Satu semester sudah berlalu lagi, sekarang winter break. Santai sedikit tiga minggu ke depan. Tiga minggu terakhir brutal, ujian-ujian dan juga paper-paper masuk due date semua. Sekarang bisa baca-baca artikel yang saya mau, bukan yang ‘dipaksa’ baca oleh dosen-dosen…☺
Pucuk dicinta ulam tiba. Jurnal American Political Science Review (APSR) edisi terbaru datang tadi sore. APSR adalah jurnal bidang political science paling utama di Amerika Serikat. Jurnal ini diterbitkan oleh American Political Science Association (APSA). Untuk jadi anggota APSA mudah saja, student seperti saya membayar iuran 39 dolar per tahun. Dengan iuran itu, anggota mendapat tiga jurnal gratis termasuk APSR, juga akses dan kemudahaan untuk ikut berbagai konferensi.
Edisi kali ini adalah edisi khusus merayakan 100 tahun terbitnya APSR. Artikelnya bagus-bagus, topik keseluruhannya adalah mengenai evolusi political science di Amerika Serikat, termasuk evolusi pendirian APSA. Juga state-of-the-art dari berbagai pendekatan dalam ilmu politik di Amerika.
Saya rasa kemajuan ilmu politik di Amerika bukan melulu persoalan ada banyak uang. Tetapi memang tradisi intelektualnya kukuh dan panjang. Juga diperkuat oleh komitmen meneliti dan berorganisasi yang seimbang. Lalu ada juga semangat kolegialisme untuk memikirkan kemajuan ilmu politik bersama-sama. Tradisi penghormatan pada political scientists terdahulu juga kuat, maka kajian lama tidak pernah usang karena dia diinterpretasi ulang dan di uji kembali. Sehingga ilmu politik Amerika Serikat saat ini betul-betul berfondasi pada temuan sebelumnya, sehingga ia tidak ahistoris.
Bukan cuma secara profesional, hubungan antara senior dan junior political scientist amat hangat secara personal. Yang tua tidak gila hormat, yang muda tahu diri. Balance. Waktu badai salju kemarin, ada kisah yang indah. Badai itu luar biasa, orang harus bekerja keras membersihkan salju yang menimbun mobil, jalan, serta halaman. Saya harus menyekop salju yang menimbun mobil hampir satu jam lamanya. Padahal itu cuma salju yang menimbun mobil saya, karena saya tidak punya halaman, apalagi garasi. Parkir di tempat parkir umum.
Bayangkan orang yang memiliki rumah, garasi, dan pekarangan, pasti melelahkan sekali. Seorang professor ahli Thailand di kampus saya menghabiskan waktu berjam-jam membersihkan salju yang menimbun garasi, agar mobilnya bisa keluar masuk. Dia juga membersihkan trotoar di depan rumahnya agar pejalan kaki bisa lewat.
Setelah selesai dengan rumahnya, dia pergi ke rumah seorang professor yang sudah pensiun, yang dianggap sebagai salah satu pendiri Thai studies di Amerika. Profesor yang sudah pensiun ini hampir 80 tahun usianya, dan tinggal sendirian. Si professor muda ingat pada seniornya, lantas dengan sukarela dia ke rumah seniornya itu untuk membersihkan salju di rumahnya. Habis lagi waktunya beberapa jam untuk itu. Di banyak kampus di Indonesia, dosen-dosen kita sibuk berkelahi sendiri, berebut proyek dan jabatan. Kegiatan belajar mengajar terganggu, mahasiswa jadi korban.
Kelemahan kita di Indonesia ada beberapa hal. Pertama, semangat kolegial dan kemampuan berorganisasi sangat lemah. Akibatnya, walaupun kita punya asosiasi keilmuan seperti Asosiasi Ilmu Politik Indonesia (AIPI), ia tidak terlalu berkembang dan tidak ‘dimiliki’ oleh insan ilmu politik, baik dosen ataupun mahasiswa di seluruh Indonesia. Sebelumnya saya pernah tulis soal semangat kolegial dan organisasi ilmu politik di blog ini. Silahkan klik di sini
Kedua, memang tantangan membangun tradisi intelektual di Indonesia besar sekali. Sulit membuat insan ilmu politik untuk komit pada dunia penelitian dan pengajaran. Alasan-alasannya bisa dimaklumi. Pada dasarnya bermuara pada tidak adanya ‘insentif’ yang memadai. Tapi semestinya itu tidak menghalangi tumbuh berkembangnya ilmu politik. Filipina yang relatif sama saja keadaan ekonominya dengan kita, punya Philippine Association of Political Science yang aktif sekali. Saya punya beberapa teman di University of Philippine yang aktif mengelola asosiasi itu dan juga jurnal-nya. Mereka masih muda-muda.
Karena lemahnya semangat kolegial dan organisasi, ilmu politik kita tidak mampu mengembangkan diri menjadi ilmu yang multi-disipliner. Setiap cabang dalam ilmu politik kita (ilmu hubungan internasional, ilmu pemerintahan/politik, administrasi publik) berjalan sendiri-sendiri.
Ketiga, mungkin kita lebih banyak menjadi receiving-end dari perkembangan ilmu politik khususnya, dan ilmu sosial pada umumnya. Lebih banyak menjadi konsumen, karena itu bila trend paradigmatik bergeser, ramai-ramai ilmuwan kita bergeser juga paradigma nya. Tahun 1990-an, post modernisme menjadi trend. Ramai-ramai orang bicara soal dekonstruksi dan semacamnya. Mahasiswa, intelektual, semua demam post modernisme.
Setiap publikasi baru selalu dianggap sesuatu yang harus di imani, yang lama lalu di anggap kuno dan ketinggalan jaman. Padahal di tempat asalnya, di Barat, karya lama terus diolah dan dikaji oleh para ilmuwan. Plato, Socrates, dan Aristoteles yang hidup ribuan tahun lalu saja tidak habis-habis dibahas. Tiap tahun selalu ada buku baru mengkaji pemikiran mereka. Juga Max Weber, Durkheim, Geertz, Huntington, Almond, Parsons dan lain-lain. Karya baru selalu dibangun di atas karya lama.
Mahasiswa dan sebagian dosen kita ‘genit’. Seorang teman saya, sosiolog kakap dan penulis buku yang hebat, sekali waktu pernah meradang. Dia diminta memberi ceramah pemikiran sosial dasar. Maka dia paparkan karya-karya klasik. Mahasiswa peserta nyeletuk, “itu mah kuno mas…..” Padahal, ketika dia tanya betul pemahaman mahasiswa itu soal karya klasik yang disebut kuno itu, nol besar. Dia tanya lagi tentang pemikiran sosial yang ‘modern’, nol besar juga.
Kita sering merasa kalau sudah baca sekilas, berarti sudah paham. Lebih parah lagi, banyak yang merasa kalau sudah tahu judulnya dan pernah lihat bukunya, berarti tahu keseluruhan isi bukunya…he..he.
Begitulah. Memang jalannya panjang sekali untuk memperkuat tradisi intelektual kita. Mungkin masalah ini tidak cuma dihadapi oleh ilmu politik, tapi juga bidang-bidang ilmu sosial lain di Indonesia.