Arsip untuk Februari, 2007

“Membaca” Organisasi APSA

Februari 13, 2007

Beberapa waktu lalu saya pernah tulis mengenai American Political Science Association (silahkan klik di sini). Barusan, salah satu dari tiga jurnal ilmu politik yang diterbitkan APSA tiba di rumah saya. Ya, saya dapat jurnal-jurnal itu karena mendaftar dan bayar iuran anggota APSA. Dalam tulisan terdahulu, saya menulis soal jurnal American Political Science Review edisi paling baru yang memuat sejarah perkembangan ilmu politik di Amerika dan sejarah perkembangan APSA yang berulang tahun ke 100.

Waktu bungkus plastik jurnal yang tiba kemarin saya buka, ternyata di dalamnya ada juga booklet (40 halaman) Laporan Tahunan APSA 2005-2006 sebagai organisasi. Laporannya diberi judul Networking a World of Scholars. Ada kutipan bagus sekali dari kata pengantar Annual Report ini:

“In 1957, Chief Justice Earl Warren wrote eloquently about unfettered scholarship and the value of academic freedom. Academic freedom is partnership. On the one hand, it requires civil freedoms, as the Sweezy case affirmed. On the other, it requires community responsibility. Without ethical practice within the scholarly community, academic freedom could not be sustained…By upholding these standards, and by contributing our learning to the pool of public knowledge, we anchor the privilige to inquire, evaluate and gain new understanding…”

Kebebasan, community responsibility dan kontribusi pada pengetahuan adalah kata kunci perkembangan komunitas epistemik seperti APSA ini. Kebebasan penting untuk perluasan disiplin ilmu politik, komunitas scholars penting untuk academic exchange, dan ilmu tidak berguna bila ia tidak memperkaya ruang-ruang kelas (pengajaran) dan mencerahkan publik.

Membaca laporan tahunan ini, saya semakin bisa meraba komitmen anggota APSA yang tersebar, kurang lebih 15 ribu orang meliputi akademisi (termasuk profesor dan mahasiswa ilmu politik) atau non akademisi. Komitmen lah yang menentukan perkembangan sebuah organisasi. Tentu kita tidak bisa mengabaikan ‘rational approach’ tiap anggota sebuah organisasi: bahwa seseorang memutuskan melibatkan diri pada organisasi karena kalkulasi rasional atas insentif.

Tetapi APSA telah berkembang sedemikian rupa sehingga insentif, voluntarisme dan filantrofisme telah berjalin berkelindan. APSA pada dasarnya adalah organisasi non-profit, hidup dari iuran anggota dan sumbangan. Dalam beberapa halaman akhir dari jurnal yang baru tiba itu ada list penyumbang APSA periode 1996-2006. Dibagi dalam 10 kategori penyumbang: centennial cirlce (penyumbang $25 ribu ke atas), 1903 Circle ($ 15 ribu ke atas), 2003 circle ($ 10 ribu ke atas), Builders Circle ($ 2500 ke atas), Second Century Society ($ 1000 ke atas), Anniversary Society ($ 500 ke atas), Friends ($ 250 ke atas), Associates ($ 100 ke atas) dan Contributors (antara $ 1- $ 99). Penyumbangnya ya para anggota APSA sendiri. Ada banyak nama political scientist yang familiar buat kita di Indonesia.

Di list Centennial (penyumbang dengan nilai $ 25000 ke atas), saya lihat ada nama Arend Lijphart, ilmuwan politik terkemuka. Ada 10 orang dalam List Centennial. Di list 1903 circle, ada nama Richard Fenno (yang terkenal karena kajiannya mengenai lembaga legislatif di Amerika yang menggunakan metode kualitatif sangat berpengaruh, dan keluar dari ‘mainstream’ kajian ilmu politik di Amerika yang cenderung kuantitatif). Di list 1903 circle juga ada nama Robert O. Keohane, nama yang tidak asing bagi penstudi hubungan internasional. Di list ini ada 10 orang juga. Di list Founders Circle, ada nama Samuel Huntington, Lucian Pye, dan Kenneth Waltz. Ada kurang lebih 40 penyumbang di circle ini.

Di Builders Circle, saya temukan nama Robert Jervis, Thomas Mann, Sidney Verba, Harvey Starr. Di circle ini tercantum lebih dari 50 nama. Di kategori Second Century Society ($ 1000 keatas) ada nama Gabriel Almond, Robert Dahl, Seymour Martin Lipset, Adam Przeworski, Sidney Tarrow dan lain-lain. Hampir 100 orang tercantum dalam list kategori ini.

Dalam kategori Anniversary Society ($ 500 ke atas), juga ada sekitar 100 nama, diantaranya: Bruce Bueno de Mesquita, Joseph Nye, Theda Skocpol, juga Ashutosh Varshney (pakar studi konflik yang juga menyelesaikan penelitian mengenai konflik di Indonesia bersama teman-teman peneliti UNSFIR di Jakarta dan Universitas Gadjah Mada di Yogyakarta). Dalam kategori Friends ($ 250 ke atas) tercantum nama David Laitin, Amitai Etzioni, dan lain-lain. Ada lebih dari 100 nama di sini.

Dalam list Associates ($ 100), ada nama Kenneth Arrow (pengkaji rational choice theory pasti familiar dengan Arrow’s Theorem), Nancy Bermeo (pakar studi transisi demokrasi), Michael Doyle, Judith Goldstein, Joseph LaPalombara, Harvey Mansfield, Irfan Noorodin, James Rosenau dan banyak lagi. Ada sekitar hampir 400 orang dalam kategori ini. Yang terakhir, kategori Contributors ($ 1 – $ 99) memuat lebih dari 600 nama, diantaranya Francis Fukuyama dan Stanley Hoffman.

Selain tercantum nama lengkap, banyak juga yang tidak mau disebut, hanya menulis ‘anonymous’ alias Hamba Allah…he..he. Di list Centennial yang menyumbang besar sekali itu, ada satu ‘anonymous’.

Dengan menulis ini saya ingin menunjukkan kalau organisasi sebesar APSA memperlihatkan bahwa bagian terpenting dalam pengembangan organisasi non-profit adalah menemukan cara untuk memperbesar komitmen anggota. Persoalannya, komitmen anggota meningkat kalau organisasi menunjukkan manfaat bagi anggota. Timbal balik. Di luar dua hal ini, hal paling penting adalah bahwa tiap anggota merasa bahwa networking adalah elemen penting dalam pengembangan profesionalisme masing-masing. Voluntarisme dan filantropisme menjadi backbone. Dengan tradisi semacam ini, sumbangan besar atau kecil diakomodasi dan ikut menumbuhkembangkan organisasi.

Reuni The Police

Februari 13, 2007

Kemarin malam (Minggu malam di sini) acara Grammy Awards disiarkan langsung di televisi. Sejak beberapa hari lalu sudah ramai kabar di internet bahwa grup band The Police bakal manggung di acara itu. Wah, saya fans berat Sting, Andy dan Stewart Coppeland yang grupnya sangat khas ini. Mereka ngetop berat akhir tahun 1970-an hingga pertengahan 1980-an.

Pertama dengar mereka waktu saya masih kelas satu SD di awal tahun 80-an. Maklum, kakak-kakak saya tahun segitu sudah duduk di bangku SMA, dan The Police sedang digandrungi. Jadilah saya akrab dengan lagu-lagu macam Roxanne, So Lonely, Message in the Bottle, Can’t Stand Losing You, Regatta de Blanc, Born in the 50s, De Do Do Do De Da Da Da, Every Little Thing She Does Is Magic, Too Much Information dan lain-lain. Keterusan jadi fans mereka. Saya masih sering dengar juga lagu-lagu itu sampai sekarang.

Suara Sting amat khas, tidak heran kalau dia tetap sukses bersolo karir. Album solonya Fields of Gold laku keras. Tabuhan drum Stewart Coppeland juga khas. Dulu The Police membawa musik fresh, gabungan punk, reggae dan sedikit jazz.

Kabar akan manggungnya mereka di acara penyerahan Grammy Award kemarin makin menguatkan kabar bahwa mereka akan reunian dan akan menggelar tur. Jadi, saya menunggu-nunggu juga acara Grammy kemarin…he..he

Sialnya, saya lupa. Dari Minggu siang sampai malam di library, bacaan kuliah minggu ini banyak betul. Begitu ingat acara Grammy, buru-buru pulang, dengan harapan masih sempat nonton. Saya pikir mereka pasti ditaruh di penghujung acara, acara pamungkas. Lah, sampai rumah memang acara Grammy Award pas sudah akan selesai. The Police rupanya ditaruh di awal acara. Kurang asem! Tapi lumayan juga, tetap ada hiburan. Di akhir acara yang manggung band kesukaan saya juga, Red Hot Chilli Peppers. Mantap.

Agak tengah malam, saya cari di Youtube siapa tahu sudah yang meng-upload rekaman The Police di acara Grammy Award itu, but I had no luck. Barusan lihat lagi di Youtube, sudah ada. Kalau ada yang mau lihat, klik di sini

Mereka masih bagus, rupanya mereka memainkan lagu top mereka, Roxanne. Lebih senang lagi, The Police barusan mengumumkan bahwa mereka akan segera menggelar tur reuni. Detailnya akan diumumkan kemudian. Semoga mereka manggung juga Chicago. Eh, tapi tiketnya berapa ya? Jangan-jangan harganya bikin miskin…he..he. Mungkin tiketnya bakal langsung ludes juga begitu mulai public sale.

Riwayat Pemimpi

Februari 10, 2007

Baru ketemu tulisan bagus ini dari Kompas Online edisi hari ini (Sabtu, Februari 10, 2007). Sayang tidak ada nama penulisnya, mungkin di edisi cetaknya ada. Tulisan di Kompas ini masih soal banjir, saya setuju seluruh isi tulisannya seperti saya juga beberapa hari lalu posting soal banjir (klik di sini)

salam
pjv

———–

Riwayat Pemimpi
Ia baru sempat istirahat 16 jam setelah terjadinya Tragedi 9/11. Ia penguasa de facto di Amerika Serikat berhubung keberadaan Presiden George W Bush dirahasiakan karena ancaman serangan teroris.

Ia tiba tak lama setelah pesawat kedua menabrak Menara Kembar dan nyaris terjebak di ruang komando yang tertimpa reruntuhan. Ia mengomandoi operasi SAR yang melibatkan ribuan personel, mulai dari petugas pemadam kebakaran, polisi, sampai relawan.

Ia membuat lebih dari 100 keputusan “hidup atau mati” selama krisis 16 jam itu. Ia memimpin operasi pertolongan darurat di rumah sakit, berkoordinasi dengan pusat komando di Washington DC, melayani pertanyaan dari para pemimpin internasional, dan menghibur keluarga yang jadi korban.

Ia tahu semangat warga New York, yang berpenduduk 8,1 juta jiwa itu, ambruk. Ia mesti selalu berada satu langkah di depan warga supaya api semangat itu tak padam.

Untuk itu, setiap hari setelah 9/11 ia tak berhenti mengangkat semangat warga dengan mengunjungi setiap kalangan, mulai dari Wall Street sampai downtown. Ia mengimbau warga Amerika Serikat, “Kunjungilah New York dan berbelanjalah di sini.”

Setiap kali ia berbicara, warga merasa lebih lega. Kalimat-kalimatnya jujur dan menyemangati serta menjadi inspirasi bagi warga New York.

“Besok New York masih tetap berdiri,” katanya hari ini. Esoknya, “Kita akan membangun kembali dan menjadi lebih kuat.” Lusanya, “Saya ingin warga New York jadi teladan bahwa terorisme takkan mampu menghentikan kita.”

Waktu itu ia menumpang di apartemen sahabatnya karena pisah rumah dengan istrinya. Ia masih berjuang keras melawan kanker prostat.

Ia sangat terinspirasi biografi Perdana Menteri Inggris Winston Churchill. Saat memimpin London yang dibombardir pasukan Jerman, Churchill menulis, “Saya tak memiliki apa-apa kecuali darah, tenaga, air mata, dan keringat.”

Ia Rudy Giuliani. Kini ia calon presiden terfavorit dari Partai Republik yang dulu tak segan menuding John Kerry sebagai pemimpin “indecisive coward”.

Tak perlu bertanya kepada dia, “Mampukah Anda memimpin kami?” Kalau pertanyaan yang sama kita layangkan kepada pemimpin kita, ia pasti menjawab, “Saya sudah begadang!”

Saat Jakarta Kamis (8/2) malam diguyur hujan lebat, tak ada pemimpin yang berada satu langkah di depan kita. Tak ada yang menyiapkan rencana untuk Jumat, Sabtu, Minggu, dan hari-hari seterusnya.

Pemimpin sudah puluhan langkah di depan kita bersiap-siap untuk tahun 2009. Gajah di pelupuk mata tidak tampak, yang dipelototi malah semut di seberang samudra.

Pemimpin yang satu langkah di depan kita bereaksi cepat terhadap “clear and present danger”. Kalau perlu berslogan “danger is my business”, seperti kata detektif kartun serial televisi, Hongkong Phooey.

Kita cuma punya “pemimpi” yang menyalahkan siklus banjir lima tahunan, banjir kiriman, atau bulan purnama. Pokoknya semua disalahkan, kecuali dirinya sendiri.

Graham Allison dalam buku Essence of Decision: Explaining the Cuban Missile Crisis (1971) menulis, pemimpin hanya mempunyai pilihan terbatas saat mengambil keputusan di kala krisis. Salah satunya pilihan, doing nothing menjadi favorit pemimpi.

Pemimpi menyalahkan media yang membesar-besarkan berita banjir karena ia melihat di televisi banyak korban yang justru tertawa-tawa. Jangan-jangan malahan ia yang tertawa-tawa menyaksikan banjir Jakarta dan lumpur panas di Sidoarjo.

Sejak dulu pemimpi terbiasa berlindung di balik punggung presiden-presiden negeri ini. Pemimpi lolos dari tanggung jawab atas sederet bencana kecelakaan kapal laut, pesawat terbang, sampai kereta api.

Pemimpi “menjadi tua sebelum matang” karena tak menjalani proses trial and error. Maklum, pemimpi hanya terlatih memimpin Operasi Ketupat Lebaran, Operasi Lilin, atau operasi menyambut Tahun Babi.

Ketika perolehan medali emas kita tertinggal jauh di bawah sejumlah negara ASEAN, pemimpi mengatakan, “Kita belum beruntung.” Waktu ditanyai apa saja keberhasilan pemerintah, pemimpi menjawab, “Pokoknya banyaklah…”.

Pemimpi bisa sangat yakin ketika mengumumkan lokasi pesawat AdamAir yang mengalami kecelakaan 1 Januari. Pemimpi tak mampu memberantas flu burung, malah tak berhenti senyum sambil berceloteh di koran maupun televisi.

India menolak tegas bantuan dari luar negeri ketika dilanda bencana tsunami. Kita bangsa jongos karena kalau bencana terjadi, selalu minta bantuan dari luar negeri.

Ketika gagal membasmi wabah SARS, Chief Executive Hongkong Tung Chee Hwa didemonstrasi sampai mengundurkan diri. “Banjir jangan dipolitisasi!” kata si pemimpi.

Pemimpi di sini sama seperti harga sembako yang tak pernah turun alias naik setiap hari. Pemimpi masih belum sadar juga bahwa Megapolitan hanyalah proyek ilusi.

Kita perlu belajar tentang “politik lokalisasi” seperti yang diajarkan partai hijau di banyak negeri. Kita perlu memberdayakan institusi kewalikotaan sehingga tak melulu tergantung lagi dari Gubernur DKI.

Jangan terpukau lagi dengan bujukan pengembang apartemen atau ITC puluhan lantai, yang sesumbar seolah-olah Jakarta kota modern yang dirancang rapi. Dan pada pilkada antara Juli sampai November 2007 ini janganlah memilih calon gubernur yang terbukti tak memiliki hati nurani.

Banjir pasti akan terjadi lagi. Ini jelas bukan mimpi!

Memoar Daoed Joesoef

Februari 4, 2007

Saya pernah menulis sedikit soal Daoed Joesoef sebelumnya di blog ini (silahkan klik di sini). Kira-kira dua minggu lalu, Indra Piliang, rekan sesama peneliti di CSIS, berbaik hati mengirim buku memoar Daoed Joesoef yang tebal sekali (hampir 1000 halaman) dari Jakarta ke sini, melalui seorang teman yang datang berkunjung. Memoar itu belum selesai saya baca, tentu saja. Tapi majalah Tempo membuat resensi atas memoar menarik itu dalam edisinya minggu lalu. Pak Daoed dikenal kontroversial, karena itu memoar nya menjadi menarik dan penting untuk dibaca. Resensi majalah Tempo itu saya copy-paste di bawah ini.

——–

Edisi. 49/XXXV/29 Januari – 04 Februari 2007

Buku

Kenangan Seorang Anak Emak

Daoed Joesoef selalu membuat catatan terhadap peristiwa yang ia alami. Kini kumpulan catatan itu menjadi sebuah buku.

Dia dan Aku: Memoar Pencari Kebenaran
Penulis: Daoed Joesoef
Penerbit: Kompas (November 2006)
Tebal: viii+924 halaman

+ Saya minta mesin ketik.
- Sudah ada yang mengetik, Pak.

+ Saya perlu untuk membuat pidato saya.
- Sudah ada yang membuat, Pak.

+ Bagaimana sih, masa saya harus
membaca pidato buatan orang.

Daoed Joesoef pintar menulis dan punya banyak pengalaman menarik. Percakapan di atas terjadi suatu hari, tahun 1978, saat ia pertama kali meninggalkan dunia akademis, masuk ke dunia birokrasi. Jadi Menteri Pendidikan dan Kebudayaan, ya menteri yang menulis naskah pidatonya sendiri.

Tiga dekade lebih, di rumahnya di kawasan Bangka, Jakarta, ia mengemukakan salah satu kesannya terhadap dunia yang satu itu. ”Saya senang memakai baju safari, ya karena banyak kantong untuk menaruh catatan itu,” kata Daoed, dua pekan lalu.

Daoed, yang menghabiskan banyak waktunya untuk merekam dan mencatat kejadian di sekelilingnya itu, kini tidak muda lagi. Usianya 80 tahun. Dan bulan ini, catatan-catatannya diterbitkan dalam sebuah buku yang tebalnya hampir seribu halaman, Dia dan Aku: Memoar Pencari Kebenaran. Buku yang ia kerjakan dalam dua tahun setelah pensiun dari CSIS (Center for Strategic and International Studies)— Daoed menjadi Ketua Dewan Direktur, 1972-1998. Ia mengaku ada lima map catatan yang sekarang tak ditemukan, hilang saat ia membangun rumahnya.

Dia dan Aku berisi catatan-catatan tentang apa saja. Tentang hal-hal penting yang hendak ia sampaikan dalam kunjungan kerja, tentang pelbagai konsep pembangunan ekonomi yang juga menjadi minatnya, tentang kenangannya bertemu dengan Bung Hatta yang ia sebut ”pahlawanku”, hingga tentang kenangannya pada Emak yang telah mendorongnya untuk menulis.

Emak, begitu Daoed memanggil ibunya, adalah orang pertama yang berjasa menumbuhkan minatnya pada dunia menulis. Di kampung halamannya di Medan, Sumatera Utara, Emak menekankan bahwa menulis sesuai dengan wahyu pertama yang diturunkan kepada Nabi Muhammad.

Semangat untuk menulis juga ia dapatkan dari pamannya, Sulaiman. Sang paman, yang sempat diasingkan Belanda ke Digul, Papua, itu menyuruh Daoed belajar mengetik sepuluh jari sehingga ia bisa menulis lebih cepat dan rapi. Pada 1936, ia pun telah mengantongi sertifikat setelah mengikuti kursus mengetik sepuluh jari di Medan.

Dia dan Aku juga bercerita tentang Nek Darinah, janda asal Brebes yang merantau ke Aceh. Dari sang nenek, ia mendapat pelajaran sejarah. ”Sejarah itu lebih banyak ditentukan oleh sebagian besar orang kecil dan sedikit ditentukan oleh orang besar.” Ia mencontohkan soal sistem tanam paksa dan kerja rodi yang diberlakukan penjajah Belanda selama masa Gubernur Jenderal Van den Bosch. Karena keringat orang-orang kecil itulah, ekspor gula dari Jawa mendominasi pasar dunia dan Belanda kecipratan manisnya.

Yang paling menarik dari buku ini adalah bab ”Pak Harto dan Aku”. Daoed sangat kagum, ia menggambarkan bosnya ”bukan politikus yang biasa lempar batu sembunyi tangan”. Untuk itu, ia mengutip Bung Hatta ketika makan siang bersama Akbar Djoehana, kemenakan Sutan Syahrir, di sebuah restoran kecil di pinggiran Kota Paris, 1965. Setelah Nasution berkali-kali menolak, demikian Hatta, akhirnya Soeharto yang maju. Ia menerima permintaan MPRS, menjadi presiden.

”Di saat semua orang merunduk, menyingkir, tutup telinga terhadap panggilan tanggung jawab, Pak Harto tetap berdiri teguh,” tulis Daoed. Dari situlah, ia tak kuasa menolak pinangan Soeharto untuk menjadi menteri.

Daoed mempertahankan kebijakannya selagi menjabat menteri. Termasuk saat ia menghapus libur sebulan penuh selama Ramadan—keputusan yang membuat ia didemo Majelis Ulama Indonesia, sosok yang dilukiskannya ”para mualim yang memonopoli tafsir”.

Daoed menyadari proses ini semua akan berujung kepada Tuhan. Bab terakhir bukunya , ”Tuhan dan Aku”, mencoba mengurai hubungan manusia dengan Tuhan yang bersifat pribadi. Pada hati nuranilah, ada suara Tuhan. ”Karena itu, saya berani membantah nalar saya, tapi tidak berani membantah nurani saya,” kata Daoed.

Buku ini kaya dengan deskripsi detail, tapi kurang memerinci hubungan personal antara penulis dan narasumber. Kebosanan kadang hinggap lantaran penulis lebih berkutat pada konsep pemikirannya.

Setelah Emak (2003) dan Borobudur (2004), buku ini semakin memantapkan Daoed sebagai penulis. Ia pun bertekad terus menulis hingga akhir hayat. Kakek dua orang cucu ini selalu ingat perkataan dosennya di Universitas Indonesia, Profesor Djokosutono: ”Ilmu pengetahuan adalah cara berpikir sistematis melalui menulis.”

Faisal Assegaf

20 Tahun David Letterman Show

Februari 3, 2007

Ini posting ketiga hari ini…he..he. Bukan apa-apa, seminggu kemarin relatif tidak sempat update blog. Sekarang hari Sabtu, libur kerja di perpustakaan dan libur kuliah. Kami tidak kemana-mana hari ini. Dingin sekali, sejak beberapa hari lalu ada weather advisory, di koran mahasiswa kampus dan juga televisi. Disarankan tinggal dirumah saja weekend ini. Di luar sana dingin, minus 19 celcius hari ini dan besok mungkin lebih (buat orang Amerika yang lama tinggal di midwest area, ya masih tahan. Cuma kita kan orang Melayu, mendingan ikut weather advisory saja, tinggal di rumah…he..he). Jadilah saya meng-update blog lagi. Lagi istirahat dari membaca bahan kuliah juga, i had enough for today.

Ini soal acara televisi. Semalam saya nonton salah satu talkshow favorit saya, Late Show with David Letterman, di saluran CBS. Saya pertama kali nonton David Letterman waktu kuliah di Australia dulu. Sejak itu saya (juga istri saya) hampir tidak pernah melewatkannya. Lucu dan bernas (banyak orang lebih suka Jay Leno, tapi entah kenapa saya lebih suka David Letterman).

Tadi malam adalah edisi ulang tahun talkshow ini. Perayaan 20 tahun Late Show with David Letterman. Tamunya adalah Bill Murray, aktor komedian itu. Rupanya, ketika show pertama David Letterman 20 tahun lalu, Bill Murray adalah tamu pertamanya. Mereka berdua, David Letterman dan Bill Murray, tampak seperti teman akrab. Kelihataan ada semacam keharuan juga dari keduanya. Mungkin sama-sama terharu menyadari bahwa mereka bisa bertahan 20 tahun lamanya, dan tetap populer. Tapi show semalam tetap lucu, tidak pakai cerita sedih…he..he

Saya sempat berpikir juga, mengapa tidak ada program televisi di Indonesia yang bisa bertahan demikian lama, sampai 20 tahun? Apalagi program talkshow. Salah satu alasannya, mungkin, karena program talkshow kita di Indonesia terlanjur diidentikkan dengan talkshow soal politik. Tamunya ya para intelektual, yang kemudian banyak menjadi selebriti, tapi nggak pernah menulis lagi karya ilmiah apalagi buku…he..he. Atau para politisi, acara talkshow jadi lebih mirip kampanye politik dengan pernyataan-pernyataan standar.

Karena lebih banyak soal politik, ya jelas nggak lama bertahan. Kalau gonjang-ganjing politik lewat, ya acaranya tidak lagi diminati. Atau jangan-jangan pihak televisi ikut menyumbang pada kekisruhan politik supaya acara talkshow nya laku dijual? Nah lo…

Mestinya insan kreatif pertelevisian bisa bikin program mengenai human interests, nggak melulu soal politik.

Ada sebab lain mengapa program talkshow tidak bisa bertahan lama di Indonesia. Mungkin karena kita ini memang tidak bisa lugas dan jernih menyampaikan pendapat dalam persoalan yang kita hadapi sehari-hari. Makanya talkshow lebih sering menjadi membosankan, tidak menghibur. Host-nya kelabakan mengarahkan pertanyaan yang cerdas dan menghibur, tamu-nya memiliki keterbatasan kosa kata. Jadilah membosankan.

Sebetulnya ada juga talkshow di Indonesia yang saya sukai. Dulu pernah ada talkshow di RCTI yang di host oleh Ebet Kadarusman. Saya rajin nonton acara Ebet yang relaxing itu. Tapi acara itu juga lalu menghilang. Padahal menurut saya talkshow Ebet Kadarusman Show itu cerdas dan menghibur. Dia mengundang tamu dengan topik human interests, tidak melulu soal politik. Sayang tidak bertahan lama.

Saya suka juga Wimar Witoelar. Lupa di RCTI atau SCTV. Acara Perspektif. Acara itu juga nggak lama, ‘dibreidel’. Sekarang kabarnya Wimar Witoelar punya show lagi, tapi saya belum pernah menontonnya.

Saya rasa ini tantangan buat dunia pertelevisian kita. Membuat acara yang bisa meng-absorb refleksi pemikiran masyarakat secara cerdas dan menghibur. Daripada kebanyakan sinetron dan program hantu-hantuan.