi tahu, dia orang yang aktif sekali di berbagai organisasi, dan juga senang bermusik. Dia aktif di sebuah Big Band. Tidak heran temannya banyak. Kami sungguh berharap dia kembali pulih dan bisa berkumpul lagi dengan suami, anak, keluarga besarnya dan juga dengan kami di perpustakaan.

Seperti ditulis Anita, supervisor kami yang lain, dalam emailnya kepada kami student yang bekerja di bagian digitalisasi tadi sore: “Please continue to keep Tara and her family in your prayers. We all wish she will walk through the office door all smiling as if nothing happened”.

Ensiklopedi Bencana

Maret 7, 2007

Barusan baca detik.com, ada berita pesawat Garuda terbakar dan terbelah di Bandara Jogjakarta beberapa menit lalu. Baru kemarin terjadi gempa besar di Padang, juga sebelumnya banjir besar di Jakarta yang mengulang banjir serupa di kota yang sama tahun 2002. Juga belum lama ada dua kapal padat penumpang tenggelam di laut (Lavina dan KM Senopati). Pesawat Adam Air jatuh belum lagi ditemukan. Kereta api anjlok. Lumpur di Sidoarjo sudah menjadi bencana sosial juga, ribuan keluarga korban lumpur mengambil alih jalan tol. Minggu lalu, tanah longsor menimbun banyak jiwa di Nusatenggara.

Mundur kebelakang, ada tsunami di Aceh dan Sumatera Utara. Lalu gempa besar di Nias dan Jogjakarta. Juga letusan Merapi. Ada bencana sosial juga: minggu lalu rusuh di Sulawesi karena ada ibukota sebuah kabupaten akan dipindahkan. Menambah daftar kelam konflik di bagian lain pulau Sulawesi, di Poso. Dua hari lalu, ada bom meledak lagi di Ambon, seketika mengingatkan konflik berdarah yang memilukan antar agama beberapa tahun lalu.

Saya sudah beberapa kali bikin posting soal bencana di blog ini. Lama-lama rasanya frustasi juga. Bencana-bencana itu sebagian natural disaster, sebagian lainnya man-made disaster yang kemungkinan besar bisa dicegah. Bahkan kita bisa bersiap-siap menghadapi natural disaster, minimal mengurangi kerusakan yang timbul. Bikin bangunan yang ‘tahan’ gempa, membangun early warning system, membangun sistem response cepat, edukasi masyarakat, dan yang terpenting memanfaatkan pengetahuan dan teknologi. Kita sudah paham bahwa negara kita menempati ring of fire, cincin bencana. Jadi kita harus hidup dengan kenyataan ini dan mengenalinya.

Syaratnya satu: kita makin perlu berorientasi pada public policy. Kebijakan publik yang informed dan transparan. Birokrat yang accountable. Memaksimalkan setiap sen uang belanja negara untuk kebijakan berorientasi publik, bukan kebijakan birokrasi yang berorientasi pada dirinya sendiri. Satu lagi, yang sudah diulang-ulang, kita harus mampu meminimalkan korupsi. Barusan chatting dengan Ape, teman sekantor yang ekonom liberal di CSIS di Jakarta, soal bencana-bencana transportasi akhir-akhir ini. Dia bilang: tesis kapitalisme dan sosialisme-etatisme jungkir balik di Indonesia. Pesawat swasta Adam Air jatuh di laut, pesawat BUMN Garuda terbakar di Jogja. Operasi swasta dan pemerintah sama gagalnya.

Kita perlu memenuhi syarat itu hanya karena satu alasan: mungkin besok diri kita atau anggota keluarga kita yang menjadi korban bencana, entah natural atau man-made disaster. Kedengaran egois? Mungkin iya. Tapi saya memang makin menerima bahwa sebagian besar tindakan manusia adalah berbasis self-interest. Karena itu, sebetulnya adalah kepentingan pribadi masing-masing kita untuk bertindak dengan segala cara ‘memaksa’ terbentuknya kebijakan berorientasi publik dan transparan.

Kalau kita tidak mampu memenuhi syarat tadi, terpaksa kita terima dengan pahit apa yang ditulis koran New York Times waktu banjir besar melanda ibukota Jakarta beberapa waktu lalu. Indonesia, tulis New York Times hari itu, adalah ‘the encyclopedia of disaster’.

Soal Ujian Politik Amerika Latin

Maret 4, 2007

Besok (Senin), saya ada ujian tengah semester in-class. Mata kuliah Politics in Latin America. Alternatif soal ujiannya sudah dikirim oleh profesor via email. Dia kirim 6 alternatif soal, 4 akan dikeluarkan dalam ujian dan kami harus menjawab 3 diantaranya  besok saat ujian itu. Jadi, kalau mau aman, saya harus menyiapkan diri dengan menjawab 5 soal.

Questions for Mid-Term Exam

The mid-term exam will be given in class next Monday, March 5. The exam will have an essay format, and you will have the full 2 hours and 40 minutes. Please bring three blank blue books (one for each question). Please write your exam in (preferably black) pen.

Four of the following questions will appear on the exam. You will write on any three.

1. Drawing on pertinent readings for this course to date, discuss alternative explanations for the third wave (cycle) of democracy in Latin America. Do the explanations for Latin America deviate from more universal explanations? If so, how? What are some major differences between previous and contemporary experiences with democracy in Latin America?

2. Discuss (a) major factors that have shaped party systems in Latin America and (b) the ways in which the party system may influence democratic governability in the region. Illustrate with key examples.

3. Discuss the major variations in the systems for electing presidents and legislatures in Latin America. What are the direct and potential consequences of these variations? Illustrate with key examples.

4. Why was there a serious debate about the merits of parliamentary and presidential regimes at the advent of the third wave (cycle) of democracy in Latin America? Summarize and assess the arguments in favor of each position, as well as any alternative(s).

5. Discuss the various powers of the presidency in Latin America, illustrating with key examples. What is the most appropriate distribution of powers between the executive and legislature? Can this optimal balance vary?

6. Discuss alternative conceptual approaches to the issue of “accountability” in Latin America. What has been the region’s experience with the major types of accountability institutions? Illustrate with key examples.