Kajian Budaya Politik

Kuliah comparative politics theory minggu ini menarik. Soal political culture. Dalam bidang comparative politics, kajian budaya politik memang sempat tertinggal. Padahal, di masa jaya bidang studi comparative politics tahun 1950-an dan 1960-an, penekanan kajiannya lebih banyak pada budaya politik. Agaknya karena di masa-masa itu kajian comparative politics amat di dominasi paradigma modernisasi, dimana persoalan budaya politik dianggap merupakan bagian inheren dari proyek modernisasi.

Kajian budaya politik kemudian ditinggalkan karena beberapa sebab. Sebab pertama, konsep budaya politik terlalu abstrak alias vague. Persoalan yang ditimbulkan dari abstraknya konsep budaya politik ini antara lain adalah persoalan menentukan unit analisa. Atribut budaya politik harus diasosiasikan pada level mana: kultur individu, kelompok atau negara? Jika pada level individu, apakah dia bisa digeneralisasi? Kalau pada level negara, apakah dia mencerminkan individu? Bila diletakkan dalam konteks kelompok (etnis atau relijius misalnya), bagaimana menjelaskan variasi kultur kelompok yang satu dengan yang lainnya? Persoalan kedua yang ditimbulkan karena terlalu abstrak adalah variabel budaya sering diperlakukan sebagai variabel residu. Artinya, variabel kultur menjadi the last resort, kalau variabel lain tidak mampu menjelaskan sebuah fenomena. Alias, kalau sudah mentok dan otak sudah malas berpikir, tinggal bilang: “yah emang udah budayanya begitu”…he..he.

Sebab kedua ia ditinggalkan adalah bahwa politik selalu dikaitkan dengan political correctness. Artinya, budaya politik cenderung dijadikan alat untuk menyalahkan keadaan. Misalnya, bila sebuah masyarakat gagal membangun demokrasi, maka budaya dijadikan kambing hitam latar belakang gagalnya demokrasi itu.

Sejak tahun 1990-an, kajian budaya politik kembali mendapat perhatian dari para comparativists. Ada beberapa penyebabnya, diantaranya adalah mulai tersedianya data set global mengenai budaya, seperti data dari World Value Survey. Tersedianya data set ini memungkinkan budaya politik dikaji secara lebih saintifik dengan dukungan data empirik. Sehingga, kajian budaya politik tidak lagi menjadi kajian yang vague dan abstrak.

Sebab lain berkembangnya kajian budaya politik adalah munculnya karya-karya akademis yang solid dan lebih kaya mengenai budaya. Ada dua ilmuwan yang sering disebut dalam hal ini. Pertama adalah Robert Putnam dengan bukunya Making Democracy Work (1993). Selama satu dekade Putnam melakukan penelitian, ia membandingkan Italia bagian utara dan selatan dan dia sampai pada kesimpulan bahwa Italia sebelah utara lebih makmur dan demokratis karena densitas network dan asosiasi kemasyarakatan di sana jauh lebih tinggi daripada Italia wilayah selatan. Penyebabnya adalah trust antara anggota masyarakat di Italia sebelah utara jauh lebih tinggi.

Selanjutnya, trust menjadi social capital yang membentuk basis bagi civil society. Sementara di Italia selatan, berkembang apa yang disebut oleh Banfield sebagai amoral familial , dimana orang hanya mempercayai anggota keluarganya. Keadaan semacam ini menjadi lahan amat subur untuk nepotisme dan terbentuknya masyarakat yang tertutup.

Ilmuwan politik kedua adalah Ronald Inglehart yang melakukan banyak kajian mengenai budaya politik dengan data empirik, antara lain dengan menggunakan dataset dari World Value Survey itu. Ada artikel Ingelhart yang seru, judulnya Trust, Well-being and Democracy. Walaupun ada beberapa kritik untuk tulisan itu, tetapi artikel ini cukup memprovokasi pikiran.

Salah satu temuan Inglehart adalah mengenai tingkat interpersonal trust yang dihubungkan dengan tradisi agama dan budaya serta tingkat pembangunan ekonomi. Ingelhart menggunakan data World Value Survey dan juga data World Bank (Purchasing Power Parity Estimates). Pertanyaan dalam World Value Survey itu kira-kira adalah: “apakah menurut Anda orang lain bisa dipercaya?”

Hasilnya: level interpersonal trust tertinggi ditemukan di negara-negara dengan tradisi Protestan (tertinggi adalah Norwegia, kurang lebih 65 persen responden di sana menyatakan bahwa orang lain bisa dipercaya). Level interpersonal trust yang tinggi juga ditemukan di negara dengan tradisi Confusian (yakni tertinggi Cina dengan 50 persen lebih, Jepang, lalu Taiwan, dan Korea Selatan). India, yang bisa dikategorikan sebagai negara miskin, juga memiliki level of trust yang tinggi, hampir 40 persen, lebih tinggi dari Korea Selatan.

Masyarakat Islam membukukan catatan rendah dalam hal trust kepada orang lain ini. Kurang lebih 20 persen saja dari responden di beberapa negara bertradisi Islam (seperti Bangladesh dan Azerbaijan) yang menyatakan bisa mempercayai orang lain.

Saya jadi ingat sebuah tulisan Reinald Khasali, pakar manajemen UI itu. Dalam sebuah emailnya yang beredar luas di internet dia menceritakan pengamatannya bahwa level personal trust orang Indonesia amat rendah. Contoh sederhana mengenai rendahnya level of trust yang dia berikan adalah bahwa di Indonesia, sejak kecil kita diajarkan untuk membuat tanda tangan yang susah, agar tidak mudah dipalsukan orang lain. Padahal di negara maju seperti Amerika, kata Reinald Khasali, justru tanda tangan itu seharusnya bisa dibaca dan dikenali.

Studi Inglehart juga menemukan bahwa masyarakat bertradisi Katolik juga memiliki level trust yang rendah. Terendah adalah Brazil dengan hanya 3 persen saja responden di sana yang menyatakan bisa mempercayai orang lain. Gap-nya sungguh besar bila dibandingkan dengan Norwegia yang 65 persen itu. Masyarakat Katolik di beberapa negara lain (Perancis, Austria, Portugal, Italia, Belgia misalnya), berada di kisaran 20 hingga 30 persen. Masyarakat Filipina dan Peru yang bertradisi Katolik juga rendah tingkat kepercayaannya pada orang lain: kurang dari 10 persen yang menyatakan percaya pada orang lain.
Mengapa masyarakat Katolik memiliki tingkat kepercayaan pada orang lain yang rendah dibandingkan dengan Protestan? (Inglehart tidak memberi penjelasan apa-apa mengenai masyarakat Islam). Menurutnya, hal itu merefleksikan prinsip bahwa organisasi horizontal dan terdesentralisasi seperti gereja Protestan lebih kondusif dibandingkan dengan organisasi hierarkis yang remote (pusat gereja Katolik di Roma tentu jauh dari Brazil misalnya). Gereja Protestan lebih kecil, terdesentralisasi dan lebih terbuka untuk dikontrol oleh masyarakat lokal. Karena itu, secara natural, gereja Protestan lebih mendorong partisipasi masyarakat di tempatnya berada. Tampaknya kesimpulan Inglehart ini konsisten dengan pengamatan Max Weber yang klasik mengenai etika Protestant yang mendorong tumbuh berkembangnya kapitalisme.

Banyak sekali hal menarik dari tulisan Inglehart ini. Walaupun ada beberapa substansi ataupun metodologi dari studi Inglehart ini yang bisa diperdebatkan (misalnya, dia tidak menjelaskan peran budaya politik dalam konteks masyarakat yang sedang menjalani proses transisi menuju demokrasi) tapi Inglehart dengan konsisten menunjukan bahwa budaya politik bisa dikaji dengan data-data empirik. Karena itu, studi budaya politik kembali menarik. Mungkin relevan juga untuk kembali dikembangkan dalam studi politik Indonesia. Karena sebelumnya banyak karya besar klasik dunia mengenai budaya atau nasionalisme misalnya, merupakan hasil kajian mengenai Indonesia. Seperti studi yang dibuat oleh antropolog ternama Clifford Geertz, Bennedict Anderson mengenai Imagined Communities, atau ilmuwan politik terkenal Arendt Lijphart yang pernah mengkaji Papua.

About these ads

23 Tanggapan to “Kajian Budaya Politik”

  1. missdayeuh Says:

    masalah hubungan antara agama – budaya – interpersonal trust dan ekonomi sangat menarik. gue rasa soal tradisi protestan itu ada hubungannya dengan fakta historikal bahwa protestan itu sendiri tadinya adalah gerakan anti pemusatan kekuasaan (gereja=Paus), jadi secara alamiah protestan berkembang dengan resistance yg cukup besar terhadap sistem yg vertikal dan terpusat.

    beberapa tahun lalu aku pernah juga mengamati data2 Transparency International. Jelas negara2 yg bertradisi Lutheran (masynya tidak religious, sudah sangat sekuler, tapi tradisi protestanisme sudah mengakar dalam sistem masyarakat) adalah negara2 yg paling bersih — negara2 Nordic. Itali dan Yunani, yg bertradisi Katolik, termasuk negara2 terkorup di Eropa Barat… dan tentunya kita tahu Indonesia ada di mana….

  2. Radianti Says:

    Saya alumni HI yang saat ini sedang sekolah di Norwegia. Menarik juga pendapat tentang interpersonal trust yang tinggi di Norwegia. Selama tinggal disini, saya tidak sempat mengkaitkan persoalan rasa aman dan rasa percaya yang tinggi yang saya rasakan disini dengan budaya protestan. Tapi mungkin itu betul. Suatu ketika kamera digital saya hilang. Saya baru sadar seminggu kemudian; dan terpaksa mengingat-ingat ke toko mana saja saya masuk. Saya tanya satu persatu. Dan sampailah saya ke salah satu toko….yang ternyata menyimpan dengan utuh kamera saya.
    Lalu, sebagai mahasiswa PhD, kami memiliki kunci yang bisa mengakses seluruh ruangan di universitas. Kunci yang sama bisa dipakai membuka semua ruangan prof (kalau mau)… Selama saya disini, tidak terdengar ada kejadian kemalingan. Ruangan di depan ruang saya, khusus peralatan mahal audio visual..kalau mau saya bisa buka ruangan itu. Tidak ada yang tertarik melakukan hal hal negatif. Padahal mahasiwa dari Jerman yang berkunjung ke tempat kami, terheran heran: “Oh kalau di Jerman pasti sudah banyak barang yang hilang.” Suatu ketika saya melihat mobil Audi yang masih sangat ‘gress’ mesinnya hidup, pintunya terbuka dan kuncinya di dalam. Terparkir begitu saja di jalan yang sepi. Saya terheran heran, tidak ada yang berniat mengambilnya…Masih banyak hal hal sehari hari yang amazing. Tapi lebih menarik lagi kuliah budaya politik itu yang mengaitkan perilaku interpersonal trust yang tinggi dengan budaya protestan!Meski saya tidak tahu kalau di Oslo, yang mungkin akan setara dengan ibukota negara negara di Eropa yang relatif lebih ‘multikultur’ dan tingkat keamanannya akan berbeda….

  3. Arya Says:

    Dalam hubungannya dengan trust, studi Bob Putnam ini menarik sekaligus mengkhawatirkan. Jika studi ini benar, maka mungkin di Oslo tingkat rasa percaya itu akan lebih rendah.

  4. philips vermonte Says:

    Mer, alias Missdayeuh, you’re right. Memang menarik sekali studi political culture ini. I thought this approach has already dead. Ternyata enggak juga.

    Mbak Radianti, thanks insight dari Norwegia-nya.

    Bung Arya, seru juga kutipan studi Putnam di Financial Times. Memang studi Inglehart itu bisa juga dibaca bahwa ia lebih relevan di masyarakat yang relatif ethnically homogenous. Ada pertanyaan juga terhadap studi Inglehart ini, apakah trust itu sesuatu yang given, ataukah ia berubah overtime, kalau berubah seberapa cepat dan lain-lain. Karena dari data yang dia perlihatkan, Amerika adalah negara yang mengalami penurunan dalam soal trust ini sejak awal 1990-an dan ini menjadi puzzle juga bagi para pengkaji ilmu politik.

    Pendapat Bob Putnam yang ente kasih link-nya itu adalah salah satu penjelasan atas menurunnya trust itu, bahwa komposisi etnik yang membentuk Amerika berubah pesat juga dalam 20 tahun terakhir. Tapi penjelasan ini memang mengundang banyak perdebatan.

    Putnam mungkin berangkat juga dari kritik terhadap bukunya sebelumnya, Making Democracy Work tentang Italia itu. Salah satu kritiknya adalah terlalu panjang melihat sejarah Italia kebelakang, seolah-seolah trust itu sesuatu yang given, atau minimal lambat sekali berubah.

  5. Irman Lanti Says:

    Philip,

    Menarik sekali tulisannya tentang budaya politik, terutama karena saya pernah menseriusinya ketika menulis tugas akhir beberapa tahun lalu. Namun saya kurang sepakat soal Inglehart dapat memperbaharui minat mengkaji budaya politik. If anything, tulisannya dapat mendistorsi “budaya” dalam budaya politik.

    Inglehart memperlakukan budaya sebagai aspek residual dalam mengkaji fenomena, artinya budaya baru berarti kalau penjelasan dari aspek-aspek struktural sudah tidak memuaskan.

    Kuantifikasinya pun bermasalah dan seperti dikatakan oleh beberapa pengkritiknya, ia bertubrukan langsung dengan nuansa “budaya” sebagai sesuatu yang tak terkuantifikasi.

    Apakah Philip sekarang sudah jadi behavioralis?

    Salam,
    Irman

  6. philips vermonte Says:

    apa kabar K’ Irman? thanks sudah mampir. Inglehart memang dikritik dalam metodologinya (antara lain karena preferensi individual di generalisasi menjadi sesuatu yang ‘nasional’ sifatnya).

    Soal distorsi konsep ‘budaya’, ya betul juga. Karena dalam konsepsi Inglehart itu ‘budaya’ mungkin tidak selalu sama dengan yang dimaksud oleh antropolog. Dia lebih cenderung memahami budaya sebagai ‘sistem preferensi dari institutionalized behavior’. Ya jelas dia dikritik banyak orang. Salah satunya, dianggap ‘mendistorsi’ konsep ‘budaya’ dalam budaya politik itu.

    Tapi, karena kritik-kritik itu, banyak juga muncul kajian lain, dan ini menarik. Kajian political culture kembali marak jadinya. Mungkin ini sebetulnya yang saya maksud.

    Soal menjadi behavioralis, wah belum tahu juga..he..he

  7. fithufail Says:

    Sekedar catatan, di kalangan antropolog, sejak pertengahan 1990an studi “political culture” ini sudah dianggap nggak valid lagi.. Sederhana aja, pandangan yang mengganggap kebudayaan sebagai satu unit, punya esensi, dan mempengaruhi perilaku, sudah tak bisa diterima lagi. Antropolog sekarang lebih suka melihat “cultural politics”, politik kebudayaan.
    Kritik awal tentang political culture and konsep kebudayaan monolitik seperti itu bisa dilihat di bukunya Renato Rosaldo, “Culture and Truth”.

  8. bricolage Says:

    mas fadjar,
    you’re definitely right. but i guess some people are just trying to take culture seriously despite their differing understanding of what contitutues “culture”. hey…maybe this is the meeting (negotiated) point between positivism and post-modernist approaches….:)

  9. philips vermonte Says:

    thanks bung fadjar dan bung sulfikar

    well, I agree with bung sulfikar. This could be a point where positivism and non-positivist approaches meet. Perhaps this ‘new’ interest in political culture is similar to Max Weber’s famous Sozialokonomic that attempted to bridge the great divide between economics and other social sciences earlier in this century…

  10. fithufail Says:

    Aso.. sebenarnya bukan perbedaan antara “positivism” versus “postmodernism”, tapi antara system-oriented cultural theory dengan practice-oriented cultural theory.. Pendekatan budaya politik, apapun variannya, selalu berangkat dari asumsi budaya sebagai sebuah sistem yg menentukan perilaku, sementara critical theorists mengatakan bahwa budaya dibentuk dari perilaku/practice…

    Max Weber selalu bekerja dengan tipologi ideal, sosiologi dia sociology of the ideal types, karena itu pendekatan Weberian masih bisa dipakai untuk kajian budaya politik, contoh yg paling bagus memang Geertz, terutama the older Geertz..

    Bagi antropolog pasca Geertz “tua”, budaya bukan determining factor, ia adalah constituted factor yg mengikuti perilaku.. agak seperti pandangan yg pernah dikemukakan oleh Marx muda, Marx yg masih humanis..

  11. burhanuddin saputu Says:

    terimaksih atas tulisan bagus ini. saya sedang membangun teori mengenai budaya politik indonesia. dapatkah bpk memberikan masukan untuk kepentingan bangunan itu?

  12. Prasetya Says:

    Menurut saya,bangsa indonesia belum punya karakter budaya politik yang baik

  13. ajeng rizqi Says:

    salam…
    saya sangat tertarik dengan budaya politik. saya sedang mencari banyak tentang budaya politik negara-negara maju dan berkembang. Saya mempunyai kesulitan dalam menganalisis budaya di Arab Saudi. Salah satu ukuran suatu budaya politik bisa dilihat lewat pemilihan umun, tetapi di negara monarchy seperti arab saudi kita jarang sekali menemukannya. Selain itu di arab saudi, ormas atau kelompok kepentingan dilarang di dirikan. Jika ada yang memiliki informasi tentang budaya politik arab saudi saya mohon tolong email ke marvels_1988@plasa.com. saya sangat membutuhkannya. terimasih.

  14. philips vermonte Says:

    Mbak ajeng, kajian budaya politik mungkin bisa juga dikaji di level personal alias faktor idiosinkratik dari pemimpin. Mungkin untuk negara monarki dan atau otoritarian, kajian melalu perspektif individual bisa juga dilakukan

  15. febry amalia Says:

    Saya sangat tertarik dengan masalah ini tapi saya hanya pengen tahu penyebab munculnya budaya politik itu apa.

  16. Moira Says:

    benar juga setelah saya baca….personal trust di Indonesia memang sangat kurang
    tapi menusrut pemahaman saya terlalu percaya kepada orang lain pun kurang baik juga,karena bisa2 kita ditipu….mungkin saya masih kurang berilmu,saya akan belajar lebih banyak lagi tentang budaya politik…thanx..

  17. novianto Says:

    menurut saya,budaya politik di indonesia itu g jelas!!!
    sebagai negara yang mayoritas penduduknya muslim, JANGAN PERNAH MAU DI PIMPIN PEREMPUAN!!!!
    tetapi juga jangan mengesampingkankan perempuan.

  18. M. HILMAN .F Says:

    Apa yang dimaksud dengan Pengertian budaya politik
    Apa yang dimaksud dengan Pengertian budaya politik menurut para ahli

  19. ratri Says:

    menurut saya budaya politik adalah suatu kata yang membosankan karena adanya budaya politik membuat saya harus menanggung beban yang sangat berat yaitu dapat tugas dari pak yuyus.oh noooo tidak………memang budaya politik itu apa sie?

  20. Afi Says:

    Duh…
    Saya masih bingung sama pengertian budaya politik, saya juga gak bisa pelajaran PKn, tolong saya dong…
    Apa sebenarnya pengertian budaya politik secara umum…

  21. floverxia Says:

    aduch,mch bngung ne tlngin donx jlzain konsep yang ada dlm budaya plitik,q prl bngt ne^^

  22. Pyurity Says:

    Saya hanya ingin tau tanggapan tentang budaya politik itu apa.

  23. cika miranda Says:

    duh…..
    boleh nx yah apA SIH faktor penyebab berkembangnya budaya politik di indonesia?tolong aq dong pliss…….

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s


Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: